Cerita Warga Iran yang Menyesal Dukung AS-Israel, Merasa Tertipu

13 hours ago 11

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah warga Iran mengungkapkan penyesalan mendukung Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang negara mereka guna menggulingkan pemerintahan saat ini yang dipimpin rezim Republik Islam Iran.

Protes besar-besaran warga menentang pemerintahan Iran saat ini mencapai puncaknya pada Januari lalu. Presiden AS, Donald Trump, kemudian mengatakan kepada demonstran kalau bantuan akan datang.

Perang AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari. Trump berulangkali menyebut perang ini guna menggulingkan pemerintahan Iran. Tetapi rezim Iran yang kini dipimpin Mojtaba Khamenei tetap bertahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara sejumlah kehancuran dirasakan warga Iran akibat perang tersebut.Tidak saja warga netral atau pendukung rezim, mereka yang sebelumnya menentang rezim atau mendukung AS-Israel ikut merasakan akibatnya.

Warga Iran yang semula senang melihat AS-Israel, kini mengungkapkan penyesalan. Pasalnya, serangan AS-Israel itu memberikan dampak besar bagi kehidupan mereka.

"Saya pikir ini sudah berakhir. Saya pikir Republik Islam akhirnya akan berakhir," kata Leila, 25 tahun.

"Saya bahkan berpikir AS dan Israel telah sepakat dengan Reza Pahlavi tentang masa depan Iran," ucap Leila menambahkan.

Nama Leila sengaja disamarkan demi keselamatan dirinya. Mulanya dia berpikir perang ini hanya sebenar. Tetapi dia tidak menyangka kalau serangan AS-Israel ke Iran merusak banyak fasilitas penting.

"Mengapa mereka menyerang jembatan? Mengapa menghancurkan jalur kereta api? Mengapa menargetkan depot minyak?" Dia menggelengkan kepalanya. "Bagaimana itu bisa membantu mengubah pemerintahan?" tanya Leila.

"Dalam rentang waktu hanya dua bulan, kita beralih dari 'bantuan sedang dalam perjalanan' ke ancaman tentang penghancuran peradaban Iran."

Penyesalan dirasakan Leila. Bukan saja karena rezim Iran gagal hancur dan fasilitas di negaranya rusak, tetapi juga hubungan dengan teman-temannya yang hancur karena berbeda pandangan.

Ali, 29 tahun, juga merasakan hal yang sama dengan Leila. Awalnya dia mengira perubahan bisa dilakukan melalui kekerasan.

Sampai akhirnya Pemerintah Iran menyebut sebanyak 3.117 orang tewas, termasuk demonstran, pasukan keamanan, hingga warga sipil. Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency, bahkan memperkirakan setidaknya 7.015 orang tewas.

"Mereka mengatakan akan menargetkan orang-orang tertentu dan situs militer. Kami pikir teknologi mereka cukup canggih untuk menghindari warga sipil," katanya."

"Mungkin ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat mengubah sistem, mereka mulai menyerang semuanya. Atau mungkin saya hanya naif," ucap Ali.

Ali jadi salah satu penentang rezim Iran saat ini yang merasakan langsung dampak perang setelah rumah keluarganya ikut hancur.

"Kami pikir perang akan mengakhiri segalanya. Rumah kami rata dengan tanah. Kami beruntung bisa selamat. Tapi sekarang kami tidak punya tempat tinggal," kata Ali.

Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Bisnis | Football |