Bapanas Temukan Produsen Beras Fortifikasi Tarik Stok Usai Amran Gebuk Mafia Pangan

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut temuan adanya produsen beras fortifikasi berhenti produksi, bahkan sebagian melakukan penarikan stok dari pasaran. Hal ini terjadi sepekan setelah Menteri Pertanian/Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman menegaskan untuk melawan mafia beras.

Amran memastikan proses penindakan hukum terhadap produsen beras fortifikasi yang melanggar aturan terus berjalan. Termasuk bagi produsen yang menjual tak sesuai mutu.

"Tunggu saja. Ini panjang, masih berproses. Tapi yang melanggar harus diberi tindakan tegas. Sekarang kami minta Satgas Pangan bekerja maksimal. Barang buktinya kan sudah kita pegang," ujar Amran, mengutip keterangan resmi, Sabtu (8/8/2026).

Bapanas mencatat ada merek beras fortifikasi yang mematok harga Rp 42.000 per kilogram yang dilaporkan telah berhenti produksi. Merek tersebut mengklaim diperkaya nilai gizi mikro yang setelah diuji tidak sesuai dengan klaimnya.

"Secara standar teknis, itu sudah menyimpang. Sementara ini 15 merek, (mereka) fortifikasi mengakunya, tapi tidak memenuhi syarat. Jadi kita tertibkan. Saya sudah minta mengecek sedetail mungkin. Saya minta kalau melanggar bisa dicabut izinnya, dari Bapanas diperintah ke bawah, di provinsi yang mengeluarkan, di daerah," jelas Amran.

Sekitar sepekan kebelakang, Amran mengungkap potensi kerugian konsumen hingga Rp 71,9 triliun dari penjualan beras fortifikasi. Hitungan Bapanas, rata-rata beras fortifikasi dijual dengan harga Rp 22.000 per kg, padahal menurut Amran harusnya harganya tak lebih mahal dari HET beras premium Rp 14.900 per kg.

Beras Fortifikasi Ditarik dari Pasaran

Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Sutanto mengaku tengah mengebut proses pengecekan 15 sampel beras fortifikasi. Tantangannya, ada produsen beras yang disebut tengah menarik stoknya dari pasaera.

"Ini yang lain juga mau ditarik, makanya kita cepat-cepat ini. Tapi spiritnya jelas, bahwa beras fortifikasi itu adalah belum tentu (berkualitas) medium, belum tentu premium, tapi di up dengan harga yang dinaikkan rata-rata Rp 22.000 per kilogram. Bahkan ada yang harganya lebih dari Rp 42.000," jelasnya.

"Jadi uji lab itu hanya salah satu objek pengawasannya. Ada objek pengawasannya yang lain. Jadi kalau suatu produk sudah melanggar yang administrasi saja, sudah sangat memenuhi unsur untuk ditindak," tambah Andriko.

Kandungan Tak Sesuai

Bapanas telah menguak temuan adanya ketidaksesuaian pada beberapa merek beras jenis khusus di tempat peredaran berdasarkan hasil pengawasan di wilayah Jakarta.

Dari 15 sampel merek yang menjadi hasil pengawasan Bapanas tersebut berasal dari 9 produsen dengan 15 merek dagang. 15 sampel merek beras jenis khusus terdiri dari 3 sampel beras fortifikasi dan 12 sampel beras dengan klaim gizi.

Hasil laboratorium menunjukkan 80 persen sampel nilai gizinya tidak sesuai terhadap klaim pada label kemasan. Ditemukan pula harga beras fortifikasi terlampaui jauh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.

Gebuk Mafia Beras Fortifikasi

Sebelumnya, Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menegaskan langkah perlawanannya terhadap mafia beras fortifikasi di Tanah Air. Dia akan melawan dalam waktu tiga pekan kedepan.

Langkah tegas tersebut bukan tanpa alasan. Amran memulai dengan temuan produk berlabel beras fortifikasi tak sesuai standar mutu yang ditentukan, sehingga berpotensi merugikan konsumen puluhan triliun rupiah.

"Saya mau gebuk ini dua sampai tiga minggu ke depan. Ini yang harus kita lawan bersama. Fortifikasi itu dibuat untuk masyarakat miskin, untuk membantu mencegah stunting, mengatasi masalah kurang gizi melalui penambahan vitamin dan mineral," tegas Amran dalam keterangan resmi, Kamis (6/8/2026).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |