Desa Wisata di Dieng Pancing Turis Lewat Pertanian

7 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah terus mengembangkan diri untuk menarik wisatawan. Seperti yang dilakukan Desa Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, yang ditopang oleh program Bakti BCA.

Kepala Desa Wisata Patakbanteng Solichin menceritakan, kisah awal kampungnya sebagai destinasi wisata bermula ketika Patakbanteng mewakili Kabupaten Wonosobo di lomba desa wisata pada 2004, dan sukses menjadi juara 1 di bidang resiliensi.

Setelahnya, Desa Patakbanteng mulai merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata yang diinisiasi oleh warga setempat. Solichin lantas mencontohkan profesi ojek pangkalan alias opang, yang kerap membantu para pendaki Gunung Prau untuk menjangkau pos pendakian.

"Karena perlu kita ketahui bahwa dari ojek saja, dari masyarakat itu sudah ada 100 (orang) lebih yang terlibat. Dan kalau di weekend itu kadang ada yang sampai 50 kali ya untuk membawa si teman-teman pengunjung itu. Itu di ekonomi sih sudah lumayan," ujar dia saat berbincang dengan rekan media di Desa Patakbanteng, Wonosobo, Jawa Tengah, Kamis (11/6/2026).

Tak hanya ojek, banyak warga setempat menjadi pengusaha UMKM dengan membuka warung yang beroperasi 24 jam. Selain itu ada pelaku industri rumahan (home industry) yang menjajakan pangan olahan dari buah carica (pepaya gunung), keripik kentang, hingga olahan tanaman endemik.

"Ada purwaceng seperti gingseng Jawa, itu juga dikembangkan di desa Patakbanteng. Sehingga dengan kegiatan pariwisata secara otomatis sangat-sangat menopang ekonomi di desa kami," ungkap dia.

Anak Muda Lupakan Pertanian

Dari berbagai benefit yang didapat, Solichin turut mengungkap adanya tantangan besar, ketika generasi muda setempat mulai melupakan sektor pertanian.

Tidak ingin hal ini terus berlarut, ia dan banyak warga desa memutar otak untuk berinovasi menyelaraskan sektor pariwisata dengan pertanian, yakni dengan mengembangkan sektor agrowisata.

"Karena petani itu kan penyedia kebutuhan pokok di negara kita. Jadi kita ingin mengembangkan yang namanya agrowisata. Bagaimana caranya teman-teman atau tamu-tamu yang datang ke Patakbanteng bisa belajar menanam, melihat panen secara live dengan pemandangan yang seperti ini," urainya.

Minta Bimbingan BCA

Dalam mengembangkan potensi agrowisata ini, pengurus desa wisata Patakbanteng turut meminta dukungan kepada BCA melalui program Bakti BCA. Sehingga wisatawan nantinya bisa menyaksikan masa panen sembari camping.

"Nanti kalau ada yang bisa nge-camp di sini sambil melihat kegiatan petani, cara mereka merawat tanaman, cara menyiangi, menanam, panen dan sebagainya," kata Solichin.

"Itu harapan kami ke depan dengan adanya bimbingan program dari BCA. Ke depannya kita bisa meningkatkan semangat teman-teman muda untuk bertani lagi," dia menekankan.

Konservasi Bibit Endemik

Meskipun sektor pariwisata telah banyak menghidupi desa Patakbanteng, Solichin tak ingin serta-merta melupakan alam. Lantaran itu jadi salah satu umpan bagi turis untuk berkunjung ke sana demi mendaki Gunung Prau.

Dengan begitu, pengurus desa wisata Patakbanteng tengah mengembangkan rumah bibit, untuk mengurus berbagai bibit endemik Gunung Prau.

"Terkait konservasi, kita juga mempunyai rumah bibit yang mana di Gunung Prau itu tiga bulan kita biasanya tutup, Januari, Februari, Maret. Kenapa tutup? Karena bulan-bulan tersebut suhu hujan cukup tinggi untuk melakukan pendakian. Dan di bulan-bulan tersebut sangat bagus untuk penanaman," tutur dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |