Rupiah Betah di 17.500, Tersengat Sentimen Geopolitik hingga MSCI

22 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah makin lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus 17.500 pada Selasa, (12/5/2026). Analis menilai, rupiah melemah terhadap dolar AS imbas harapan suku bunga tinggi the Federal Reserve (the Fed) yang lebih lama dan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 115 poin atau 0,66% menjadi 17.529 dari penutupan sebelumnya di posisi 17.414 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa ini juga bergerak melemah ke level 17.514 per dolar AS dari sebelumnya 17.415 per dolar AS.

"Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi the Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” ujar Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia dikutip dari Antara.

Pelaku pasar memprediksi Fed Fund Rate (FFR) tak turun sepanjang 2025 di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan 350-375 basis points (bps) dominasi hingga akhir tahun.

Pelaku pasar juga masih menanti arah inflasi Amerika Serikat yang akan menentukan harapan kebijakan moneter the Fed ke depan.

Melihat sentimen domestik, pelemahan rupiah juga dibayani sentimen terkait aliran modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Adapun isu MSCI yang sebelumnya mencermati aspek transparansi dan struktur pasar modal Indonesia, ia menuturkan, turut meningkatkan kehati-hatian investor global terhadap aset domestik.

Kekhawatiran Pelaku Pasar

Selain itu, pasar juga turut mencermati kekhawatiran terkait kapasitas fiskal pemerintah, besarnya kebutuhan subsidi ketika rupiah melemah. Kemudian meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi pada April-Mei.

“Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar dibandingkan mata uang regional lainnya,” kata Tiffani.

Ia mengatakan, dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian Indonesia perlu dicermati terutama pada sisi imported inflation (inflasi impor).

Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, dan barang konsumsi, sehingga dapat mendorong kenaikan harga domestik secara bertahap.

Tekanan dapat pula muncul terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) karena beban subsidi energi dan pembayaran utang valas menjadi lebih besar ketika kurs melemah.

Sisi Positif

Bagi sektor korporasi, terutama yang memiliki kewajiban dolar AS tetapi pendapatan berbasis rupiah, depresiasi rupiah dinilai bisa meningkatkan tekanan terhadap cash flow (arus kas) dan biaya operasional.

Kendati demikian, pelemahan rupiah memberikan sisi positif secara terbatas terhadap sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk ekspor Indonesia.

Bank Indonesia (BI) juga masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik. BI disebut telah menyampaikan komitmen untuk melakukan intervensi berkelanjutan guna menjaga stabilitas rupiah dan memperketat aturan pembelian dolar AS guna meredam spekulasi pasar.

“Secara umum, pasar saat ini melihat pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global dan arus modal jangka pendek. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan arah suku bunga AS belum berubah signifikan, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek,” tutur dia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |