Harga Emas Pegadaian 9 Juni 2026: Antam dan Galeri24 Naik, UBS Turun Tipis

16 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual oleh PT Pegadaian (Persero) bergerak di dua arah. Untuk harga emas Pegadaian produk Antam dan Galeri24 naik sementara harga emas produk UBS turun. 

Mengutip laman Sahabat Pegadaian, Selasa (9/6/2026),  untuk Antam naik menjadi Rp 2.853.000 per gram dari perdagangan kemarin Rp 2.848.000 per gram. Harga emas produk Galeri24 juga naik menjadi Rp 2.734.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.729.000 per gram. 

Sedangkan harga emas UBS turun tipis menjadi Rp 2.757.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.759.000 per gram. Harga emas Pegadaian ini bisa berubah sewaktu-waktu.

Untuk Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram, emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram, sementara Antam di Pegadaian hanya tersedia hingga 100 gram.

Daftar lengkap harga emas Pegadaian:

Galeri24

  • 0,5 gram: Rp 1.434.000
  • 1 gram: Rp 2.734.000
  • 2 gram: Rp 5.402.000
  • 5 gram: Rp 13.405.000
  • 10 gram: Rp 26.739.000
  • 25 gram: Rp 66.487.000
  • 50 gram: Rp 132.868.000
  • 100 gram: Rp 265.605.000
  • 250 gram: Rp 662.381.000
  • 500 gram: Rp 1.324.761.000
  • 1.000 gram: Rp 2.649.521.000

Antam

  • 0,5 gram: Rp 1.479.000
  • 1 gram: Rp 2.853.000
  • 2 gram: Rp 5.644.000
  • 3 gram: Rp 8.439.000
  • 5 gram: Rp 14.030.000
  • 10 gram: Rp 28.002.000
  • 25 gram: Rp 69.875.000
  • 50 gram: Rp 139.667.000
  • 100 gram: Rp 279.253.000

UBS

  • 0,5 gram: Rp 1.490.000
  • 1 gram: Rp 2.757.000
  • 2 gram: Rp 5.471.000
  • 5 gram: Rp 13.519.000
  • 10 gram: Rp 26.895.000
  • 25 gram: Rp 67.107.000
  • 50 gram: Rp 133.938.000
  • 100 gram: Rp 267.771.000
  • 250 gram: Rp 669.231.000
  • 500 gram: Rp 1.336.892.000.

Harga Emas Bangkit Terdorong Harapan Gencatan Senjata Israel-Iran

Harga emas dunia berhasil memangkas kerugian dan berbalik menguat pada perdagangan Senin setelah muncul harapan terkait potensi gencatan senjata antara Israel dan Iran.

Meski demikian, kenaikan harga emas masih terbatas karena data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip  CNBC, Selasa (9/6/2026), harga emas spot naik 0,33% menjadi US$ 4.343,03 per ons. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 23 Maret di posisi US$ 4.268,39 per ons.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus naik tipis 0,05% ke level US$ 4.367,30 per ons.

Sentimen positif bagi emas muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Iran tengah mengupayakan gencatan senjata dalam waktu dekat.

Trump mengatakan kedua negara sedang berupaya mewujudkan gencatan senjata segera dan negosiasi akhir menuju perdamaian terus berlangsung.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals Peter Grant mengatakan, kabar tersebut membantu mengangkat harga emas dari titik terendahnya.

"Emas bangkit dari level terendah yang terjadi di pasar luar negeri hanya karena adanya kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Hal itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga," ujar Grant.

Harapan Perdamaian Kurangi Daya Tarik Aset Safe Haven

Selama ini emas dikenal sebagai aset safe haven yang banyak diburu investor saat terjadi konflik geopolitik atau ketidakpastian ekonomi.

Namun, jika kesepakatan damai benar-benar tercapai, risiko inflasi akibat lonjakan harga energi berpotensi mereda. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga seperti instrumen investasi lainnya.

Selain itu, penguatan dolar AS turut membatasi ruang kenaikan harga emas. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut bergerak mendekati level tertinggi dalam hampir dua bulan setelah laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar.

Dolar yang menguat membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 43%.

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan sekitar 14% yang tercatat sebulan lalu.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang diyakini dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) untuk Mei dijadwalkan dirilis pada Rabu, sementara data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) akan diumumkan pada Kamis.

Kedua indikator tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi keputusan The Fed terkait kebijakan moneternya ke depan.

Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai harga emas berpotensi kembali tertekan apabila data inflasi AS menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

"Emas berpotensi menguji level psikologis penting di US$ 4.000 sebagai area dukungan utama jika pasar menerima data CPI yang lebih panas dari perkiraan pekan ini, atau jika FOMC menunjukkan sikap yang sangat hawkish pada pertemuan pekan depan," ujar Tan.

FOMC atau Federal Open Market Committee merupakan komite di bawah Federal Reserve yang bertugas menentukan arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.

Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak spot naik 1% menjadi US$ 68,52 per ons. Sebaliknya, platinum turun 1,3% ke level US$ 1.752,87 per ons, sedangkan paladium melemah 1,3% menjadi US$ 1.209,29 per ons.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |