Hasil Kunjungan Trump ke China: Kesepakatan Minyak hingga Gencatan Perang Dagang

10 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan Beijing pada Jumat setelah menjalani dua hari pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan kedua pemimpin tersebut membahas berbagai isu strategis mulai dari Iran, Taiwan, perdagangan, minyak, hingga industri penerbangan Boeing.

Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping berlangsung meriah dengan upacara kenegaraan, jamuan makan malam resmi, serta penyambutan yang melibatkan barisan anak muda pengibar bendera.

Dikutip dari CNBC, Jumat (15/5/2026), dalam pertemuan itu, Xi Jinping mengatakan Amerika Serikat dan China sepakat membangun “stabilitas strategis” sebagai kerangka hubungan kedua negara untuk tiga tahun ke depan.

Sementara itu, Trump mengklaim China telah setuju membeli minyak dari Amerika Serikat dan akan memesan 200 pesawat dari Boeing.

Meski demikian, sejumlah analis menilai masih banyak kesepakatan yang membutuhkan proses lanjutan sebelum benar-benar terealisasi.

Peneliti dari American Enterprise Institute, Ryan Fedasiuk, mengatakan hasil utama dari pertemuan tersebut akan bergantung pada kesiapan masing-masing kesepakatan untuk diwujudkan.

“Sejujurnya, masih banyak kesepakatan yang akan dibiarkan matang lebih lanjut sebelum benar-benar terealisasi,” kata Ryan Fedasiuk.

Trump juga mengundang Xi Jinping untuk berkunjung ke Gedung Putih pada 24 September mendatang. Undangan tersebut diumumkan Trump saat jamuan makan malam kenegaraan pada Kamis malam.

Langkah itu menjadi sinyal bahwa pembicaraan perdagangan antara kedua negara akan terus berlanjut setelah pertemuan di Beijing.

Direktur studi politik internasional Chinese Academy of Social Sciences, Hai Zhao, mengatakan perhatian kini tertuju pada rencana kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat pada September nanti.

“Ini pasti akan menjadi kunjungan kenegaraan karena itu adalah hal yang setara. Ini merupakan kunjungan balasan atas lawatan resmi Presiden Trump ke China,” ujar Zhao.

Ia juga menyebut Xi Jinping kemungkinan dapat mengunjungi New York terlebih dahulu sebelum menuju Washington DC.

Berikut ini rangkuman kesepakatan antara Trump dan Xi Jinping:

China Bakal Beli Minyak Amerika Serikat

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa China telah sepakat untuk membeli minyak dari Amerika Serikat di tengah upaya kedua negara mencapai kesepakatan bisnis yang konkret. Kesepakatan ini akan melibatkan pengiriman kapal-kapal China ke wilayah Texas, Louisiana, dan Alaska guna memulai proses ekspor komoditas energi tersebut.

Langkah ini menjadi signifikan mengingat ekspor minyak mentah AS ke China sempat anjlok drastis sebesar 95 persen pada tahun 2025. Sebagai pembeli terbesar minyak Iran, komitmen China untuk beralih ke pasokan AS diharapkan dapat memperbaiki neraca perdagangan energi antara kedua negara yang sempat menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Selain sektor energi, China juga setuju untuk membantu negosiasi terkait konflik Iran serta berkomitmen untuk tidak memasok peralatan militer ke Teheran. Pemimpin China, Xi Jinping, menyampaikan dukungannya agar Selat Hormuz tetap terbuka dan bebas dari hambatan perdagangan guna menjaga stabilitas jalur pelayaran global.

Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi adanya konsensus baru ini sebagai upaya membangun stabilitas strategis dalam hubungan bilateral hingga tiga tahun ke depan. Beijing juga mendesak adanya gencatan senjata yang langgeng di Timur Tengah demi menjamin keamanan pasokan energi dan kelancaran logistik di kawasan Teluk.

Trump Sebut China Bakal Pesan 200 Pesawat Boeing

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa China telah sepakat untuk memesan 200 unit pesawat Boeing. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela kunjungan kenegaraannya ke China pada pertengahan Mei 2026, yang dinilai sebagai langkah besar bagi industri penerbangan Amerika Serikat di pasar Asia.

Meskipun Trump telah mengonfirmasi angka tersebut, sejumlah analis sebelumnya memprediksi jumlah pesanan bisa jauh lebih tinggi. Lembaga riset Jefferies bahkan memperkirakan potensi pesanan dari China dapat mencapai hingga 500 unit pesawat guna memenuhi kebutuhan transportasi udara mereka yang terus berkembang.

Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi Boeing yang sudah hampir satu dekade tidak memenangkan pesanan besar dari China, setelah sebelumnya pasar tersebut didominasi oleh pesaing utamanya, Airbus. CEO Boeing, Kelly Ortberg, yang turut mendampingi Trump, menyebut pertemuan puncak ini sebagai peluang strategis yang sangat berarti bagi pemulihan bisnis perusahaan.

Walaupun rincian jenis pesawat belum diumumkan secara resmi, para analis memperkirakan pesanan tersebut akan mencakup ratusan unit model 737 Max yang merupakan produk terlaris. Hingga saat ini, pihak Boeing maupun Gedung Putih masih menahan komentar lebih lanjut terkait detail teknis dan nilai kontrak dari kesepakatan besar tersebut.

Kelanjutan Gencatan Dagang dan Stabilitas Strategis

Kedua pemimpin sepakat untuk meneruskan gencatan dagang yang sudah ada dan membangun hubungan bilateral yang "stabil secara strategis dan konstruktif" untuk tiga tahun ke depan, meskipun China tetap memberikan peringatan keras agar isu sensitif seperti Taiwan ditangani dengan hati-hati guna menghindari benturan.

Presiden Xi Jinping memberikan peringatan keras kepada Presiden Donald Trump bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara. Xi menegaskan bahwa stabilitas hubungan China-AS sangat bergantung pada bagaimana masalah ini ditangani, karena penanganan yang salah dapat memicu bentrokan hingga konflik besar yang membahayakan kedua belah pihak.

Dalam pertemuan di Great Hall of the People tersebut, Xi mengibaratkan perdamaian di Selat Taiwan dan kemerdekaan Taiwan seperti api dan air yang tidak mungkin bersatu. Ia menekankan bahwa menjaga perdamaian di wilayah tersebut merupakan kepentingan bersama terbesar, namun hal itu mensyaratkan penolakan tegas terhadap segala bentuk upaya kemerdekaan Taiwan.

Xi juga menyoroti perubahan global yang sangat dinamis dan penuh gejolak yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir. Ia menantang kedua negara besar tersebut untuk menciptakan paradigma hubungan baru yang mampu menghindari konflik persaingan klasik, sekaligus bersama-sama menghadapi tantangan global demi kesejahteraan umat manusia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |