Cara Mentan Pangkas Harga Beras Rp 30.000 Jadi Rp 12.000

15 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan program cetak sawah baru di Papua telah mencapai 80 ribu hektare (ha). Jumlah ini diklaim mampu berpengaruh pada menurunnya harga beras di 'Bumi Cendrawasih' tersebut.

Amran menjelaskan, jumlah sawah baru tersebut terbagi dalam dua tahap. Pada 2025, pemerintah mencetak 30 ribu ha sawah baru, dan pada 2026 mencetak 50 ribu ha sawah tambahan.

"Total sekarang 80 ribu ha untuk tahun 2025 dan 2026. Sekarang sebagian sudah berproduksi, sebagian masih dalam proses berjalan. Yang tahun lalu itu kurang lebih 30 ribu hektare, kemudian tahun ini ditambah kurang lebih 50 ribu hektare," ungkap Amran usai bertemu para kepala daerah Papua di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, dikutip Jumat (12/6/2026).

Dia mengklaim produktivitas sawah-sawah baru di berbagai wilayah Papua itu cukup positif, bahkan terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kementan sendiri menargetkan produksi mampu mencapai 7 ton beras per hektare.

"Dulu saat kami kunjungan ke sana, produksinya hanya 3 ton per hektare. Sekarang bisa naik menjadi 5 sampai 7 ton. Harapan kita, ini nantinya akan menggunakan full mekanisasi. Jadi bukan lagi memakai cangkul manual, sekarang kita gunakan traktor dan alat pertanian canggih," tuturnya.

Amran mengatakan, luasnya hamparan sawah baru di Papua ini membawa masyarakat pada masa 'Pesta Panen'. Menurutnya, 80 ribu hektare sawah itu terbukti mampu menurunkan harga beras di Papua secara drastis.

"Pesta Panen saat ini kita jalankan, dan terbukti harga beras itu turun yang dulunya Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilo," kata Amran.

"Tadi Pak Bupati melaporkan, 'Pak Menteri, terima kasih harga sudah standar seperti daerah-daerah lain yaitu Rp 12.000 sampai Rp 13.000 per kilo'," imbuh dia.

Tambah 30 Ribu Hektare Sawah Baru di Papua

Sebelumnya, Kementerian Pertanian berencana untuk menambah cetak sawah baru di tanah Papua. Sebanyak 30 ribu hektare sawah baru akan dibangun, dibarengi dengan pengiriman ratusan unit traktor.

Amran menjelaskan, tambahan 30 ribu ha sawah baru itu merupakan permintaan langsung dari otoritas pemerintah di Boven Digoel, Papua Selatan. Selain itu, ada pula permintaan bantuan bibit komoditas lain di luar padi, seperti jagung.

"Bahkan tadi dari Boven Digoel, wilayah dekat perbatasan Papua Selatan, meminta khusus, 'Pak Menteri saya mau tambah 30 ribu hektare lagi'. Karena petani-petani di sana sudah melihat hasilnya. Kemudian Pak Gubernur Papua Selatan juga meminta hal yang sama, agar bantuan tidak hanya padi, tetapi juga jagung karena mereka butuh," jelas Amran usai bertemu kepala daerah se-Papua, Kamis (11/6/2026).

Minta Tambah Bibit hingga Akses Irigasi

Amran sengaja mengumpulkan seluruh kepala daerah di tanah Papua untuk mendengarkan berbagai aspirasi dan kendala sektor pertanian di wilayah tersebut. Selain permintaan tambahan bibit dan cetak sawah baru, para kepala daerah juga mengusulkan pengadaan traktor hingga perbaikan akses irigasi.

Amran menjanjikan mayoritas permintaan kepala daerah tersebut akan langsung dipenuhi dalam waktu dekat. Ia berkomitmen memenuhi seluruh kebutuhan Papua jika sektor pertaniannya terus menunjukkan progres yang bagus.

"Semua permintaan hari ini hampir 90 persen kami penuhi. Kalau progresnya bagus, 100 persen kami penuhi permintaannya nanti, termasuk untuk komoditas kopi, pala, kakao, dan seterusnya. Tadi kami sudah meminta dirjen agar permintaan tambahan hari ini segera dilaksanakan secepat-cepatnya," tutur dia.

Ratusan Traktor Siap Kirim

Amran menjelaskan, ada ratusan unit traktor yang siap dikirimkan ke Papua untuk mendukung modernisasi pertanian di sana. Proses pengadaannya akan diselesaikan dalam satu pekan ke depan dan diharapkan sudah tiba di Papua bulan depan.

"Insya Allah minggu ini kita kirim, mudah-mudahan dalam perjalanan 2 sampai 3 minggu sudah tiba di sana. Total traktornya ada ratusan unit," kata Amran.

"Setiap kita cetak sawah, harus langsung diikuti dengan teknologi. Kenapa? Karena kalau luasan hamparannya mencapai puluhan ribu, bahkan nanti ratusan ribu bersama kakao, jika dikerjakan manual tidak akan mungkin selesai dan sawahnya malah telantar. Jadi khusus sawah di sana harus menggunakan cara modern, traktor, dan alat-alat modern," pungkas Menteri Pertanian tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |