Cara Unik Miliarder Ini Mendidik Anak Supaya Tak Silau Kekayaan

8 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder pemilik Berkshire Hathaway, Warren Buffett memiliki cara unik mendidik anaknya. Ia membiarkan ketiga anaknya tidak lulus kuliah dan membebaskan mereka untuk memilih jalan hidupnya. Buffett juga mengajarkan mereka untuk tidak bergantung dengan kekayaan dalam hidup.

Mengutip Yahoo! Finance, Selasa (4/8/2026), Buffett tidak mendorong anak-anaknya ke bidang karier tertentu, pekerjaan bergengsi, maupun gelar sarjana hanya karena ekspektasi orang lain. Namun, dia juga ingin mereka untuk membuat pilihannya masing-masing dibanding bergantung dengan kekayaannya.

Tidak satupun dari anak Buffett yang memiliki gelar sarjana. Anak perempuannya, Susie, jadi yang paling mendekati, dengan sisa tiga kredit sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti. Kedua saudaranya, Howard dan Peter, juga berhenti kuliah sebelum kelulusan.

"Kalau kredit kelas anak-anakku digabung, pasti jadi satu gelar sarjana,” canda Buffett.

Alih-alih menghukum mereka karena tidak mengejar gelar sarjana, Buffett mendukung anak-anaknya untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, suatu cara yang mungkin terdengar tidak cocok dengan statusnya sebagai keluarga miliarder.

Buffett Lebih Mementingkan Tujuan Dibanding Gelar

Susie mengatakan, ingatan paling awal yang dapat diingat tentang ayahnya adalah percakapan tentang peluang, termasuk beberapa opsi karir yang tersedia untuk perempuan masa itu.

"Saya masih ingat dia duduk di meja makan membicarakan tentang sedikitnya pilihan pekerjaan untuk perempuan kala itu: perawat, guru, dan sekretaris,” ujar dia di sebuah wawancara dengan FOX Business.

Dibanding dengan mendikte anaknya tentang karier apa yang harus mereka jalani, Buffett memberi mereka ruang untuk mencari tahu sendiri.

Mencari Pekerjaan yang Berarti

Susie memfokuskan sebagian besar karirnya dalam filantropi, pendidikan, dan membantu anak-anak serta keluarga. Sedangkan, Howard menjadi seorang petani, pejuang konservasi, dan filantropis, dengan fokus dalam pertanian, ketahanan pangan, dan upaya kemanusiaan. Di sisi lain, Peter mendalami karir dalam bidang musik, menjadi komposer dan musisi pemenang Emmy Award sembari berfokus pada filantropi dan isu sosial.

Karier mereka sangat bertolak belakang, tetapi Buffett sudah lama menginginkan anak-anaknya untuk mencari pekerjaan yang berarti bagi mereka, dibanding mengikuti jalan yang diekspektasikan.

Ini berkaitan dengan pertanyaan yang banyak dipertanyakan oleh orang Amerika Serikat. Survey Pew Research Center pada 2024 menemukan bahwa hanya seperempat orang dewasa di AS yang mengatakan gelar sarjana “sangat amat” atau “sangat penting” untuk mendapat pekerjaan dengan penghasilan bagus di ekonomi masa kini.

Buffett tidak pernah mengatakan kuliah adalah pilihan yang buruk. Inti dari pendapatnya adalah gelar sarjana itu satu jalan, bukan satu-satunya jalan.

Pandangan Buffett Mengenai Warisan

Pandangan Buffett mengenai kemandirian tidak berhenti di pendidikan dan karir, namun juga menyangkut pemikirannya tentang pembagian warisan.

Selama bertahun-tahun, mantan CEO Berkshire Hathaway ini mengatakan dia tidak ingin meninggalkan anak-anaknya warisan yang terlalu banyak, meskipun kekayaannya melebihi US$ 100 miliar, atau Rp 1,7 kuadriliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.982). 

Alasannya satu, yakni dia ingin memberikan anak-anaknya warisan cukup agar mereka bisa melakukan apa saja, tapi tidak terlalu banyak hingga mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Filosofi Buffett adalah uang harus menciptakan pilihan, bukan menghilangkan segala tantangan. Dia tidak berpikir anak-anak harus menderita, namun uang baginya tidak boleh menghilangkan kebutuhan untuk bekerja demi diri sendiri atau menciptakan sesuatu yang berarti.

Cara Buffett ini bukan untuk membiarkan anaknya hidup tanpa keamanan finansial, namun memastikan uang tidak menghilangkan alasan untuk bekerja, mengambil risiko, atau membangun sesuatu demi diri mereka sendiri.

Melakukan Kegiatan Amal

Ini juga alasan mengapa dia ingin memberikan 99% dari kekayaannya, dan sebagian besar darinya akan didonasikan untuk kegiatan amal dibanding diwariskan untuk keluarganya.

Anak-anaknya juga telah melakukan kegiatan amal serta mendirikan yayasan, dan Buffett menegaskan bahwa dia tidak percaya warisan besar adalah cara terbaik untuk memastikan generasi selanjutnya akan sukses.

Banyak orangtua yang kini sedang dilema menentukan seberapa besar bantuan finansial yang harus mereka berikan kepada anak-anak mereka yang sudah dewasa. Survey Pew Research Center tahun 2024 mengungkap bahwa 44% individu dewasa awal mengatakan bahwa mereka menerima bantuan dari orang tua mereka tahun sebelumnya, dan pengeluaran rumah tangga menjadi area yang paling banyak dibantu.

Bagi beberapa keluarga, bantuan itu bisa membantu dewasa awal untuk memulai, namun ini juga memantik pertanyaan yang sudah didiskusikan oleh Buffett selama lebih dari satu dekade, yakni: bagaimana cara memberi anak bantuan finansial tanpa menghilangkan kemandiriannya?

Secara keseluruhan, pendekatan Buffett tentang kuliah, karir, dan warisan semuanya mengacu ke satu hal, yakni membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemandirian sama pentingnya dengan memberikan mereka uang dengan cuma-cuma.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |