Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Dunia Usaha Was-was

9 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencermati pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Apalagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menerus mencatatkan angka terlemah.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani turut mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini. Tercatat, rupiah sempat menyentuh angka Rp 17.600 dolar AS. Angka ini menjadi yang terlemah sepanjang sejarah.

"Tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low," ujar Shinta saat dikonfirmasi Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Dia menyadari, melemahnya nilai tukar rupiah merupakan faktor kondisi global. Perang AS-Iran yang tak kunjung selesai, kenaikan harga minyak dunia, hingga kondisi ekonomi AS mendorong penguatan dolar AS.

"Kenaikan yield US Treasury yang dipicu oleh kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat, termasuk eskalasi konflik geopolitik, telah mendorong terjadinya global capital reallocation menuju aset dolar AS," tutur dia.

Shinta memandang, kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya arus dana keluar (capital outflow). "Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," paparnya.

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 17.612 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, 15 Mei 2026. Angka ini dinilai menjadi pelemahan rupiah terdalam sepanjang sejarah.

Tren pelemaham rupiah ini terjadi utamanya karena faktor global. Perang antara AS dan Iran yang belum mereda turut menahan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah. Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengamini pelemahan rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.

"Iya bisa dibilang terlemah (sepanjang sejarah)," kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat pekan ini.

Diprediksi Berlanjut

Dia mengatakan, pelemahan rupiah masih bisa terus terjadi imbas sentimen perang di Timur Tengah. Apalagi, jika perang AS-Iran tak kunjung mereda maupun harga minyak dunia yang bertahan di level tinggi. 

"Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan," jelas dia.

Ariston memandang kondisi berpengaruh pada minat investor. "Harusnya bagus ya buat eksportir, barang Indonesia semakin murah, untuk investor pasar ekspor harusnya masih menarik. Tapi untuk investor yang menargetkan pasar Indonesia mungkin akan menahan diri," tutur Ariston.

Bisa Melemah Lagi

Senada, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai Rp 17.612 jadi yang terlemah sepanjang sejarah. Meskipun, dia menprediksi pelemahan rupiah bisa terus terjadi hingga level Rp 18.000 per dolar AS.

"Iya sementara (terlemah). Bakal ke Rp 18.000 (per dolar AS) jalan ini," ucap Ibrahim kepada Liputan6.com.

Dia mengatakan, konflik AS dan Iran diprediksi masih akan berlanjut hingga 2027 mendatang menjadikannya sebagai faktor pelemahan rupiah. Sementara itu, dia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.450-17.800 pada pekan depan.

Bank Indonesia Yakin Rupiah Bakal Stabil dan Menguat

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah menguat dan stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS). BI menilai, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berstatus undervalued atau berada di bawah nilai fundamentalnya.

Demikian disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo setelah rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, (5/5/2026) dikutip dari Antara.

"Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalued, dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," ujar dia.

Perry menuturkan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya sangat kuat untuk menopang nilai tukar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen serta tingkat inflasi yang tetap terjaga rendah.

Indikator penguat lainnya adalah pertumbuhan kredit yang tinggi serta cadangan devisa yang memadai. Perry menegaskan fundamental tersebut menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat di pasar.

Tekanan Jangka Pendek

Namun, Perry tidak menampik tekanan jangka pendek yang menyebabkan mata uang Indonesia melemah.Ia menilai, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi, yakni faktor global dan faktor musiman.

Faktor global yang menekan rupiah antara lain tingginya harga minyak dunia serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Saat ini, yield US Treasury tenor 10 tahun telah menyentuh angka 4,47 persen yang memicu penguatan dolar AS secara luas.

"Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," ucap Perry merujuk pada dampak dari dinamika suku bunga global tersebut.

Selain faktor global, tekanan musiman pada periode April hingga Juni turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri. Kebutuhan valuta asing ini melonjak untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, hingga kebutuhan biaya jemaah haji.

Read Entire Article
Bisnis | Football |