Harga Emas Dunia Perkasa Tersengat Harapan Kesepakatan Damai AS-Iran

11 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat dalam tiga sesi berturut-turut pada Kamis, 7 Mei 2026. Kenaikan harga emas dunia didukung meningkatnya optimisme kesepakatan damai akan tercapai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membantu meredakan kekhawatiran mengenai inflasi dan kemungkinan suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

Mengutip CNBC, Jumat, (8/5/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi USD 4.740,42 per ounce setelah mencapai puncak pada dua minggu sebelumnya. Harga emas spot naik 1,2% menjadi USD 4.749,20.

Di antara logam lainnya, harga perak spot naik 5% menjadi USD 81,19, level tertinggi sejak 17 April. Platinum naik 1,2% menjadi USD 2.085,75, dan paladium menguat 0,1% menjadi USD 1.539,01.

"Jika gencatan senjata bertahan, dan kita dapat mengakhiri perang ini, dan kembali berbisnis seiring selat yang terbuka, saya dapat melihat harga emas mencapai USD 5.000 per ounce,” ujar Analis RJO Futures, Bob Haberkorn.

Ia menuturkan, pasar hanya mengamati situasi di Timur Tengah, serta arah yang dapat dipertimbangkan oleh Federal Reserve.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga turut memprediksi berakhirnya perang dengan Iran dengan cepat. Hal ini saat Iran mempertimbangkan proposal perdamaian AS yang menurut sumber akan resmi mengakhiri konflik sambil tetap menyisakan tuntutan AS yang belum terselesaikan. Hal ini agar Iran menangguhkan program nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz.

Sementara itu, harga minyak terus turun dengan patokan minyak mentah Brent diperdagangkan di bawah USD 100 per barel.

Prediksi Harga Emas

Kenaikan biaya energi cenderung mendorong inflasi. Dalam skenario seperti itu, para pembuat kebijakan mungkin kurang cenderung untuk memangkas suku bunga guna menahan tekanan harga. Terlepas dari perannya sebagai lindung nilai inflasi, emas menjadi kurang menarik dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi karena tidak menawarkan imbal hasil.

Dalam catatan TD Securities menyebutkan, ada jalan menuju harga emas di atas USD 5.200 per ounce setelah konflik dan tekanan inflasi yang didorong oleh minyak mereda.

"Pergeseran kebijakan ke arah mandat lapangan kerja maksimum Fed di kemudian hari, imbal hasil yang lebih rendah, dan dolar AS yang lebih lemah, ditambah dengan meningkatnya permintaan investor dan bank sentral, dapat menghidupkan kembali tren kenaikan,”

Pasar menunggu laporan lapangan kerja bulanan AS pada Jumat untuk menilai bagaimana Fed akan melanjutkan kebijakan moneter tahun ini. Di tempat lain, bank sentral China menambah stok emas untuk bulan ke-18 berturut-turut pada April, menurut data.

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Rabu. Ada dua alasan yang menjadi pendorong lonjakan harga emas. Pertama muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan damai. Kedua pelemahan nilai tukar dolar AS.

Mengutip CNBC, Kamis (7/5/2026), harga emas di pasar spot naik 2,7% menjadi USD 4.678,95 per ons, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 27 April. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga menguat 2,7% ke posisi USD 4.690,20 per ons.

Adanya sinyal kesepakatan damai antara AS dengan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Di saat yang sama, indeks dolar AS turun 0,5%. Pelemahan dolar membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan daya tarik emas.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan optimisme terhadap tercapainya kesepakatan akhir antara AS dan Iran menjadi pemicu utama penguatan harga emas dalam jangka pendek.

“Optimisme mengenai kesepakatan final antara AS dan Iran telah memicu setidaknya sedikit kelegaan jangka pendek di pasar emas, dengan harga minyak yang lebih rendah, kekhawatiran inflasi yang mereda, serta perubahan ekspektasi terhadap langkah The Fed pada akhir tahun nanti,” ujar Grant.

Pasar Tetap Waspadai Timur Tengah

Meski demikian, Peter Grant menilai pasar masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa situasi sepenuhnya aman. Pasar akan terus bergerak mengikuti perkembangan berita dari Timur Tengah,” katanya.

Sumber dari mediator Pakistan serta sumber lain yang mengetahui proses mediasi menyebut Washington dan Teheran kini semakin dekat menuju kesepakatan memorandum satu halaman untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Laporan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan tersebut langsung memicu penurunan tajam harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global turun hingga mendekati USD100 per barel.

Turunnya harga minyak dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi global. Sebaliknya, jika harga minyak tetap tinggi, bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna menekan tekanan harga.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas biasanya kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil bunga seperti instrumen investasi lainnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |