India dan AS Teken Kesepakatan Mineral Kritis, Kurangi Ketergantungan ke China

7 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - India dan Amerika Serikat (AS) resmi menandatangani kerangka kerja sama strategis di sektor mineral kritis dan logam tanah jarang (rare earth). Kesepakatan tersebut mencakup kegiatan pertambangan, pengolahan, daur ulang hingga investasi yang terkait dengan rantai pasok mineral penting untuk industri teknologi masa depan.

Kesepakatan itu diteken oleh Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di New Delhi, Selasa waktu setempat.

Dikutip dari aljazeera, Rabu (27/5/2026), kerja sama tersebut dinilai menjadi langkah penting bagi kedua negara dalam mengamankan pasokan bahan baku yang dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik, semikonduktor, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga kebutuhan pertahanan.

Kesepakatan ini juga muncul ketika AS terus berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap China yang selama ini mendominasi pasar global mineral kritis dan logam tanah jarang.

Selain kesepakatan bilateral dengan AS, India juga mengumumkan kerangka kerja sama mineral kritis bersama negara-negara anggota Quad yang terdiri dari AS, Jepang, Australia, dan India.

Kegunaan Mineral Kritis

Mineral kritis merupakan mineral non-bahan bakar yang memiliki peran penting dalam produksi berbagai perangkat teknologi modern.

Mineral seperti nikel, kobalt, litium, aluminium dan seng digunakan dalam pembuatan baterai, kabel, perangkat semikonduktor, peralatan militer, hingga berbagai produk elektronik.

Selain itu, terdapat sekitar 17 unsur logam tanah jarang yang menjadi bagian penting dari kelompok mineral kritis.

Logam tersebut memiliki sifat magnet khusus dan digunakan dalam produksi magnet permanen untuk kendaraan listrik, pembangkit energi terbarukan, perangkat medis, serta teknologi AI.

Saat ini China masih memegang posisi dominan dalam industri tersebut.

Negara itu diperkirakan memiliki sekitar 60% cadangan mineral tanah jarang dunia dan mengolah sekitar 90% pasokan global.

Kondisi tersebut membuat banyak negara, termasuk AS, berupaya mencari sumber pasokan alternatif guna mengurangi risiko gangguan rantai pasok.

Pangkas Dominasi Pemasok Tunggal

Kementerian Luar Negeri India menyebut kerja sama baru tersebut bertujuan memperdalam kolaborasi kedua negara dalam seluruh rantai pasok mineral kritis.

Kerja sama itu mencakup sektor pertambangan, pengolahan, daur ulang hingga investasi pendukung.

Kedutaan Besar AS di India juga menegaskan kerja sama tersebut bertujuan mengurangi kerentanan terhadap dominasi pemasok tunggal.

"Melalui kerangka kerja ini, Amerika Serikat dan India akan terlibat dalam upaya internasional untuk melindungi rantai pasok sensitif dari praktik pasar yang bersifat memaksa dan mengurangi kerentanan kolektif terhadap monopoli sumber tunggal," demikian pernyataan Kedutaan Besar AS di India.

Meski demikian, kedua negara belum menjelaskan secara rinci mekanisme pelaksanaan kerja sama tersebut.

Cadangan Mineral Kritis India

India sendiri memiliki sejumlah cadangan mineral kritis yang cukup besar.

Pemerintah India pada 2023 menetapkan sekitar 30 jenis mineral sebagai mineral kritis nasional, termasuk litium, nikel, tembaga, grafit, silikon, titanium, hingga unsur tanah jarang.

Berdasarkan data pemerintah India, negara tersebut memiliki sekitar 13,15 juta ton monasit, yakni mineral fosfat yang mengandung oksida tanah jarang.

Cadangan itu diperkirakan mengandung sekitar 7,23 juta ton oksida tanah jarang.

Namun, meski memiliki cadangan besar, India saat ini baru memproduksi empat mineral kritis, yaitu tembaga, grafit, fosfor, dan titanium.

Keterbatasan eksplorasi serta infrastruktur pengolahan masih menjadi tantangan utama.

Kerja Sama Negara Quad

Selain kerja sama India-AS, negara-negara anggota Quad juga meluncurkan inisiatif kerja sama mineral kritis berskala besar.

Melalui inisiatif tersebut, pemerintah dan sektor swasta dari negara anggota berencana menggerakkan pendanaan hingga USD 20 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung proyek pertambangan, pengolahan, serta daur ulang mineral kritis agar rantai pasok menjadi lebih kuat dan tidak bergantung pada segelintir pemasok global.

Negara-negara anggota juga sepakat berbagi praktik terbaik terkait perizinan, regulasi, hingga teknologi pengolahan mineral.

AS sendiri sebelumnya telah menjalin berbagai kesepakatan serupa dengan sejumlah negara lain seperti Argentina, Uni Emirat Arab, Inggris, Filipina, Maroko hingga Pakistan sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan mineral kritis global.

Read Entire Article
Bisnis | Football |