Pasar Modal Indonesia Diuji Gejolak Global, ICMSS 2026 Ungkap Strategi Bertahan

14 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Ketidakpastian global terus membayangi pasar keuangan dunia. Melalui ICMSS 2026, para pelaku industri menilai pasar modal Indonesia masih memiliki ketahanan dibandingkan tekanan yang terjadi di level global.

Gejolak ekonomi global, mulai dari pelemahan ekonomi dunia, volatilitas pasar keuangan, hingga perubahan arah kebijakan moneter, menjadi tantangan utama bagi pasar modal di berbagai negara. Namun, di tengah tekanan tersebut, pasar modal Indonesia dinilai masih menunjukkan daya tahan relatif lebih baik.

Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam The 25th ICMSS International Capital Market Seminar yang digelar di Jakarta, Rabu (5/2/2026). Kegiatan ini menjadi wadah edukasi investor muda sekaligus forum diskusi strategis mengenai posisi pasar modal Indonesia di tengah dinamika global.

Indonesia Capital Market Student Studies (ICMSS) mengusung nilai PROFGAN (Professionalism, Family, and Elegance) dengan tiga agenda utama, yakni Investment Training, International Capital Market Seminar, dan Equity Research Conference.

Tahun ini, seminar mengangkat tema “The Diverged Trajectory: Reinstating Sovereignty Through Global Disparity”, yang menyoroti perbedaan arah pemulihan ekonomi antarnegara.

Rangkaian International Capital Market Seminar Day 1 terbagi dalam tiga sesi utama yang membahas ketahanan ekonomi nasional, dinamika pasar saham, serta perubahan lanskap investasi global.

Saham dan Kripto Indonesia Dibandingkan Pasar Global

Dari perspektif pasar kripto global, Vice President of Business Development Indodax James Eugene, memproyeksikan pertumbuhan akun kripto Indonesia hingga sekitar 20 juta akun pada 2025–2026. Namun, ia menekankan bahwa pelemahan makroekonomi global pada paruh pertama tahun masih menjadi tekanan besar bagi pasar aset digital.

Menurutnya, ketidakpastian global membuat potensi rebound pasar kripto belum bisa dipastikan, meski minat investor domestik tetap tumbuh.

"Di sisi lain, tantangan regulasi global yang semakin ketat menuntut pelaku industri Indonesia untuk beradaptasi melalui inovasi dan penguatan produk," jelas dia dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).

Sementara itu, Co-Founder Revalue Academy, Faza Verdana, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih disebabkan faktor teknikal, bukan persoalan struktural ekonomi. Penyesuaian regulasi MSCI disebut menjadi salah satu faktor utama tekanan jangka pendek.

Ia justru melihat kondisi tersebut sebagai peluang agar pasar saham Indonesia dapat dinilai lebih positif oleh investor global, terutama jika stabilitas makro tetap terjaga di tengah gejolak internasional.

Peran Danantara dan Ketahanan Struktur Pasar Modal

Sesi pertama seminar mengangkat tema “From Vision to Value: How Danantara Drives Indonesia’s Growth Strategy” dengan menghadirkan Randa Silvano Bangun (Senior Vice President, Investments at Danantara Indonesia), Fidel Ramos Sinaga, dan Harry Aginta.

Diskusi menyoroti peran Danantara sebagai sovereign wealth fund dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global. Pembiayaan proyek strategis, reformasi struktural, serta tata kelola yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci menjaga daya saing pasar modal nasional.

Sesi kedua bertajuk “Broadening Horizons: Navigating Resilience in Indonesia’s Equity Market” menghadirkan Andre Simangunsong, Mark Bruny, dan Genta Wira Anjalu. Diskusi menyoroti dominasi saham berkapitalisasi besar di pasar Indonesia dan perlunya strategi kebijakan untuk menciptakan pasar yang lebih inklusif dan seimbang dibandingkan tren global.

Literasi Investor Jadi Kunci Hadapi Pasar Global

Sesi ketiga bertema “Redefining Value in the New Investment Landscape” menghadirkan Jeffry Jouw, Emir Parengkuan, Faza Verdhana, dan James Eugene. Diskusi menekankan pentingnya literasi keuangan, manajemen risiko, serta kesiapan investor menghadapi volatilitas pasar global.

Dalam sesi konferensi pers, President of the 25th ICMSS, Falito Villienuve Tandra, menegaskan bahwa ICMSS menjadi ruang pertukaran gagasan strategis antara akademisi, praktisi, dan pelaku industri.

Melalui diskusi lintas sektor ini, ICMSS diharapkan mampu memberikan insight bagi pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pasar modal Indonesia agar tetap kompetitif di tengah tekanan global. Rangkaian acara akan berlanjut pada hari kedua serta Equity Research Conference pada 9–11 Februari 2026.

Read Entire Article
Bisnis | Football |