Harga Minyak Dunia Turun 7 Persen, 48 Jam ke Depan Sangat Krusial

8 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Rabu setelah muncul optimisme bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.

Mengutip CNBC, Kamis (7/5/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional anjlok hampir 8% dan ditutup di level USD 101,27 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS turun sekitar 7% menjadi USD 95,08 per barel.

Dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui pembahasan perdamaian mengatakan kepada Axios bahwa Gedung Putih meyakini semakin dekat dengan memorandum kesepahaman berisi 14 poin untuk mengakhiri perang dan membuka jalan bagi pembicaraan nuklir lebih rinci.

Namun, Presiden AS Donald Trump masih meragukan kesepakatan tersebut akan benar-benar tercapai.

Trump mengatakan anggapan bahwa Iran akan menerima proposal tersebut mungkin merupakan “asumsi besar.” Ia juga mengancam akan kembali melancarkan serangan militer jika Iran menolak kesepakatan damai.

“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai lagi, dan sayangnya skalanya akan jauh lebih besar dan intens dibanding sebelumnya,” kata Trump dalam unggahan media sosialnya.

AS Tunggu Respons Iran dalam 48 Jam

Menurut laporan Axios, AS kini menunggu respons Iran terhadap sejumlah poin penting dalam proposal tersebut dalam waktu 48 jam ke depan.

Meski belum ada kesepakatan final, sejumlah sumber menyebut kondisi saat ini menjadi titik terdekat Washington dan Teheran menuju perjanjian damai sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran kepada CNBC mengatakan pemerintah Iran masih “mengevaluasi” proposal perdamaian dari Washington.

Sebelumnya pada Rabu, Iran menegaskan hanya akan menerima kesepakatan damai yang dianggap “adil.”

Di sisi lain, Trump pada Selasa mengumumkan penghentian sementara “Project Freedom,” operasi militer yang baru diluncurkan sehari sebelumnya untuk mengawal kapal dagang melintasi Selat Hormuz.

Trump menyebut keputusan tersebut diambil karena adanya kemajuan negosiasi dengan Iran menuju kesepakatan final.

Pemerintahan Trump juga mengungkapkan sekitar 23 ribu pelaut dari kapal-kapal milik 87 negara sempat terjebak di Teluk Persia setelah Iran secara efektif menutup jalur Selat Hormuz.

Pasar Energi Masih Rentan Bergejolak

Kepala Strategi Komoditas bank Belanda ING, Warren Patterson, mengatakan kesepakatan yang dapat menormalkan kembali arus minyak melalui Selat Hormuz sangat penting bagi pasar global.

“Sekitar 13 juta barel per hari pasokan yang terganggu sejauh ini masih ditopang oleh persediaan, namun stok tersebut jelas terus menurun dengan cepat,” tulis Patterson dalam catatan risetnya.

Ia menambahkan kondisi itu membuat pasar minyak semakin rentan dari hari ke hari. Persediaan yang semakin ketat juga membuat perdagangan minyak menjadi jauh lebih volatil.

Sementara itu, Co-Head Fixed Income Azimut Group, Nicolo Bocchin, mengingatkan lonjakan harga minyak dan energi sebelumnya sudah mulai menekan permintaan global.

Menurut Bocchin, sekalipun Selat Hormuz kembali dibuka, normalisasi pengiriman dan perdagangan global tetap membutuhkan waktu yang panjang.

“Bahkan jika jalur laut kembali dibuka, proses normalisasi pengiriman dan arus perdagangan masih akan memakan waktu berminggu-minggu,” ujarnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |