BI Rate Diperkirakan Tetap di September 2026, Ini Pertimbangannya

16 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) diproyeksikan bakal mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 22–23 September 2026.

Keputusan ini dinilai menjadi langkah moderat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global, fluktuasi harga minyak dunia, hingga kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai langkah The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% pada pertengahan September telah diantisipasi BI. Terbukti, BI Rate telah dinaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei–Juni 2026.

Menurut Josua, pergerakan nilai tukar rupiah tetap menjadi fokus utama BI dalam RDG kali ini.

"Pertimbangan pertama BI tentu stabilitas rupiah, dan di sinilah situasinya lebih menantang dibandingkan RDG Agustus," ujar Josua, dikutip Selasa (2221/9/2026).

Per 21 September, rupiah berada di kisaran 17.800 per dolar AS. Josua menyebut tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh harga minyak dunia yang bertahan di atas US$ 100 per barel, tingginya kebutuhan valas importir, serta keluarnya modal asing (capital outflow).

Kondisi ini kian diperberat oleh defisit transaksi berjalan triwulan II 2026 yang mencapai 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Bantalan Cadangan Devisa Masih Kuat

Meski tekanan eksternal meningkat, BI dinilai masih memiliki amunisi yang cukup tanpa harus terburu-buru menaikkan suku bunga. Cadangan devisa Indonesia per akhir Agustus 2026 tercatat sebesar US$ 146,5 miliar—setara pembiayaan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada jauh di atas standar kecukupan internasional.

Di sisi lain, laju inflasi Agustus 2026 yang berada di angka 3,19% dinilai masih terkendali dalam sasaran BI sebesar 2,5%.

"Itu berarti belum ada tekanan permintaan domestik yang mengharuskan BI segera menaikkan suku bunga," kata Josua.

Ia mengingatkan, jika BI menaikkan suku bunga semata-mata mengekor langkah The Fed, kebijakan tersebut berisiko memukul permintaan domestik. "Yang harus diperhatikan justru apakah pelemahan rupiah dan harga minyak akhirnya mulai mendorong kenaikan harga barang impor (imported inflation) dan mengubah ekspektasi inflasi masyarakat," tegasnya.

Sensitivitas Imbal Hasil Obligasi

Josua menyoroti lonjakan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS yang dampaknya dirasa lebih signifikan dibanding kenaikan suku bunga The Fed. Yield obligasi AS tenor 10 tahun sempat menembus 5% sebelum turun tipis ke 4,96% per 21 September.

Sebagai pembanding, yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun tercatat di kisaran 7,12%, naik 105 basis poin sejak awal tahun. Tipisnya selisih (spread) tersebut membuat investor makin sensitif terhadap risiko nilai tukar, yang berpotensi memicu keluarnya modal asing dari pasar SBN maupun saham.

Kendati demikian, BI diimbau tidak tergesa-gesa merespons. "BI harus membedakan gejolak sementara dengan perubahan yang menetap," tutur Josua.

Ia mewanti-wanti dampak kenaikan suku bunga terhadap sektor riil. "Masalahnya bukan apakah bank mempunyai uang untuk menyalurkan kredit, tetapi apakah perusahaan tetap menganggap investasi layak ketika biaya pembiayaan naik," lanjutnya.

Proyeksi BI Rate hingga Akhir 2026

Josua memproyeksikan BI Rate tetap bertahan di level 5,75% pada RDG September 2026. Namun, risiko kenaikan pada triwulan IV 2026 dinilai meningkat signifikan, dengan potensi naik 25 basis poin menuju 6,00% pada akhir tahun jika The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Ia memaparkan empat faktor kunci yang akan menentukan arah kebijakan BI ke depan:

  1. kepastian The Fed menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya;
  2. pergerakan yield obligasi AS jika bertahan di atas 5%;
  3. pergerakan rupiah jika melemah secara persisten disertai capital outflow; serta
  4. dampak harga minyak tinggi terhadap inflasi domestik.

"Jika keempat tekanan tersebut menguat bersamaan, ruang BI mempertahankan 5,75% akan cepat menyempit. Sebaliknya, jika minyak dan imbal hasil AS turun, The Fed berhenti, dan rupiah kembali stabil, BI mempunyai ruang mempertahankan suku bunga lebih lama," tutup Josua.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |