Rupiah Lesu terhadap Dolar AS Jelang Akhir Pekan, Sentuh Level Segini

5 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Jumat pagi, (8/5/2026) usai menguat dalam dua hari. Analis menilai, nilai tukar rupiah lesu terhadap kurs dolar AS imbas konflik di Selat Hormuz antara AS dengan Iran.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah bergerak turun 24 poin atau 0,14% menjadi 17.357 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di 17.333 per dolar AS.

Analis Bank Woori Rully Nova menuturkan, rupiah pada perdagangan Jumat pekan ini akan menguat terbatas dalam kisaran 17.320-17.370. Hal itu dipengaruhi oleh mulai meredanya tekanan terhadap mata uang itu.

“Namun, faktor global kembali memengaruhi dengan naiknya harga minyak setelah eskalasi ketegangan di Selat Hormuz yang meninggal akibat aksi balasan militer AS terhadap Iran,” kata dia dikutip dari Antara.

Mengutip Sputnik, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari mengatakan bahwa AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik dan Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.

Angkatan bersenjata Iran segera membalas, menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS mengatakan bahwa militer AS "menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS.

Saat ini, situasi di Selat Hormuz dan kota-kota pesisir Iran telah kembali normal setelah terjadi baku tembak antara Iran dan Amerika Serikat

“Walaupun tidak berlangsung lama, namun telah memberikan sinyal negatif terhadap keberlangsungan negosiasi AS dan Iran,” ujar Rully.

Pasar juga menanti data Non Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis Jumat malam. Rilis data tersebut akan menjadi acuan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

“Data NFP diperkirakan turun menjadi tambahan 60 ribu pekerja dibanding kenaikan 178 ribu periode sebelumnya,” kata dia.

Melihat sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan data cadangan devisa (cadev). Rully prediksi cadev pada bulan April 2026 akan naik di atas 150 miliar dolar AS.

Rupiah Menguat terhadap Dolar AS Tersengat Sentimen Amerika Serikat-Iran

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan penguatan pada Kamis, (7/5/2026). Penguatan rupiah terhadap kurs dolar AS itu dipicu potensi kesepakatan damai antara AS dengan Iran.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 54 poin atau 0,31% menjadi 17.333 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi 17.387 per dolar AS. Penguatan rupiah tersebut didorong sentimen global.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis ini juga naik ke level 17.362 per dolar AS dari sebelumnya 17.405 per dolar AS.

“Pasar menyambut positif meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran,” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa dikutip dari Antara.

Mengutip Anadolu, AS dan Iran hampir menandatangani nota kesepahaman sepanjang satu halaman untuk mengakhiri perang serta menetapkan kerangka negosiasi nuklir yang lebih rinci.

Seperti dilaporkan Axios, mengutip sumber pada Rabu, 6 Mei 2026, AS berharap Iran dapat merespons dalam waktu 48 jam terhadap isu-isu utama.

Memang belum ada kesepakatan final, menurut laporan tersebut, tetapi kondisi itu adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai keduanya sejak perang dimulai pada akhir Februari lalu.

Dalam draf kesepakatan tersebut, Iran diminta menangguhkan pengayaan nuklir, Amerika Serikat harus mencabut sanksi dan membebaskan dana yang dibekukan, serta keduanya harus melonggarkan pembatasan transit di jalur Selat Hormuz.

Donald Trump Tunda Operasi Baru

Laporan itu juga menyebut Presiden AS Donald Trump menunda operasi baru di Selat Hormuz guna mempertahankan gencatan senjata karena ada kemajuan dalam perundingan.

Draf nota kesepahaman berisi 14 poin tersebut sedang dinegosiasikan oleh dua orang utusan Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, bersama dengan sejumlah pejabat Iran. Negosiasi itu dilakukan baik secara langsung maupun melalui mediator.

Rancangan itu juga mencakup penghentian perang dan dimulainya masa negosiasi selama 30 hari mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi.

Perundingan lanjutan mungkin akan dilakukan di Islamabad atau Jenewa. Selama periode itu, pembatasan pelayaran Iran dan blokade laut AS akan dilonggarkan secara bertahap.

“Meredanya kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong penurunan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga mendukung penguatan mata uang emerging market termasuk rupiah. Di samping itu, pelemahan indeks dolar AS serta koreksi harga minyak dunia turut meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Amru.

The Fed Bakal Hati-Hati

Pasar juga mulai memperkirakan Federal Reserve (the Fed) akan mengambil sikap yang lebih hati-hati terkait kebijakan suku bunga, terutama pasca tekanan inflasi global menunjukkan tanda-tanda mereda. Kendati demikian, menurut dia, pelaku pasar masih cenderung menunggu rilis data Nonfarm Payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat, 8 Mei 2026, karena data tersebut dapat menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.

Melihat sentimen dalam negeri, menurut Amru, efek positif berasal dari langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah melalui intervensi di pasar valuta asing dan kebijakan pengetatan pembelian dolar AS tanpa underlying.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued, sehingga masih memiliki peluang untuk menguat seiring fundamental ekonomi domestik yang tetap solid.

Selain itu, perhatian pasar tertuju pula pada upaya pemerintah memperluas kerja sama currency swap dengan sejumlah negara mitra guna memperkuat likuiditas dan menjaga stabilitas rupiah.

"Optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional, inflasi yang relatif terkendali, serta ketahanan fundamental ekonomi Indonesia turut menjadi faktor yang menopang penguatan rupiah di tengah ketidakpastian global,” ujar dia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |