Harga Minyak Naik Dampak Trump Kembali Ancam Bom Iran

17 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Rabu waktu Amerika Serikat (AS) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran belum bersifat final.

Trump bahkan mengancam akan melanjutkan pengeboman jika Teheran tidak menunjukkan sikap yang sesuai dengan keinginan Washington.

Mengutip CNBC, Kamis (18/6/2026), harga minyak mentah Brent ditutup naik 59 sen atau 0,75% menjadi US$ 79,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 74 sen atau 0,97% ke level US$ 76,79 per barel.

Pernyataan Trump memunculkan kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Sebelumnya, AS dan Iran pada Minggu lalu menyatakan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Namun, Trump menegaskan bahwa nota kesepahaman dengan Iran belum bersifat final.

Trump mengatakan dirinya dapat melanjutkan serangan udara jika tidak menyukai hasil kesepakatan tersebut atau jika Iran tidak "berperilaku baik".

Pernyataan itu membuat pelaku pasar kembali mempertimbangkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu wilayah penghasil minyak terbesar dunia.

Ketegangan Timur Tengah Masih Membayangi Pasar

Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai masih ada ketidakpastian terkait hubungan AS dan Iran menjadi alasan utama harga minyak kembali menguat setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.

"Masih ada sedikit ketidakpastian terkait situasi AS. Wajar jika harga minyak memantul dari level saat ini setelah mengalami penurunan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir," kata Razaqzada.

Selain ketegangan antara Washington dan Teheran, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga belum sepenuhnya stabil.

Pada Rabu, serangan udara Israel dan tembakan artileri dilaporkan kembali terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Sumber keamanan Lebanon menyebut kelompok Hizbullah juga meluncurkan dua serangan drone terhadap pasukan Israel di wilayah tersebut.

Padahal, nota kesepahaman yang disepakati sebelumnya menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik di kawasan masih dapat meluas dan mengganggu distribusi energi global sewaktu-waktu.

Pasokan Ketat Saat Ini, Kelebihan Minyak Mengancam Tahun Depan

Dari sisi pasokan, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam turun selama 10 pekan berturut-turut pada pekan lalu.

Penurunan stok terjadi karena lonjakan permintaan di tengah dampak perang Iran yang masih mengganggu pasar energi global. Total cadangan minyak AS kini berada pada level terendah sejak 1985.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan banyak negara saat ini terus menguras cadangan strategis maupun stok komersial guna mengurangi dampak gangguan pasokan dari Timur Tengah.

"AS dan negara-negara lain di dunia terus menggunakan cadangan strategis maupun persediaan komersial dalam upaya mengurangi gangguan pasokan dari Timur Tengah," ujarnya.

Prospek Jangka Panjang

Meski demikian, prospek jangka panjang menunjukkan tantangan berbeda. Dalam proyeksi awal untuk 2027, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar minyak global akan menghadapi kelebihan pasokan yang cukup besar.

IEA memproyeksikan pasokan minyak dunia akan meningkat hingga 8 juta barel per hari, sementara permintaan hanya bertambah sekitar 2 juta barel per hari.

Analis riset Empire FX, Crispus Nyaga, menilai pasar saat ini kemungkinan belum sepenuhnya memperhitungkan besarnya risiko surplus pasokan tersebut.

"Pasar mungkin masih meremehkan besarnya kelebihan pasokan yang akan masuk ke pasar," kata Nyaga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |