Harga Perak Antam Hari Ini 21 Agustus 2026 Naik Rp 600

12 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik pada perdagangan Jumat, (21/8/2026). Kenaikan harga perak Antam hari ini mengikuti harga perak dunia.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini naik Rp 600 menjadi Rp 45.300. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dibanderol Rp 44.700.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dibanderol Rp 11.850.000 (belum tersedia) dan perak batangan 500 gram Rp 22.775.000 (tersedia).

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip laman tradingeconomics.com, harga perak dunia naik 1,41% menjadi US$ 69,03 pada Jumat pekan ini.

Harga perak diperdagangkan di atas US$ 68 per ons pada Jumat pekan ini, dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan dalam tiga minggu berturut-turut. Hal ini seiring langkah investor beralih ke logam safe haven di tengah meningkatnya volatilitas di pasar mata uang dan obligasi. Sementara itu, kenaikan harga minyak terus mempertegas risiko inflasi.

Logam mulia ini melonjak lebih dari 5% pekan ini setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana melipatgandakan pembelian kembali utang jangka panjang untuk menekan biaya pinjaman, yang memicu penurunan tajam pada imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS dan nilai tukar dolar AS.

Harga perak tetap menguat bahkan setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS berbalik naik, memulihkan penurunan pada Rabu di tengah kekhawatiran upaya pemerintah untuk mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang mungkin hanya memberikan solusi sementara.

Sementara itu, harga minyak melanjutkan tren kenaikannya saat AS bersiap menerapkan sanksi ekonomi baru yang menyeluruh terhadap Iran, di tengah kebuntuan hubungan kedua pihak terkait Selat Hormuz.

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas dunia melemah tipis pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026 (Jumat pagi Jakarta). Meski demikian, harga emas dunia memulihkan sebagian koreksi sebelumnya dan diperdagangkan relatif stabil seiring prospek suku bunga riil jangka panjang lebih rendah mengimbangi risiko inflasi tinggi yang terus berlanjut akibat kenaikan harga minyak.

Mengutip CNBC, Jumat (21/8/2026), harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 4.516,19 per ons setelah sempat merosot ke level terendah US$ 4.450,08. Harga emas itu turun dari level tertinggi sejak 2 Juni yang sempat dicapai sebelumnya pada sesi itu.

Harga emas sempat melonjak lebih dari 4% pada Rabu pekan ini, setelah dolar AS dan imbal hasil obligasi turun tajam setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana peningkatan pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,6% ke level US$ 4.571,40.

"Emas mengalami tekanan aksi ambil untung yang wajar setelah kenaikan tajam pada sesi sebelumnya,” ujar Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Ia menambahkan, risalah rapat Federal Reserve (the Fed) AS yang bernada agak hawkish (cenderung mendukung pengetatan kebijakan) yang dirilis Rabu, ditambah dengan kenaikan harga minyak, telah memicu kembali kekhawatiran inflasi dan turut menekan harga logam mulia tersebut.

Sentimen Harga Emas Lainnya

Namun, emas berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan wawancara dengan CNBC pada Kamis, pemerintah mungkin akan meningkatkan pembelian kembali obligasi negara (treasury), dengan nilai yang bisa melebihi US$ 4 miliar atau Rp 71,05 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760) per penerbitan.

"Emas terbantu oleh prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah," kata analis independen Tai Wong.

Meskipun investor sering menganggap emas sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan permintaan karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Risalah rapat The Fed Juli menyoroti kekhawatiran sejumlah pembuat kebijakan mengenai inflasi dan menunjukkan, beberapa pejabat masih terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 67,4%  The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, menurut data CME FedWatch Tool.

Harga minyak melanjutkan tren kenaikannya hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu, seiring macetnya perundingan terkait konflik Iran yang terus memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dari Timur Tengah.

"Mengingat para ekonom kami di AS memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan saat ini, kami melihat adanya peluang harga emas melampaui US$ 5.000 per ons pada tahun 2027 atau bahkan lebih cepat namun juga disertai potensi volatilitas," ungkap analis Morgan Stanley dalam sebuah catatan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |