Survei: 71% Warga Indonesia Tolak Pendanaan Proyek Perusak Iklim

14 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Mayoritas masyarakat Indonesia menilai sektor perbankan memiliki peran besar terhadap perubahan iklim, terutama jika terus menyalurkan pembiayaan kepada proyek tambang dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Bahkan, sebagian masyarakat menyatakan siap meninggalkan bank yang masih mendanai proyek batu bara baru.

Hal itu terungkap dalam laporan bertajuk Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore yang dirilis pada Selasa (19/5/2026). Survei dilakukan oleh YouGov terhadap 4.000 responden di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan 2.000 responden berasal dari Indonesia.

Hasil survei menunjukkan sekitar 60% masyarakat Indonesia atau tiga dari lima responden menilai aktivitas perbankan memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan iklim apabila terus mendanai tambang maupun pembangunan PLTU batu bara.

Tak hanya itu, sebanyak 71% responden Indonesia juga percaya bank seharusnya tidak lagi memberikan pembiayaan kepada perusahaan atau proyek yang menghasilkan emisi gas rumah kaca tinggi dan memperburuk perubahan iklim.

Temuan lain menunjukkan tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap isu lingkungan tergolong sangat tinggi.

Sebanyak 96% responden Indonesia mengaku cukup hingga sangat peduli terhadap perubahan iklim. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding Malaysia yang mencapai 85% dan Singapura sebesar 81%.

Kepedulian Masyarakat Tinggi

Survei tersebut juga mengungkap sebanyak 65% masyarakat Indonesia menilai pengurangan penggunaan batu bara secara cepat menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengatasi perubahan iklim.

Persentase itu lebih tinggi dibanding Malaysia sebesar 58% dan Singapura yang mencapai 61%.

Direktur Asia Energy Finance Bernadette Maheandiran mengatakan tingginya kepedulian masyarakat terhadap perubahan iklim dinilai wajar karena dampaknya telah dirasakan secara langsung.

“Kepedulian yang dialami masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengenai perubahan iklim ini sangat beralasan mengingat dampaknya telah kita rasakan. Mulai dari gelombang panas yang mematikan hingga banjir, badai, dan tanah longsor yang lebih sering terjadi,” kata dia, Selasa (19/5/2026).

Menurut Bernadette, sebagian besar masyarakat juga menilai penghentian aktivitas tambang dan PLTU batu bara secara bertahap dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim yang lebih besar.

Selain itu, survei yang dilakukan pada Maret 2026 tersebut menemukan bahwa 43% masyarakat Indonesia mempertimbangkan berpindah bank jika lembaga keuangan yang digunakan masih membiayai proyek batu bara baru.

Sinyal Penting untuk Bank

Temuan lainnya menunjukkan 54% masyarakat Indonesia mengaku tidak akan mempercayai bank yang mengklaim menghentikan pembiayaan proyek batu bara, tetapi masih mendanai perusahaan yang membangun proyek tersebut.

Sebanyak 66% responden juga berharap komitmen penghentian pendanaan batu bara mencakup seluruh jenis proyek, termasuk PLTU captive yang dibangun untuk kebutuhan industri seperti smelter nikel dan aluminium.

Lembaga riset independen Earthwise mengungkapkan sekitar 94% pasokan listrik industri nikel dan 77% industri aluminium di Indonesia masih berasal dari PLTU batu bara captive.

Bank-bank Indonesia disebut mendominasi pembiayaan pembangkit listrik untuk smelter, sementara lembaga keuangan dari Malaysia dan Singapura juga memiliki peran besar dalam pendanaan sektor tersebut.

Di sisi lain, sebanyak 61% masyarakat Indonesia juga tidak menganggap nikel sebagai komoditas “hijau” apabila diproduksi menggunakan listrik dari batu bara.

Juru Kampanye Market Forces Indonesia Ginanjar Ariyasuta menilai hasil survei tersebut menjadi sinyal penting bagi sektor perbankan dan industri.

“Ini adalah alarm penting, bukan hanya bagi perbankan, tetapi juga bagi industri mineral kritis di Indonesia. Survei ini harus ditanggapi serius oleh bank dalam menentukan ke mana mereka akan mengalokasikan dana di masa mendatang,” ujarnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |