Harga Minyak Dunia Tak Turun Meski Sinyal Perang Iran Mulai Surut

21 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia relatif stabil pada hari Jumat, 21 Agustus 2026 (Sabtu pagi Jakarta) setelah Presiden Iran mengindikasikan bahwa Teheran ingin perang dengan Amerika Serikat berakhir lebih cepat.

Mengutip CNBC, Sabtu (22/8/2026), minyak mentah berjangka Brent naik 61 sen dan ditutup di level US$ 94,39 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 23 sen menjadi US$ 87,06 per barel.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggambarkan nota kesepahaman (MoU) dengan AS sebagai sebuah kemenangan bagi Republik Islam tersebut. Menurut kantor berita pemerintah PressTV, Pezeshkian menyatakan bahwa lebih baik mengakhiri perang hari ini saat Iran berada dalam posisi yang kuat dan terhormat.

MoU yang ditandatangani AS dan Iran pada 17 Juni tersebut mengizinkan Teheran untuk menentukan bagaimana Selat Hormuz dikelola melalui negosiasi dengan Oman dan negara-negara Teluk lainnya.

Secara mingguan, harga minyak ditutup melonjak lebih dari 5% setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan kepada CNBC bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran. Menyuarakan ancaman Presiden Donald Trump, Bessent menegaskan bahwa AS akan melumpuhkan rezim di Teheran.

Menteri Keuangan AS tersebut menilai para pelaku pasar telah salah menafsirkan ancaman pemerintahan Trump dengan mendongkrak harga minyak. Ia menjelaskan bahwa kampanye tekanan ekonomi ini menandakan AS kemungkinan besar tidak akan kembali melakukan operasi militer berskala besar terhadap Iran seiring diintensifkannya tekanan ekonomi tersebut.

Iran Jadi Negara Paling Banyak Dapat Sanksi

Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, Helima Croft, menuturkan bahwa Iran saat ini sudah menjadi salah satu negara yang paling banyak dijatuhi sanksi di dunia. Dalam wawancaranya di program 'Squawk on the Street' CNBC, Croft mempertanyakan apakah AS akan turut menyasar China dan Rusia yang merupakan mitra Iran.

"Pertanyaan utamanya adalah apakah sanksi tambahan mampu mengubah sikap Iran?" kata Croft. Ia menilai Teheran tampaknya yakin bisa bertahan lebih lama dari AS.

Militer AS pada hari Kamis lalu mengatakan bahwa pihaknya telah membantu kapal-kapal tanker mengangkut lebih dari 660 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz sejak awal Mei. Berdasarkan pernyataan militer sebelumnya, data ini mengindikasikan bahwa setidaknya 160 juta barel, atau lebih dari 7 juta barel per hari telah keluar dari selat tersebut selama tiga minggu terakhir.

"Selat Hormuz memang tidak ditutup, tetapi kami memperkirakan kita masih kehilangan sekitar 8 juta barel per hari akibat perang ini," ujar Croft.

Sebelum perang pecah, sekitar 20 juta barel per hari minyak dan produk olahannya melintasi Selat Hormuz.

Harga Minyak Sempat Melandai

Harga minyak mentah sempat melandai secara signifikan selama dua minggu pertama bulan Agustus setelah para pejabat AS mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk meningkatkan lalu lintas di selat tersebut sudah semakin dekat. Namun, harga kembali merangkak naik setelah kesepakatan tersebut tak kunjung terwujud dan retorika dari kedua belah pihak kembali memanas.

Meski harga minyak mentah saat ini masih jauh di bawah level tertingginya selama masa perang, pasar diesel global berada dalam kondisi yang sangat ketat. Hal ini dipicu oleh serangan Ukraina ke fasilitas pemurnian minyak (refinery) Rusia serta gangguan pasokan di Timur Tengah akibat krisis di Selat Hormuz. Diesel memegang peranan krusial bagi perekonomian global karena menjadi bahan bakar utama untuk sektor pertanian dan transportasi logistik.

"Harga diesel berada di level tertinggi dalam sejarah, sementara kita tidak memiliki kapasitas pemurnian cadangan untuk diesel," tegas Croft.

"Inilah sektor pasar energi yang harus kita cermati dengan sangat, sangat hati-hati."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |