IKAPPI: Harga Pangan Meroket H+3 hingga H+7 Setelah Lebaran 2026

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) memproyeksikan setelah hari raya Idulfitri atau Lebaran yakni H+3 sampai H+7 akan ada kenaikan harga pangan.

"IKAPPI tetap mengingatkan kepada pemerintah di fase ketiga Ramadhan atau pasca Idul fitri yaitu tepatnya H+3 sampai dengan H+7 akan ada kenaikan harga pangan," kata Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan, dalam keterangannya kepada Liputan6.com, Selasa (24/3/2026).

Menurut Reynaldi, pemerintah perlu mengantisipasi fase tersebut karena adanya arus balik pedagang pasar setelah mudik. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kelancaran distribusi dan rantai pasok bahan pangan di berbagai pasar di seluruh Indonesia. 

Jika tidak diantisipasi dengan baik, keterlambatan pasokan bisa memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.

"Itu yang harusnya di antisipasi, dikarenakan pedagang pasar yang melakukan arus balik dari mudik agar rantai pasok tetap terjaga di tiap pasar di seluruh tanah air," ujarnya.

Di sisi lain, IKAPPI memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah, termasuk inisiatif pembagian parcel Presiden yang berisi bahan pangan dan hasil bumi lokal. Menurut IKAPPI, langkah ini menjadi yang pertama dalam sejarah dan mencerminkan dukungan terhadap produk dalam negeri.

Apresiasi juga disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto atas keberpihakannya terhadap produksi dalam negeri, yang dinilai menjadi sinyal positif bagi para pedagang pasar dan pelaku usaha sektor pangan.

Daftar Kenaikan Harga saat Lebaran

Sebelumnya, IKAPPI mencatat sejumlah bahan pokok telah mengalami kenaikan harga menjelang Idul Fitri. Beberapa di antaranya adalah cabai rawit merah yang mencapai Rp 105.000 per kilogram, cabai merah besar Rp 69.000 per kilogram, bawang merah Rp 56.000 per kilogram, serta bawang putih Rp 45.000 per kilogram.

Selain itu, harga daging ayam tercatat sekitar Rp 50.000, telur Rp 32.000 per kilogram, dan minyak goreng curah menyentuh Rp 21.000 per kilogram. 

IKAPPI juga menyoroti harga minyak goreng kemasan sederhana, Minyakita, yang perlahan mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter, meskipun di sejumlah wilayah, khususnya di Pulau Jawa, harganya masih relatif tinggi.

Tengkulak Atur Harga Pangan jadi Mahal, Begini Kata Pedagang

Sebelumnya, Ikatan Pedagang Indonesia (Ikappi) menyoroti masih ada praktik tengkulak yang mengatur harga pangan di pasaran. Padahal, berjalannya mekanisme pasar bisa membuat harga lebih terjangkau.

Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan menyampaikan harga pangan di hilir bisa ditekan jika pasokannya melimpah. Sebaliknya, harga bisa terkerek jika pasokannya meniipis atau permintaan melinjak drastis.

"Mekanisme harga itu terbentuknya di pasar. Tapi karena ada middleman, pemain tengah atau tengkulak dalam tanda kutip bahkan mafia. Ini mereka yang menentukan (harga) akhirnya," kata Reynaldi saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (18/2/2026).

Kepastian Pasokan

Dia menjelaskan, harga bahan pangan cenderung bisa terkendali ketika pedagang mendapat kepastian pasokan ke pasar. "Pedagang itu biasanya selama ada kepastian barang datang, selama ada kepastian barang itu ada dan melimpah, tentu mereka akan ya ini kan hukum ekonomi sederhana ya. Ketika barang melimpah, tentu harganya juga akan terjangkau," tuturnya.

Ikappi mencatat, harga cabai rawit merah sempat tembus di atas Rp 100 ribu per kilogram. Sementara itu, harga minyak goreng MinyaKita terpantau belum turun sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) di beberapa daerah.

Reynaldi berharap pemerintah bergerak untuk memperbaiki tata kelola rantai pasok distribusi ke pasar. "Kalau tata kelola itu diperbaiki, siapa yang mengorkestrasi? Ya ada Kementerian Pertanian, ada Badan Pangan Nasional, ada BPS ya soal panel harga pangannya dan yang terakhir ada Kementerian Perdagangan yang mengurusi hilirnya," tutur dia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |