Harga Susu Impor Naik Imbas Rupiah Melemah, Pemerintah Cari Solusi

7 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat adanya dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terhadap harga susu impor. Sejumlah strategi turut disusun untuk meredam dampak langsung ke Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Pangan, Widyastuti mengatakan ada dampak pelemahan rupiah terhadap bahan baku susu impor. Mengingat lagi, masih ada porsi mayoritas yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan nasional.

"Misalnya ini kan ada posisi tadi 20 persen di dalam (negeri), berarti 80 persennya impor, berarti menjaga ketersediaan pasokan susu impor itu tetap ada," ucap Widyastuti dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Anak buah Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan ini melihat ada sejumlah strategi yang bisa dilakukan untuk meredam dampak langsung kenaikan harga susu impor ini. Misalnya, dengan kontrak pembelian jangka panjang agar tetap mengacu pada harga yang disepakati dan menghindari fluktuasi harga.

"Kemudian kita lakukan dengan diversifikasi terhadap negara yang memang tidak mempunyai dampak langsung terkait hal tersebut," ucapnya.

Widyastuti melihat lagi perlunya efisiensi rantai pasok untuk mengurangi peningkatan biaya logistik hingga penyimpanannya. Pada saat yang sama, dilakukan peningkatan produksi dalam negeri sebagai substitusi susu impor.

"Kita sih berharap adanya juga dukungan dari pembiayaan yang bisa di mana ada kredit yang mempunyai bunga rendah untuk sisi peternak, sehingga peternak itu semakin termotivasi dan untuk melakukan produksi lebih bagus lagi, dan kemudahan akses bagi peternak," jelas dia.

Harga Sapi dan Susu Impor Naik

Sebelumnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut berdampak pada harga sapi perah maupun susu impor dari luar negeri. Meskipun, kenaikannya tidak langsung dibebankan kepada konsumen.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widyastuti mengamini ada dampak pelemahan rupiah terhadap bahan baku susu impor. Mengingat lagi 80 persen kebutuhan susu nasional dipasok dari impor.

"Ada pengaruh? Jelas pasti ada. Karena di sini terlihat memang susu ini banyak pemanfaatannya yang harus kita tingkatkan untuk ketahanan tangan, dalam hal ini untuk gizi dan lainnya," ucap Widyastuti dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Harga Sapi Perah Naik

Kenaikan juga terjadi pada harga sapi perah impor. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian, Makmun mengamini ada kenaikan harga sapi perah yang diimpor ke Indonesia. Dua negara asal pemasok sapi perah yakni Australia dan Selandia Baru.

"Umumnya kita ngambilnya dari Australia, umumnya teman-teman ini walaupun negara seperti New Zealand juga, beberapa negara yang lain, kita tidak ada masalah. Karena mungkin posisinya deket, dan dengan kenaikan dolar, ada kenaikan dari harga sapinya," kata Makmun.

Informasi, nilai tukar rupiah telah mencapai Rp 17.800 per dolar AS. Makmun mengaku belum menghitung dampak ke harga sapi perah impor terbaru. Hanya saja, sebagai gambarannya, Makmun menyebut harga sapi perah impor masih di bawah Rp 50 juta per ekor.

"Kemarin rata-rata teman-teman mengimpor harga sekitar Rp 45 juta per ekornya sapi perah bunting. Tahun ini tidak juga sampai di Rp 50 juta, ada kenaikan, tapi tidak terlalu jauh juga sih dari kondisi yang ada," beber dia.

Biaya Produksi Naik

General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Tjatur Lestijaman, mengamini biaya produksinya naik imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah. Hanya saja, kata dia, kenaikannya tak lebih dari 10 persen.

Tjatur bilang, biaya produksi dari sisi pemenuhan bahan baku mengalami kenaikan. Pada saat yang sama, perusahaan turut melakukan efisiensi di beberapa lini produksi, sehingga kenaikan tersebut tidak langsung dibebankan ke harga di tingkat konsumen.

"Memang ada ya pengaruhnya, tapi karena kita masih ada penyerapan susu lokal juga, secara total produksi tadi disampaikan 20 persen masih ada lokal. Kemudian ada efisiensi program-program efisiensi di pabrik kami, sehingga dampaknya itu kita bisa redam tidak lebih sampai 10%, gak sampai," jelas Tjatur.

Read Entire Article
Bisnis | Football |