Harga Minyak Tergelincir, Teka Teki Hasil Negosiasi AS-Iran Membayangi

10 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak melemah tipis pada Kamis, 7 Mei 2026. Harga minyak dunia lesu seiring Amerika Serikat (AS) menanti tanggapan Iran terhadap proposal untuk mengakhiri perang dan kembali membuka Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Jumat, (8/5/2026), harga minyak Brent turun sekitar 1% menjadi USD 100,06 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 0,28% menjadi USD 94,81 per barel.

Harga minyak turun sekitar 5% pada awal sesi perdagangan karena harapan AS dan Iran akan mencapai kesepakatan. Harga berbalik naik setelah seorang pejabat senior Iran tampaknya menolak proposal AS.

Anggota Dewan Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei menuturkan, AS harus membayar ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan kepada Iran, menurut kantor berita negara PressTV.

"Iran tidak akan mengizinkan AS untuk mengusulkan rencana yang tidak realistis membuka kembali Hormuz,” ujar Rezael.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan kepada media pada Rabu kalau Iran masih meninjau proposal AS dan akan menyampaikan tanggapannya kepada mediator di Pakistan.

Baqaei mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial, negosiasi membutuhkan “upaya tulus untuk terlibat dalam diskusi dengan tujuan menyelesaikan perselisihan.”

“Negosiasi bukanlah dikte, penipuan, pemerasan, atau paksaan,” ujar dia.

Presiden Donald Trump mengatakan pada Rabu kalau serangan militer AS, yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury, “akan berakhir” jika Iran “setuju untuk memberikan apa yang telah disepakati, yang mungkin merupakan asumsi besar.”

“Jika itu terjadi, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran di Teluk Oman akan “memungkinkan Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA, termasuk Iran,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.

Perkembangan Negosiasi AS-Iran

Namun, Donald Trump mengatakan Iran akan dibom “pada tingkat yang jauh lebih tinggi” jika tidak menyetujui kesepakatan damai, menggarisbawahi bahwa negosiasi Iran-AS untuk mengakhiri perang tetap rapuh.

Para pejabat AS mengatakan kepada Axios pada Rabu, AS dan Iran hampir mencapai nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin yang akan mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi lebih lanjut.

Kesepakatan tersebut akan mencabut pembatasan di Selat Hormuz, menurut laporan Axios. Iran akan berkomitmen untuk moratorium pengayaan nuklir dan AS akan mencabut sanksi dan melepaskan dana yang dibekukan.

Analis Citi, Scott Chronert mengatakan, durasi konflik akan memengaruhi perekonomian secara lebih luas.

“Durasi konflik dan implikasinya terhadap harga minyak yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama merupakan hal penting terkait ekspektasi pertumbuhan di masa depan bagi banyak bagian pasar, serta bagaimana hal itu memengaruhi pemikiran The Fed dalam hal dinamika suku bunga,” kata Chronert di acara Squawk Box CNBC.

Harga Minyak Dunia Turun 7 Persen, 48 Jam ke Depan Sangat Krusial

Sebelumnya, Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Rabu setelah muncul optimisme bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.

Mengutip CNBC, Kamis (7/5/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional anjlok hampir 8% dan ditutup di level USD 101,27 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS turun sekitar 7% menjadi USD 95,08 per barel.

Dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui pembahasan perdamaian mengatakan kepada Axios bahwa Gedung Putih meyakini semakin dekat dengan memorandum kesepahaman berisi 14 poin untuk mengakhiri perang dan membuka jalan bagi pembicaraan nuklir lebih rinci.

Namun, Presiden AS Donald Trump masih meragukan kesepakatan tersebut akan benar-benar tercapai.

Trump mengatakan anggapan bahwa Iran akan menerima proposal tersebut mungkin merupakan “asumsi besar.” Ia juga mengancam akan kembali melancarkan serangan militer jika Iran menolak kesepakatan damai.

“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai lagi, dan sayangnya skalanya akan jauh lebih besar dan intens dibanding sebelumnya,” kata Trump dalam unggahan media sosialnya.

AS Tunggu Respons Iran dalam 48 Jam

Menurut laporan Axios, AS kini menunggu respons Iran terhadap sejumlah poin penting dalam proposal tersebut dalam waktu 48 jam ke depan.

Meski belum ada kesepakatan final, sejumlah sumber menyebut kondisi saat ini menjadi titik terdekat Washington dan Teheran menuju perjanjian damai sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran kepada CNBC mengatakan pemerintah Iran masih “mengevaluasi” proposal perdamaian dari Washington.

Sebelumnya pada Rabu, Iran menegaskan hanya akan menerima kesepakatan damai yang dianggap “adil.”

Di sisi lain, Trump pada Selasa mengumumkan penghentian sementara “Project Freedom,” operasi militer yang baru diluncurkan sehari sebelumnya untuk mengawal kapal dagang melintasi Selat Hormuz.

Trump menyebut keputusan tersebut diambil karena adanya kemajuan negosiasi dengan Iran menuju kesepakatan final.

Pemerintahan Trump juga mengungkapkan sekitar 23 ribu pelaut dari kapal-kapal milik 87 negara sempat terjebak di Teluk Persia setelah Iran secara efektif menutup jalur Selat Hormuz.

Read Entire Article
Bisnis | Football |