Dolar AS Berpotensi Menguat Pekan Depan, Ini Dua Faktor Pemicunya

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan global bersiap menghadapi pekan yang dinamis seiring munculnya sinyal penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar kini tengah mencermati kelanjutan rencana damai antara AS dan Iran serta rilis kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama dunia.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan indeks dolar AS masih berpotensi menguat pada perdagangan pekan depan dengan level resistance di 100,700.

"Indeks dolar dalam perdagangan minggu depan kemungkinan besar akan ditransaksikan di 99,100 support-nya, kemudian resistance-nya di 100,700. Jadi masih ada indikasi bahwa indeks dolar Amerika itu akan kembali menguat di level 100,700," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).

Ia mengatakan pergerakan indeks dolar AS akan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni perkembangan geopolitik dan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

"Jadi cuma ada dua faktor yang akan memengaruhi pergerakan indeks dolar, minyak mentah, kemudian harga emas dan logam mulia," katanya.

Sentimen Geopolitik

Dari sisi geopolitik, Ibrahim menyoroti pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyebut kesepakatan damai dengan Iran dijadwalkan akan ditandatangani pada Minggu. Salah satu poin dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan Selat Hormuz serta pencairan dana Iran yang sebelumnya dibekukan oleh AS.

Meski demikian, ia menilai masih terdapat pandangan bahwa perjanjian tersebut berpotensi menghadapi kendala dalam implementasinya. Selain itu, potensi konflik antara Israel dan Lebanon juga masih menjadi perhatian pasar.

Menurut Ibrahim, indikasi perdamaian tersebut telah mendorong penurunan harga minyak mentah. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap pergerakan dolar AS dan harga emas.

Ia menjelaskan pelemahan harga emas dunia sebelumnya dipicu oleh blokade Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak dan dolar AS meningkat, sehingga mendorong kenaikan inflasi akibat meningkatnya harga barang impor.

Hasil Pertemuan Sejumlah Bank Sentral Global

Selain faktor geopolitik, Ibrahim mengatakan pertemuan sejumlah bank sentral global pada pekan depan juga akan menjadi perhatian pelaku pasar. Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England (BoE), Bank of Japan (BoJ), serta The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter.

Menurutnya, bank sentral di Eropa, Inggris, dan Jepang berpotensi menaikkan suku bunga seiring kenaikan harga minyak yang memicu inflasi. Sementara itu, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang.

"Nah, di Amerika sendiri, Bank Sentral Amerika kemungkinan besar dalam pertemuan minggu depan itu akan mempertahankan suku bunga," ujar Ibrahim.

Namun, ia mengatakan apabila lonjakan harga minyak masih berlanjut dan inflasi berada di atas 2%, terdapat kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.

Di sisi lain, apabila kesepakatan antara AS dan Iran terealisasi sehingga harga minyak turun, kondisi tersebut dinilai akan memberikan dampak positif terhadap bank sentral untuk kembali menurunkan suku bunga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |