Rupiah Tembus Rp 17.500, Bahlil Kaji Dampak ke Harga BBM

3 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tengah mengkaji dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap penyesuaian harga BBM. Pembahasan ini dilakukan demi menghitung imbas kurs rupiah yang telah mencapai level Rp 17.500 per dolar AS terhadap subsidi energi.

"Ini kebetulan Pak Menteri (Bahlil) sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya, jadi kita tunggu aja," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Oleh karenanya, Laode belum bisa memastikan apakah pelemahan nilai tukar mata uang garuda bakal turut menyebabkan harga BBM naik pada bulan berikutnya.

"Itu masih kan belum ada info-info lain lagi selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," kata dia.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah makin lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus 17.500 pada Selasa (12/5/2026) kemarin.

Analis menilai, rupiah melemah terhadap dolar AS imbas harapan suku bunga tinggi the Federal Reserve (the Fed) yang lebih lama dan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Rupiah Masih Betah di 17.500, Simak Prediksi Hari Ini 13 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih lesu pada perdagangan Rabu, (13/5/2026) meski pada pembukaan perdagangan menguat. Pergerakan rupiah terhadap dolar AS berpotensi melemah karena risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi global.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 14 poin atau 0,08% menjadi 17.515 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 17.529 per dolar AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp 17.525-Rp 17.575, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak, index dollar dan yield obligasi pemerintah AS akibat risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi,” ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, dikutip dari Antara, Rabu pekan ini.

Mengutip Sputnik, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan secara serius untuk melanjutkan aksi militer di Timur Tengah.

Fox News melaporkan Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan Operation Project Freedom guna memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan peran militer yang diperluas.

Melonggarkan Defisit

Trump semakin frustrasi terhadap sikap Iran dalam negosiasi untuk menyelesaikan konflik, dan kini lebih serius mempertimbangkan dimulainya kembali operasi militer skala besar dibanding beberapa pekan terakhir. Sumber-sumber mengatakan bahwa Trump mulai kehilangan kesabaran karena Selat Hormuz masih ditutup.

Menurut sumber tersebut, kini terdapat beberapa kelompok di dalam pemerintahan AS. Sebagian mendukung pendekatan keras dengan mengusulkan pengeboman terarah secara berkelanjutan terhadap Iran untuk melemahkan posisi Teheran, sementara kelompok lain tetap mendorong cara diplomatik untuk menyelesaikan konflik.

Adapun terkait inflasi, International Monetary Fund (IMF) telah memperkirakan pertumbuhan global pada 2026 akan melambat menjadi 2,5 persen, sementara inflasi meningkat menjadi 5,4 persen, dengan asumsi konflik yang terjadi akan berlangsung panjang.

Melihat sentimen domestik, semakin sempitnya ruang fiskal menciptakan bagi pemerintah untuk memutuskan apakah menurunkan skala prioritas atau melonggarkan defisit lebih dari 3 persen. 

Read Entire Article
Bisnis | Football |