Aksi Menteri Keuangan AS Scott Bessent Meredam Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

11 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Scott Bessent menjadi Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) paling banyak melakukan invervensi di pasar keuangan dalam beberapa dekade. Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan pembelian kembali surat utang atau obligasi bertenor 10 hingga 30 tahun pada Rabu, 19 Agustus 2926, hanya dua minggu setelah rencana buyback sebelumnya dirilis.  Langkah ini dilakukan sebagai upaya meredam biaya kenaikan pinjaman AS.

Dilansir dari Yahoo Finance, Minggu, (23/8/2026), hal tersebut menyusul langkah-langkah lain: pemangkasan wacana penerbitan utang jangka panjang awal Agustus, intervensi pembelian yen pertama oleh AS dalam 30 tahun (31 Juli) dan rate checks ke bank-bank soal harga yen awal tahun ini.

Bessent mengawasi pembelian yen pertama oleh otoritas AS dalam tiga dekade, yang dianggap mengurangi kebutuhan Jepang untuk menjual cadangan obligasi pemerintahnya guna membiayai pembelian yen sendiri. Kemudian, awal tahun ini Bessent menerapkan pengecekan suku bunga, panggilan otoritas kepada bank untuk meminta kuotasi harga yen yang membuat seorang mantan pejabat Jepang terkejut.

"Tentu saja, ia seorang aktivis," kata Mantan Pejabat Departemen Keuangan AS yang sekarang bekerja di kelompok riset OMFIF, Mark Sobel.

"Ini mengingatkan kita pada latar belakangnya di perusahaan hedge fund," ia menambahkan.

"Menurut saya, jelas bahwa dia dan pihak administrasi prihatin dengan kenaikan imbal hasil jangka panjang," ujar Sobel.

Tentunya, Departemen Keuangan tidak segera menanggapi permintaan mengenai langkah-langkah yang diambil Bessent. Sebagai pengelola kebijakan ekonomi nasional dan pasar keuangan, Menteri Keuangan seringkali terpaksa turun tangan saat krisis.

Kondisi saat ini berbeda, mengingat aksi jual obligasi telah berlangsung secara teratur dan terus meningkat selama berbulan-bulan. Namun, langkah Bessent setelah imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun yang dijadikan sebagai tolok ukur keuangan yang ia tetapkan sendiri melonjak melampaui level sebelum Trump kembali menjabat, sehingga meningkatkan kekhawatiran di Washington.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang dipicu kekhawatiran mengenai inflasi, kebijakan moneter Federal Reserve, dan defisit fiskal yang sangat besar, telah menyebabkan suku bunga hipotek tetap tinggi. Hal ini tentu menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi, beberapa bulan menjelang pemilihan anggota Kongres pada November.

Tak Lagi Bisa Diprediksi

Dalam penerbitan utang, Departemen Keuangan telah lama berpegang pada prinsip "teratur dan dapat diprediksi" dan tidak mengejutkan investor, yang didukung oleh Bessent dalam pidato utama konferensi pasar Departemen Keuangan pada November.

Namun, pada pidato tersebut, ia juga mengatakan tugasnya adalah menjual obligasi terbaik di negara ini. Imbal hasil obligasi pemerintah merupakan barometer yang kuat untuk mengukur keberhasilannya, dan ia menyoroti pentingnya ekonomi dari suku bunga obligasi pemerintah yang lebih rendah.

"Ini bertentangan dengan 'hal yang biasa dan dapat diprediksi' tetapi itulah dunia tempat kita hidup," kata kepala perdagangan dan strategi suku bunga AS di AmeriVet Securities, Gregory Faranello, mengenai pengumuman Rabu.

"Pesan yang disampaikan jelas: hentikan kenaikan imbal hasil," ujar dia.

Pendahulu Bessent, Janet Yellen, juga berupaya untuk membendung kenaikan imbal hasil pada 2023. Bessent termasuk di antara sejumlah Republikan yang mengkritik langkah tersebut melalui pernyataan penerbitan utang triwulanan reguler sebagai langkah yang bermotivasi politik, dengan tujuan mendongkrak perekonomian menjelang pemilihan.

Mantan kepala ekonom Presiden Donald Trump dan mantan anggota dewan Fed, Stephen Miran, ikut menulis makalah pada Juli 2024 yang mengecam penerbitan activist treasury issueance (ATI).

Penggunaan ATI pada Musim Pemilu

"Begitu satu partai politik menggunakan ATI untuk menstimulasi ekonomi menjelang musim pemilihan, hal itu akan ditiru oleh semua pemerintahan di masa mendatang," tulis Miran dan rekan penulisnya, Nouriel Roubini.

Langkah Departemen Keuangan ini diambil hanya beberapa minggu setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menyatakan antusiasmenya terhadap pasar keuangan yang terbebas dari arahan kebijakan ke depan.

"Para pelaku pasar belajar untuk memainkan bola, bukan wasit, dan harga pasar akan terus merespons ke arah dan besaran yang dianggap tepat.

"Bessent sebelumnya juga memiliki sentimen yang sama dengan Warsh, dituliskan dalam sebuah esai tahun lalu bahwa pembelian obligasi oleh Fed telah menciptakan distorsi di pasar dan mengganggu sumber umpan balik yang penting.

"Ini bukanlah pemerintahan yang menetapkan aturan stabil lalu membiarkan pasar berjalan apa adanya," kata peneliti senior di Council on Foreign Relations, Brad Setser, dikutip dari Yahoo Finance.

Manuver Bessent Sejak Dulu

Bessent dikenal karena kesuksesannya pada taruhan besar poundsterling Inggris dan yen Jepang selama bekerja untuk George Soros. Beberapa pelaku pasar memandang aksi pada Rabu untuk memanfaatkan kariernya.

“Ini seperti trik 'angkat semua yang ada di layar' sejak dulu," kata manajer portofolio di Christofferson Robb & Co, Brad Golding.

Itu merujuk pada teknik hedge fund yang mengirimkan order ke dealer-dealer besar secara bersamaan untuk memicu pergerakan besar di pasar.

Sebagai anggota kabinet utama yang bertanggung jawab atas pengelolaan ekonomi terbesar dunia, para menteri keuangan memiliki tradisi panjang dalam melakukan intervensi besar saat krisis. Departemen ini memainkan peran kunci selama Covid, menjalankan program penyelamatan utama krisis keuangan global dan memimpin berbagai penyelamatan pasar negara berkembang pada 1990-an.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa manuver Bessent berbeda karena tidak dipicu oleh krisis atau kekacauan kondisi pasar.

Perbandingan Sejarah

"Bessent ingin memberitahu publik tentang pendekatan intervensionis-nya, bahkan tanpa katalis yang mungkin dibutuhkan dalam beberapa dekade terakhir," kata mitra pengelola firma penasihat politik International Capital Strategies di Washington, Douglas Rediker.

Sobel, yang bekerja di Departemen Keuangan sejak akhir 1970-an hingga 2015, mengatakanBessent setidaknya merupakan tokoh yang paling aktif sejak awal 2000-an. Perbandingan historis, seperti dengan James Baker, yang membantu merancang Kesepakatan Plaza dan Louvre pada 1980-an yang berpengaruh kuat pada nilai tukar saat itu penuh dengan ketidakpastian karena konteks historis yang berbeda.

Banyak pelaku pasar dan ekonom menyoroti fundamental di balik imbal hasil yang lebih tinggi saat ini menantang perangkat operasional Departemen Keuangan. Dengan sisa waktu dua bulan pada tahun fiskal, defisit 2026 adalah US$ 1,8 triliun atau Rp 31.764 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.650) , 5% lebih besar dari tahun lalu.

Pengeluaran didorong oleh Social Security, Medicare, Medicaid, dan bunga utang, juga pengeluaran pertahanan yang diperkirakan meningkat. Saat ini, Partai Republik mencoba memotong pajak.

"Alih-alih mengatasi masalah mendasar, yaitu menurunkan utang dan menjalankan defisit anggaran yang lebih moderat, pemerintah malah memanipulasi kurva imbal hasil," kata peneliti senior Brookings Institution, Robin Brooks.

Taruhan pada Kekuatan Sinyal Pasar

Bessent percaya pada kapasitas pemerintah dalam memengaruhi pasar. Berbicara tentang kepemilikan saham pemerintahan Trump bulan lalu di sejumlah perusahaan teknologi dan sumber daya, ia mengatakan, pihaknya mencoba lakukan adalah menciptakan sinyal pasar.

"Pada intinya, mencoba memberi tahu investor, oke, di sinilah arahnya. Segera ambil kesempatan itu,” Bessent berkata pada Fox Business, dilansir dari Yahoo Finance.

Pada Rabu, sebagian investor mulai berhati-hati dikarenakan imbal hasil obligasi 10 tahun turun sekitar 6 basis poin pada perdagangan siang hari di New York, sementara suku bunga 30 tahun turun hampir 9 basis poin.

"Ini hanya efektif untuk jangka waktu tertentu," kata kepala strategi di Zurich Insurance, Guy Miller.

"Ini bisa menjadi intervensi yang cukup ampuh ketika Kementerian Keuangan mengatakan terkait komitmen mereka melakukan ini. Pada akhirnya, kecuali Anda mengatasi kebijakan yang boros, itu tidak akan berkelanjutan selamanya."

Mengenai operasi yen Bessent, mata uang Jepang bulan ini telah kehilangan sebagian dari kenaikan yang dipicu oleh intervensi. Namun, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah pada Rabu juga mendorong yen naik. Penurunan suku bunga bahkan menarik Indeks Spot Dolar Bloomberg turun ke level terendah dalam tiga bulan.

"Ia sedang menantang dua pasar besar, obligasi pemerintah dan valuta asing," kata kepala investasi di Onepoint Bfg, Peter Boockvar.

"Dan itu adalah pertarungan yang sangat sulit."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |