Menko Airlangga Sebut Depresiasi Rupiah Tak Seburuk 2 Dekade Lalu

11 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut pelemahan nilai tukar rupiah saat ini jauh dari krisis. Tingkat depresiasi rupiah bahkan disebut masih jauh lebih baik dari beberapa dekade lalu.

Dia memberikan gambaran rupiah terdepresiasi hingga 40 persen pada periode 2004-2014 lalu. Kemudian, depresiasinya berada di kisaran 30 persen pada 2014-2024.

"Saya hanya menyampaikan bahwa rupiah itu di tahun 2004-2014 terdepresiasinya 40 persen dalam 10 tahun, dan itu dengan inflasi yang di tahun 2005 (sebesar) 17 persen, karena harga minyak (mentah dunia) naik ke 140 dolar per barrel. Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen, dan inflasinya 3 persen," urai Airlangga dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Dia menjelaskan, kondisi itu jauh lebih buruk dibandingkan saat ini. Dalam catatannya, pelemahan rupiah baru terjadi sekitar 5 persen dengan tingkat inflasi terjaga dalam kisaran 1,5-3,5 persen.

"Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir, dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4 (persen) dan depresiasi rupiah 5 persen," ungkapnya.

Airlangga sepakat dengan Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun yang meminta masyarakat melihat pelemahan rupiah saat ini dengan konteks yang tepat. Dia turut meyakinkan kalau kondisi ekonomi RI dalam kondisi solid.

"Jadi konteksnya saya sepakat sama Pak Misbakhun harus dilihat secara konteks. Perbankan kita hari ini solid, kemudian dari segi korporat sudah seluruhnya solid. Jadi seperti yang saya selalu sampaikan, ekonomi kita masih kuat," beber dia.

Jauh dari Krisis 1998

Sementara itu, Ketua KomisI XI DPR, Mukhamad Misbakhun menyebut pelemahan rupiah saat ini tidak bisa disamakan dengan masa krisis 1998 lalu. Sebagai contoh, depresiasi rupiah yang tembus ke Rp 17.600 saat ini tak bisa disamaratakan dengan Rp 17.000 di masa lampau.

"Rupiah kita benar berada level Rp 17.600 dan orang selalu membandingkan dengan krisis '98. Rupiah memang '98 itu pernah mencapai melewati Rp 17.800 bahkan mendekat Rp 19.000. Tetapi rupiah saat itu berada di level tersebut berangkat dari angka Rp 2.000-an, saat ini rupiah Rp 17.000 itu mengalami proses berangkat dari angka Rp 16.800-16.900 dan prosesnya itu melalui proses volatilitas yang terjaga," jelas Misbakhun.

Dia mengatakan, pelemahan rupiah saat ini mungkin berada di kisaran 5 persen. Sedangkan, pada masa krisis 1998 lalu, pelemahan rupiah mencapai ratusan persen.

"Lah ini yang harus dipahamkan oleh kita semua kepada masyarakat, jangan sampai masyarakat memahami 'oh rupiah ini, rupiah ini' dan kemudian psikologis mereka seakan-akan ada krisis yang menghantui kita," kata dia.

"Saat ini perbankan sangat solid dibawah kepemimpinan OJK, sektor keuangan juga sangat terkontrol, terkendali dalam pengaturan pengawasan," sambung Misbakhun.

Jurus BI Jaga Stabilisasi Rupiah

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan di pasar valuta asing (valas) guna meredam transaksi spekulatif dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah menurunkan batas pembelian dolar Amerika Serikat (AS) tanpa underlying atau dokumen pendukung dari USD50.000 menjadi USD25.000 mulai Juni 2026.

Direktur di Departemen Pendalaman Pasar Keuangan (DPPK) Bank Indonesia, Ruth Cussoy Intama, mengatakan kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari upaya BI mengendalikan transaksi valas yang berpotensi bersifat spekulatif.

Menurutnya, langkah serupa sebelumnya telah menunjukkan hasil positif dalam menekan permintaan dolar tanpa kebutuhan transaksi yang jelas.

“ini rencana lanjutan, sudah diumumkan oleh Dewan Gubernur kami, masih di godok ya, tapi kemungkinan besar ini per Juni ini akan berlaku adalah kita turunkan lagi nih dari USD 50.000 menjadi USD 25.000,” kata Ruth dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).

Upaya Selamatkan Ekonomi

Ruth menjelaskan kondisi ekonomi global saat ini semakin menantang karena hampir seluruh negara berupaya menyelamatkan perekonomiannya masing-masing.

Situasi tersebut membuat gejolak di pasar keuangan global lebih sulit dikendalikan dibandingkan periode sebelumnya.

“Sekarang semua negara berusaha menyelamatkan ekonominya masing-masing, termasuk kita juga,” ujarnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |