Citi Pangkas Target Harga Emas, Ini Penyebabnya

18 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Tim riset komoditas Citigroup memangkas target harga emas untuk tiga bulan ke depan menjadi US$ 4.000 per ounce dari US$ 4.300. Analis Citi menyebutkan, alasan utama harga emas dunia dipangkas seiring perbaikan kondisi makro dan latar belakang permintaan yang kurang mendukung.

"Kami melihat katalis terbatas untuk pergerakan naik yang berkelanjutan dalam jangka waktu yang sangat dekat,” demikian disebutkan dalam catatan riset Citigroup dikutip dari Kitco, Rabu, (10/6/2026).

Citi menunjuk pada kombinasi faktor, termasuk stabilisasi imbal hasil riil, dolar Amerika Serikat (AS) jangka pendek yang lebih kuat, dan melemahnya premi aset aman di tengah meredanya ketegangan geopolitik.

Para analis juga mencatat, permintaan emas fisik dari bank sentral dan arus masuk Exchange Trade Fund (ETF) telah moderat, mengurangi momentum reli.

"Potensi kenaikan jangka pendek tampaknya terbatas kecuali kita melihat guncangan baru,” kata mereka.

 Meskipun prospek jangka pendek untuk emas lebih lemah, analis Citi mengatakan masih ada potensi harga emas untuk naik di atas US$ 4.000 selama musim panas jika ekonomi melemah tajam atau jika inflasi kembali meningkat.

Perkiraan harga emas jangka panjang Citi tidak berubah, dengan target 6-12 bulan sebesar US$ 4.500 per ounce. Hal itu bergantung pada perubahan kebijakan Federal Reserve (the Fed) yang lebih lunak atau meningkatnya gejolak geopolitik.

Perkiraan harga emas raksasa perbankan ini telah turun tajam sejak koreksi pasar yang dramatis awal tahun ini. Pada 13 Januari, para ahli strategi Citi yang dipimpin oleh Kenny Hu menaikkan target 0-3 bulan mereka untuk emas menjadi US$ 5.000 per ounce dan perak menjadi US$ 100 per ounce pada Selasa, karena memproyeksikan pasar bullish untuk logam mulia akan berlanjut hingga awal 2026.

Sentimen Harga Emas

Para ahli strategi menyebutkan "risiko geopolitik yang meningkat, kekurangan pasar fisik yang berkelanjutan, dan ketidakpastian yang diperbarui tentang independensi Fed" sebagai alasan peningkatan tersebut.

Meskipun kedua logam tersebut mencapai rekor tertinggi baru saat tahun baru, Citi menegaskan kembali harapannya perak akan mengungguli emas, meskipun mereka memperkirakan logam dasar pada akhirnya akan mencuri perhatian.

"Prediksi kami yang sudah lama bahwa perak akan berkinerja lebih baik dan pasar bullish logam mulia akan meluas ke logam industri, serta logam industri akan menjadi pusat perhatian selama periode yang sama, telah membuahkan hasil,” tulis para ahli strategi.

Prospek Citi pada Januari mengasumsikan ketegangan geopolitik akan mereda setelah kuartal pertama, mengurangi permintaan logam mulia di akhir tahun, dengan emas paling rentan terhadap koreksi penurunan. Namun, bank tersebut terus memperkirakan logam industri, khususnya aluminium dan tembaga, akan berkinerja baik pada paruh kedua 2026.

Harga Emas Bangkit Terdorong Harapan Gencatan Senjata Israel-Iran

Sebelumnya, harga emas dunia berhasil memangkas kerugian dan berbalik menguat pada perdagangan Senin setelah muncul harapan terkait potensi gencatan senjata antara Israel dan Iran.

Meski demikian, kenaikan harga emas masih terbatas karena data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Mengutip  CNBC, Selasa (9/6/2026), harga emas spot naik 0,33% menjadi US$ 4.343,03 per ons. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 23 Maret di posisi US$ 4.268,39 per ons.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus naik tipis 0,05% ke level US$ 4.367,30 per ons.

Sentimen positif bagi emas muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Iran tengah mengupayakan gencatan senjata dalam waktu dekat.

Trump mengatakan kedua negara sedang berupaya mewujudkan gencatan senjata segera dan negosiasi akhir menuju perdamaian terus berlangsung.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals Peter Grant mengatakan, kabar tersebut membantu mengangkat harga emas dari titik terendahnya.

"Emas bangkit dari level terendah yang terjadi di pasar luar negeri hanya karena adanya kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Hal itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga," ujar Grant.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |