Menlu Saudi Telepon Menlu Iran dan AS soal Situasi Panas Timur Tengah

6 hours ago 9

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan berbincang lewat telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, hingga Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, Kamis (9/4).

Mengutip dari kantor berita Saudi, SPA, Faisal dan Araghchi membahas perkembangan terkini dan langkah-langkah untuk meredakan ketegangan guna membantu memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Percakapan dua diplomat tersebut  menandai salah satu kontak yang diumumkan secara publik pertama antara Saudi dan Iran, sejak konflik Timur Tengah memanas pascaserangan AS dan Israel ke Negara Para Mullah pada akhir Februari lalu hingga kini.

Selain itu, pada hari yang sama, Faisal juga menggelar pembicaraan telepon dengan Rubio. SPA memberitakan Faisal dan Rubio membahas perkembangan terkini di kawasan itu sehubungan dengan perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran.

Sebelumnya, AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan itu tercapai saat konflik memasuki hari ke-40. Perundingan lanjutan menuju perdamaian dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Jumat (10/4) mendatang.

Selain itu, Faisal dan Rubio juga membahas soal kondisi terkini di Lebanon, di mana wilayah selatan itu terus dibombardir serangan udara oleh Israel.

Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi on the day he addresses a special session of the Conference on Disarmament at the United Nations, aside of U.S.-Iran talks in Geneva, Switzerland, February 17, 2026. REUTERS/Pierre Albouy     TPX IMAGES OF THE DAYMenlu Iran Abbas Araghchi. (REUTERS/Pierre Albouy)

Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas meski Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata.

Berdasarkan data pelacakan kapal, sangat sedikit kapal yang melewati jalur itu sejak AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, pada Selasa (7/4).

Data dari perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan hanya lima kapal yang melintas pada Rabu, turun dari 11 kapal sehari sebelumnya. Sementara itu, tujuh kapal tercatat melintasi selat pada Kamis.

"Meskipun beberapa pergerakan kapal telah dilanjutkan, lalu lintas sangat terbatas, pemilik kapal akan tetap berhati-hati, dan kapasitas transit yang aman diperkirakan akan tetap terbatas maksimal 10 hingga 15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan, tanpa mempertimbangkan biaya tol," ujar analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, pada Kamis (9/4), dikutip Al Jazeera.

Selain itu, menurut data dari Lloyd's List Intelligence, lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker yang masih berada di Teluk akibat penyumbatan selat itu.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menuding Iran tidak menjalankan komitmennya dalam membuka "jalur aman" selama masa gencatan senjata.

"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan membiarkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki," tulis Trump di media sosial.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai AS justru tidak menghormati kesepakatan.

Ia juga memperingatkan Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau membiarkan konflik berlanjut, merujuk pada serangan Israel di Lebanon.

"Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon," kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial.

"Bola berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan menindaklanjuti komitmennya," tambah dia.

(kid/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Bisnis | Football |