ESDM: Harga BBM RON 92 di Negara Tetangga Rp 21.000

6 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia mengatakan kenaikan harga BBM Pertamax masih di bawah keekonomian. Pemerintah turut menjamin harga BBM subsidi tidak naik.

Diketahui, harga Pertamax naik ke Rp 16.250 per liter dari Rp 12.300 per liter. Anggia mengatakan angka ini masih jauh di bawah harga keekonomian untuk BBM dengan kadar RON 92 di negara lain.

"Kalau kita berbicara harga keekonomian untuk BBM nonsubsidi khususnya RON 92, kalau kita melihat negara tetangga itu di angka Rp 20.000-21.000 (per liter)," ungkap Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

"Jadi kenaikan atau penyesuaian yang dilakukan sekarang ini sebenarnya masih jauh di bawah harga keekonomian. Namun ini adalah pilihan terbaik jalan tengah, agar dua-duanya bisa survive," sambung dia.

Anggia menerangkan, ketersediaan BBM di tengah-tengah masyarakat tetap dijaga. Meski pun dia mengakui tetap ada dampaknya terhadap pengeluaran. Dia turut memastikan kelompok rentan terap dijaga dengan tidak ada kenaikan BBM subsidi.

"Sedikit banyak pasti akan ada dampaknya. Tapi yang paling penting adalah balik lagi. Kelompok rentan dijaga daya belinya dengan menahan harga BBM subsidi untuk tidak naik, Pertalite, dan Solar tidak akan naik," tandasnya.

Bukan Harga Asli

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengungkap kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax baru setengahnya dari harga asli. Kenaikan harga BBM ini dinilai tak akan berpengaruh pada tingkat inflasi.

Diketahui, Pertamax naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan ini, diakui Dony, masih berada di dibawah harga aslinya. Meskipun ada kenaikan hampir Rp 4.000 per liter.

"Tetapi itu pun sebetulnya kita hanya 50 persen dari harga real-nya, dan itu sudah melewati proses dengan Menteri ESDM. Jadi Kementerian ESDM lalu Ditjen (Minyak dan Gas Bumi) menyepakati untuk melakukan itu," ucap Dony, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Ikut Harga Pasar

Dia menerangkan, BBM nonsubsidi termasuk seri Pertamax lazimnya mengikuti harga pasar. Artinya, ketika ada kenaikan biaya harga minyak dunia (crude oil), maka harga BBM bisa naik. Sebaliknya, jika harga minyak dunia turun, harga BBM juga berpotensi ikut turun.

Dony mengamini kenaikan Pertamax untuk mengurangi beban Pertamina yang menanggung gejolak harga minyak dunia. Belum lagi, kata dia, Pertamax merupakan BBM bagi masyarakat golongan mampu.

"Itu memang kan, memang mandatnya kalau Pertamax itu harus mengikuti harga pasar kan, kalau tidak nanti masa ditanggung terus-terusan. Karena itu kan untuk kelas menengah ke atas kan," kata Kepala Badan Pengaturan BUMN ini.

Tak Mengganggu Inflasi

Dony mengaku sepakat dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai kenaikan harga Pertamax tak akan pengaruhi inflasi. Menurutnya, Pertamax bukan bahan bakar yang digunakan untuk transportasi massal.

"Tidak, tidak akan berdampak seperti itu. Karena kan pemakaian Pertamax ini kan kelas menengah ke atas, bukan untuk industri, bukan untuk transportasi massal. Itu yang dimaksudkan oleh Pak Menkeu," terangnya.

"Jadi tidak akan berdampak terhadap inflasi. Tidak usah terlalu khawatir, kita harus optimis dan tenang," sambungnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |