Top 3: Hasil Kunjungan Trump ke China Bikin Penasaran

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta -  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan Beijing pada Jumat setelah menjalani dua hari pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan kedua pemimpin tersebut membahas berbagai isu strategis mulai dari Iran, Taiwan, perdagangan, minyak, hingga industri penerbangan Boeing.

Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping berlangsung meriah dengan upacara kenegaraan, jamuan makan malam resmi, serta penyambutan yang melibatkan barisan anak muda pengibar bendera.

Dikutip dari CNBC, Jumat, 15 Mei 2026, dalam pertemuan itu, Xi Jinping mengatakan Amerika Serikat dan China sepakat membangun “stabilitas strategis” sebagai kerangka hubungan kedua negara untuk tiga tahun ke depan.

Sementara itu, Trump mengklaim China telah setuju membeli minyak dari Amerika Serikat dan akan memesan 200 pesawat dari Boeing.

Meski demikian, sejumlah analis menilai masih banyak kesepakatan yang membutuhkan proses lanjutan sebelum benar-benar terealisasi.

Peneliti dari American Enterprise Institute, Ryan Fedasiuk, mengatakan hasil utama dari pertemuan tersebut akan bergantung pada kesiapan masing-masing kesepakatan untuk diwujudkan.

“Sejujurnya, masih banyak kesepakatan yang akan dibiarkan matang lebih lanjut sebelum benar-benar terealisasi,” kata Ryan Fedasiuk.

Trump juga mengundang Xi Jinping untuk berkunjung ke Gedung Putih pada 24 September mendatang. Undangan tersebut diumumkan Trump saat jamuan makan malam kenegaraan pada Kamis malam.

Langkah itu menjadi sinyal pembicaraan perdagangan antara kedua negara akan terus berlanjut setelah pertemuan di Beijing.

Artikel Hasil Kunjungan Trump ke China: Kesepakatan Minyak hingga Gencatan Perang Dagang menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com pada Jumat, 15 Mei 2026. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Sabtu, (16/5/2026):

1. Hasil Kunjungan Trump ke China: Kesepakatan Minyak hingga Gencatan Perang Dagang

 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan Beijing pada Jumat setelah menjalani dua hari pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan kedua pemimpin tersebut membahas berbagai isu strategis mulai dari Iran, Taiwan, perdagangan, minyak, hingga industri penerbangan Boeing.

Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping berlangsung meriah dengan upacara kenegaraan, jamuan makan malam resmi, serta penyambutan yang melibatkan barisan anak muda pengibar bendera.

Dikutip dari CNBC, Jumat, 15 Mei 2026, dalam pertemuan itu, Xi Jinping mengatakan Amerika Serikat dan China sepakat membangun “stabilitas strategis” sebagai kerangka hubungan kedua negara untuk tiga tahun ke depan.

Sementara itu, Trump mengklaim China telah setuju membeli minyak dari Amerika Serikat dan akan memesan 200 pesawat dari Boeing.

Meski demikian, sejumlah analis menilai masih banyak kesepakatan yang membutuhkan proses lanjutan sebelum benar-benar terealisasi.

Peneliti dari American Enterprise Institute, Ryan Fedasiuk, mengatakan hasil utama dari pertemuan tersebut akan bergantung pada kesiapan masing-masing kesepakatan untuk diwujudkan.

“Sejujurnya, masih banyak kesepakatan yang akan dibiarkan matang lebih lanjut sebelum benar-benar terealisasi,” kata Ryan Fedasiuk.

Trump juga mengundang Xi Jinping untuk berkunjung ke Gedung Putih pada 24 September mendatang. Undangan tersebut diumumkan Trump saat jamuan makan malam kenegaraan pada Kamis malam.

Langkah itu menjadi sinyal pembicaraan perdagangan antara kedua negara akan terus berlanjut setelah pertemuan di Beijing.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Rupiah Tembus 17.600 per Dolar AS, Analis Ungkap Penyebabnya

Nilai tukar rupiah mencapai 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi geopolitik global di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga data ekonomi AS dinilai menjadi faktornya.

Analis Paaar Uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS. Terutama adanya faktor dari memanasnya perang AS dan Iran.

"Selain gejolak Timteng dan harga minyak yang masih di level tinggi, Ini juga karena data ekonomi AS yang masih bagus sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya tahun ini," kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Dia mengatakan, data penjualan ritel AS menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini menandai perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam.

"Indeks dolar AS sudah menguat 1,18% sejak penutupan Jumat pekan lalu dari 97.84 ke area 90.00 pagi ini," katanya.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Trump dan Xi Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka, Harga Minyak Bertahan di USD 100

Harga minyak bergejolak di sekitar USD 100 pada Kamis, 14 Mei 2026. Gejolak harga minyak itu terjadi setelah Gedung Putih mengatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka.

Mengutip CNBC, Jumat (15/5/2026), harga minyak Brent untuk pengiriman Juli naik 9 sen menjadi USD 105,72 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 9 sen menjadi USD 101,17 per barel.

“Kedua pihak sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi bebas,” ujar seorang pejabat Gedung Putih dalam sebuah pernyataan pada Kamis pekan ini.

“Presiden Xi juga menegaskan penentangan China terhadap militerisasi selat dan upaya apapun untuk mengenakan biaya atas penggunaannya,”

Pejabat Gedung Putih juga menyebutkan kalau Xi Jinping juga mengatakan minat untuk membeli minyak AS. Namun, media pemerintah China tidak menyebutkan ada diskusi tentang Hormuz atau pembelian minyak.

Berita selengkapnya baca di sini

Read Entire Article
Bisnis | Football |