Trump Sebut Hanya Ajak CEO Perusahaan untuk Bertemu Xi Jinping

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pihaknya mengundang 30 pemimpin bisnis terkemuka di dunia dalam perjalanan ke China. Chief Executive Officer (CEO) perusahaan itu semuanya disebutkan setuju mengikuti pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

"Saya tidak menginginkan orang kedua dan ketiga di perusahaan ini. Saya hanya menginginkan yang teratas dan mereka hadir hari ini untuk memberi hormat kepada Anda dan kepada China,” ujar Trump kepada Presiden China Xi Jinping dikutip dari laman AP.

“Mereka berharap dapat berdagang dan berbisnis dan itu akan sepenuhnya timbal balik dari pihak kita,” ia menambahkan.

Mengutip Xinhua, Trump mendorong pengusaha AS dapat memperluas kerja sama dengan China. Ia pun mengenalkan para pengusaha itu kepada Xi Jinping satu per satu.

Pengusaha AS sangat mementingkan pasar China dan berharap memperdalam operasi bisnis di China dan memperkuat kerja sama dengan China.

Xi menuturkan, perusahaan-perusahaan AS sangat terlibat dalam reformasi dan keterbukaan China. Kedua belah pihak telah memperoleh manfaat dari hal ini. Ia menuturkan, pintu China akan semakin terbuka lebar. Xi Jinping menuturkan, China menyambut baik peningkatan kerja sama yang saling menguntungkan antara Amerika Serikat dan China. Ia yakin perusahaan-perusahaan AS akan menikmati prospek yang lebih luas lagi di China.

Trump dan Xi Jinping Bertemu, Diprediksi Bahas Perang Iran hingga AI

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya bertemu dengan pemimpin China Xi Jinping pada Kamis (14/5/2026). Peristiwa ini menandai pertemuan penting yang akan diisi negosiasi mengenai konflik global, perdagangan internasional, dan masa depan kecerdasan buatan (AI) hanya dalam waktu lebih dari 24 jam.

Trump tiba di Great Hall of the People, sebuah bangunan megah era Mao di sisi barat Lapangan Tiananmen, pada Kamis pagi untuk menghadiri upacara penyambutan resmi yang kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan tatap muka selama satu jam bersama Xi. 

Barisan petugas berseragam berjajar di sepanjang karpet merah yang dibentangkan di depan Great Hall of the People ketika Xi dan Trump berjalan berdampingan menuju podium untuk mengikuti prosesi penghormatan sebelum disambut sorakan murid-murid sekolah dasar yang melambaikan bendera AS dan China. 

Upacara itu ditutup dengan pertunjukan korps musik militer China yang dipersiapkan dengan sangat rapi, sebelum Trump dan Xi memulai putaran pertama pembicaraan bilateral mereka. 

Dalam sambutan pembukaan, Xi mencatat bahwa tahun 2026 menandai 250 tahun kemerdekaan AS dan mengatakan bahwa stabilitas hubungan AS-China diperlukan bagi dunia.

Saling Mengenal Sejak Lama

Trump pada gilirannya mengatakan bahwa dirinya dan Xi telah saling mengenal sejak lama. Ia menyebut Xi sebagai "pemimpin besar".

"Saya mengatakan kepada semua orang bahwa Anda adalah pemimpin besar. Kadang-kadang orang tidak suka saya mengatakan itu, tetapi saya tetap mengatakannya karena itu benar," kata Trump kepada Xi seperti dikutip dari laporan The Guardian.

Kedua pemimpin dijadwalkan membahas konflik di Timur Tengah, perang dagang AS-China, perselisihan mengenai Taiwan, serta persaingan global di bidang kecerdasan buatan.

Keputusan Trump meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan kepemimpinan negara yang memiliki hubungan dekat dengan China dan mengancam pasokan energi global, telah membayangi pembicaraan yang semula difokuskan untuk mencapai kesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Permintaan AS

Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan di Air Force One saat rombongan Trump menuju Beijing bahwa AS akan mendesak Beijing untuk membantu menangani krisis Iran.

"Kami berharap dapat meyakinkan mereka untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam membuat Iran menghentikan apa yang sedang mereka lakukan sekarang dan apa yang mereka coba lakukan sekarang di Teluk Persia," kata Rubio kepada Fox News.

"(China) adalah tantangan politik terbesar kami secara geopolitik dan juga hubungan paling penting yang harus kami kelola," ujarnya.

Beijing sendiri berharap dapat menggunakan pertemuan ini untuk mengkalibrasi ulang hubungan AS-China dan membangun fondasi bagi hubungan perdagangan yang stabil dan, secara optimistis, dapat diprediksi ke depannya.

Duta Besar China untuk AS Xie Feng menulis dalam sebuah kolom yang diterbitkan surat kabar resmi Partai Komunis China pada Kamis, "Di tengah meningkatnya ketidakstabilan internasional, signifikansi strategis hubungan China-AS menjadi semakin menonjol."

Xie mengatakan bahwa tidak adanya interaksi antara dua negara adidaya tersebut bukanlah sebuah pilihan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |