Pengusaha Terbebani Rupiah, Tapi Masih Pikir-pikir Naikkan Harga

7 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mewaspadai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Daya tahan pengusaha mulai tergerus imbas melemahnya nilai tukar tersebut.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang mengamini tekanan tinggi dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.614 per dolar AS.

"Rupiah kini kembali level pelemahan terdalam sepanjang sejarah, mencapai Rp 17.614 per dolar AS melemah 84% setara 0,48%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Pelemahan ini sangat menekan psikologi pelaku usaha dan menjadi alarm yang perlu diwaspadai," ungkap Sarman saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Dia mengatakan, kondisi itu mempengaruhi arus kas perusahaan hingga biaya operasional. Terutama pada beban yang ditimbulkan dari kenaikan biaya impor bahan baku.

"Jika pelemahan ini terus berlanjut maka daya tahan pelaku usaha akan terbatas dan dikawatirkan penyesuaian harga ditingkat konsumen," kata dia.

Hanya saja, jika kenaikan harga produk diambil oleh pengusaha untuk menambal beban biaya produksi, ada konsekuensi yang dihadapi. Termasuk pengaruhnya kepada daya beli masyarakat.

"Jika kenaikan harga produk ini mengalami penyesuaian tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi. Termasuk pelaku usaha UMKM juga akan semakin tertekan karena harga bahan baku, logistik, dan distribusi naik, sementara untuk menaikkan harga penuh resiko takut tidak laku," urai Sarman.

Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah

Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 17.612 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (15/5/2026). Angka ini dinilai menjadi pelemahan rupiah terdalam sepanjang sejarah.

Tren pelemaham rupiah ini terjadi utamanya karena faktor global. Perang antara AS dan Iran yang belum mereda turut menahan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah. Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengamini pelemahan rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.

"Iya bisa dibilang terlemah (sepanjang sejarah)," kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Gejolak Timur Tengah

Dia mengatakan, pelemahan rupiah masih bisa terus terjadi imbas sentimen perang di Timur Tengah. Apalagi, jika perang AS-Iran tak kunjung mereda maupun harga minyak dunia yang bertahan di level tinggi.

"Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan," jelas dia.

Ariston memandang kondisi berpengaruh pada minat investor. "Harusnya bagus ya buat eksportir, barang Indonesia semakin murah, untuk investor pasar ekspor harusnya masih menarik. Tapi untuk investor yang menargetkan pasar Indonesia mungkin akan menahan diri," tutur Ariston.

Bisa Melemah Lagi

Senada, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai Rp 17.612 jadi yang terlemah sepanjang sejarah. Meskipun, dia menprediksi pelemahan rupiah bisa terus terjadi hingga level Rp 18.000 per dolar AS.

"Iya sementara (terlemah). Bakal ke Rp 18.000 (per dolar AS) jalan ini," ucap Ibrahim kepada Liputan6.com.

Dia mengatakan, konflik AS dan Iran diprediksi masih akan berlanjut hingga 2027 mendatang menjadikannya sebagai faktor pelemahan rupiah. Sementara itu, dia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.450-17.800 pada pekan depan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |