Laporan Liputan6.com dari Taiwan: Menyesap Aroma Teh Oolong di Alishan

4 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menjalankan seremoni teh bukan hanya sekadar minum teh. Melalui seremoni teh seperti mengajak penikmat teh untuk menjalani kegiatan dengan ritme lambat sehingga sejenak dapat merasakan ketenangan tanpa harus terburu-buru. Sejenak tenang dan bebas dari pikiran yang mungkin rumit di kepala. Lewat seremoni teh mungkin dapat membuat hati tenang, benar-benar hadir saat itu dan mengingat cita rasa teh. Berikut laporan Liputan6.com saat mengikuti seremoni teh di Alishan, Taiwan.

Selain Jepang dan China, Taiwan juga memiliki seremoni teh. Hal ini juga tak lepas dari kebiasaan minum teh di Taiwan. Masyarakat Taiwan biasa untuk mengundang teman-teman berkumpul sambil menikmati teh yang berkualitas. Akan tetapi, seremoni teh di Taiwan berbeda dari Jepang dan China.

"Lebih mengenalkan kepada kehidupan sehari-hari (seremoni teh di Taiwan-red). Menyelenggarakan seremoni teh ini juga untuk menjamu tamu dari jauh,” ujar pemandu wisata, Chindrawan atau Ko Acin.

Mengutip taiwantourism.id, teh telah tumbuh sekitar hampir 300 tahun di Taiwan. Produk teh ini juga yang diekspor pertama kali oleh Negeri Formosa ini. Selain sebagai minuman, produk teh juga telah menjadi oleh-oleh yang populer di Taiwan.

Ko Acin menuturkan, tidak ada perayaan khusus untuk mengikuti seremoni teh di Taiwan. Namun, ketika panen teh, pemilik kebun teh juga dapat mengumpulkan orang-orang untuk mengikuti seremoni teh.

Pengalaman mengikuti seremoni teh ini juga saya dapatkan ketika menginap di Long Yun Leisure Farm, Alishan, Taiwan. Ko Acin menuturkan, salah satu keunggulan Alishan yakni teh oolong-nya. Teh oolong ini berbeda dengan black tea. "Teh oolong termasuk green tea. Proses pembuataanya dipetik hari itu juga harus diproses, tidak di-fermentasi lagi. Beda dengan black tea yang setengah fermentasi," tutur Ko Acin.

Di homestay yang berada di ketinggian 1.500 di atas permukaan laut ini, saya dan sejumlah rekan jurnalis asal Indonesia mengikuti seremoni teh. Kami dijamu oleh penyaji teh Sara Teng di sebuah gazebo yang dikelilingi perkebunan teh dan pohon bunga Sakura yang mulai mekar. Udara segar pegunungan, kicauan burung dan kabut yang turun menemani seremoni teh. Ditambah dengan instrumen musik seperti memberikan suasana tenang dan hikmat.

Seremoni Teh

Di gazebo tersebut sudah tersedia meja, kursi, cangkir atau cawan kecil, tea pot dan peralatan untuk menjalankan seremoni teh. Kami pun duduk di depan penyaji teh. Sebelum disajikan, kami mendapatkan penjelasan mengenai teh yang digunakan. Teh yang disajikan memakai teh oolong dan black tea yang dipanen pada 2025 dari Alishan, Taiwan.

"Teh Oolong itu panen dua musim. Teh musim dingin dan ada juga musim semi. Beda mungkin dari rasanya, perubahan suhunya karena dingin banget agak kental. Kebanyakan orang suka minum teh dengan cita rasa lebih tajam. Kalau black tea agak gelap, fermentasi. Tapi (oolong dan black tea-red) ini dihasilkan dari pohon teh yang sama,” tutur Ko Acin.

Untuk seremoni teh ini awalnya memakai teh oolong kemudian black tea. Sara menjelaskan, teh akan disajikan di depan kami. Kemudian kami menunduk satu kali setelah menerima teh. Setelah semua peserta mendapatkan teh lalu kembali menunduk. Menunduk ini berarti sebagai simbol rasa terima kasih dan penghormatan. Selain menunduk juga bisa mengetuk sebanyak dua kali dengan dua jari seperti menunduk.

Sebelum disajikan, kami melihat daun teh yang diletakkan di wadah seperti batang bambu. Hal ini dilakukan agar mengetahui apakah  teh itu pecah-pecah atau ada serbuknya. Lalu kami mencium aroma daun teh, dihisap seperti bernafas, kemudian setelah menghirup aroma itu, lalu dibuang ke samping. Dengan mencium seperti menghirup aroma daun teh yang kuat tetapi terasa menenangkan.

Menikmati Teh Oolong

Selanjutnya Sara menuangkan daun teh ke teko keramik dan menuangkan air panas. Suhu ideal untuk menyeduh teh itu berbeda-beda tergantung jenisnya. Sara mengatakan, suhu air untuk teh oolong sekitar 95-100 derajat Celsius sedangkan teh hitam atau black tea sekitar 90-100 derajat Celsius. Selanjutnya Sara mendiamkan sejenak kemudian menuangkan teh ke wadah tuang keramik. Lalu menuangkan ke mangkok dan ini merupakan pembilasan teh.

Kemudian Sara kembali menuangkan air ke teko keramik dan juga membilas cangkir teh. Usai teh yang ada di dalam teko keramik didiamkan, kemudian dituangkan ke wadah tuang. Selanjutnya  dari teko teh tersebut dituangkan ke cangkir atau cawan kecil. Sara pun menunduk. Selanjutnya saya juga menunduk.

Saya pun mengangkat piring dan cawan kecil atau cangkir yang telah berisi teh. Saya melihat dan mencium aroma teh yang kuat. Saya menyesap teh pelan-pelan dan terasa nikmat.

Adapun untuk memegang cangkir dan piring teh juga ada kiatnya. Sara menuturkan, saat minum teh, piring berada di tangan kiri dan tangan kanan memegang cangkir atau cawan kecil.

Setelah memakai teh oolong saat seremoni kemudian dilanjutkan memakai black tea. Proses seremoni teh juga sama tetapi yang berbeda pemakaian tea pot. Jika teh oolong memakai teko keramik, saat penggunaan black tea dengan memakai teko gelas. Sara menuturkan, memakai teko gelas untuk menyeduh black tea karena hasil warna black tea yang lebih gelap.

Saat menikmati teh juga disajikan makanan ringan seperti kue yang juga terbuat dari teh dan manisan jelly yang menambah rasa nikmat.

Mengikuti seremoni teh di Pegunungan Alishan sambil menikmati perkebunan teh dan pohon bunga Sakura menjadi pengalaman baru yang meninggalkan cita rasa nikmat seperti teh oolong.

Read Entire Article
Bisnis | Football |