BSI Kejar Target Modal Inti Rp 70 triliun Sebelum 2030

5 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menargetkan naik kelas menjadi bank kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Perseroan bahkan menargetkan status tersebut dapat diraih paling lambat pada 2030. Bank yang masuk dalam KBMI 4 adalah bank dengan modal inti lebih dari Rp 70 triliun.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan peningkatan status menjadi KBMI 4 merupakan langkah strategis yang harus dicapai perseroan seiring transformasi BSI sebagai bank syariah nasional.

"Kalau dalam plan kita, dua sampai tiga tahun harusnya kita bisa masuk ke KBMI 4," kata Anggoro dikutip dari Antara, Rabu (1/7/2026).

Menurut Anggoro, saat ini BSI telah resmi berstatus persero sekaligus menjadi bagian dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Namun, dari sisi permodalan, BSI masih berada di kategori KBMI 3.

Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Maret 2026, modal inti atau Tier 1 Capital BSI tercatat sebesar Rp 46,15 triliun, meningkat 6,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, untuk masuk ke kelompok KBMI 4, bank diwajibkan memiliki modal inti di atas Rp 70 triliun. Dengan demikian, BSI masih membutuhkan tambahan modal sekitar Rp 23,85 triliun untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Anggoro menegaskan target tersebut bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan bagian dari strategi memperkuat daya saing BSI di industri perbankan nasional maupun global.

Pertumbuhan Organik Jadi Salah Satu Andalan

Untuk merealisasikan target menjadi bank KBMI 4, BSI masih mengkaji berbagai alternatif penguatan modal. Meski demikian, Anggoro menilai pertumbuhan secara organik tetap menjadi salah satu opsi yang paling memungkinkan.

"Kalau dalam plan kita, dua sampai tiga tahun harusnya kita bisa masuk ke KBMI 4."

Ia menambahkan, target tersebut sejalan dengan ambisi BSI menjadi salah satu dari lima bank syariah terbesar di dunia pada 2030.

Selain memperkuat modal inti, perseroan juga membidik peningkatan porsi saham yang beredar di publik (free float) agar memenuhi ketentuan minimum 15%.

Menurut Anggoro, sejumlah opsi peningkatan free float saat ini masih dibahas bersama Danantara sebagai pemegang saham. Namun, keputusan mengenai mekanisme yang akan ditempuh sepenuhnya berada di tangan pemegang saham.

"Keputusan mengenai skema yang akan dipilih sepenuhnya berada di tangan pemegang saham dan perseroan akan menjalankan keputusan tersebut."

Laba BSI Tumbuh, OJK Dorong Bank Naik Kelas

Secara administratif, BSI resmi berstatus perusahaan persero sejak 23 Januari 2026. Perubahan status tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Desember 2025, yang kemudian memperoleh persetujuan dari Kementerian Hukum dan diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kinerja keuangan BSI juga menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga Mei 2026, perseroan membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp 3,39 triliun, meningkat 16,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, total aset BSI mencapai Rp 444 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 372 triliun, serta pembiayaan mencapai Rp 335 triliun dengan kualitas yang tetap terjaga.

Target BSI menjadi bank KBMI 4 juga sejalan dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong penguatan fundamental industri perbankan nasional melalui peningkatan permodalan.

Saat ini baru terdapat empat bank yang masuk kategori KBMI 4, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Jika target tersebut tercapai, BSI akan menjadi bank syariah pertama yang masuk ke kelompok bank dengan modal inti terbesar di Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |