10 Negara Termiskin Dunia

1 day ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Bumi memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin kehidupan layak, tetapi kemiskinan ekstrem masih menjerat negara-negara seperti Burundi, Republik Afrika Tengah, dan Sudan Selatan.

Kemiskinan sistemik ini dipicu oleh gabungan faktor yang saling berkaitan, seperti korupsi, jejak kolonialisme, konflik, kondisi iklim ekstrem, hingga krisis utang yang menghambat investasi pada pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi tersebut makin memburuk akibat krisis global, mulai dari pandemi Covid-19, inflasi, gangguan rantai pasok pangan akibat perang Rusia-Ukraina, hingga dinamika konflik di Timur Tengah.

Selain itu, pemangkasan bantuan internasional—termasuk dampak kebijakan penghentian USAID oleh AS—serta keterbatasan jaring pengaman sosial makin mengancam populasi rentan.

IMF mencatat kesenjangan antara negara kaya dan miskin kini kian melebar. Tantangan masa depan seperti perubahan iklim dan ketimpangan akses terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) berisiko menciptakan bentuk ketimpangan baru.

Ketimpangan ini terlihat sangat mencolok ketika diukur menggunakan Paritas Daya Beli (PPP) yang memperhitungkan biaya hidup dan inflasi. Rata-rata daya beli per kapita tahunan di 10 negara terkaya mencapai lebih dari US$ 121.000, sedangkan di 10 negara termiskin hanya berkisar US$ 1.700.

Kombinasi beban utang, tingginya suku bunga, serta minimnya investasi membuat siklus kemiskinan di negara-negara rapuh ini terus berulang.

Dikutip dari Global Finance, Senin (24/8/2026), berikut ini daftar 10  negara termiskin di dunia: 

  10. Kongo 

Sejak merdeka dari Belgia di 1960, Kongo telah melewati puluhan tahun pemerintahan diktator, gejolak politik, dan kekerasan berlanjut, termasuk pemberontakan M23 dan jatuhnya Goma pada awal tahun 2025, sehingga memperparah krisis kemanusiaan. Infrastruktur tidak memadai dan korupsi yang merajalela mengikis kepercayaan publik dan menahan pemberdayaan kekayaan negara.

Ini termasuk cadangan mineral, hutan luas, potensi tenaga air, dan lahan subur.

Kongo adalah produsen kobalt terbesar di dunia, dan produsen tembaga terbesar di Afrika.

Keduanya adalah komponen penting di produksi kendaraan listrik, sehingga negara ini memiliki potensi menjadi negara terkaya di Afrika, menurut World Bank.

9. Madagaskar

Sejak merdeka pada 1960, Madagaskar telah mengalami gejolak politik, pemilu yang dipersengketakan, dan kudeta yang disertai kekerasan.

Terbaru adalah pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada Oktober 2025 yang menggulingkan Presiden Andry Rajoelina dan membuat Kolonel Michael Randrianirina berkuasa.

Madagaskar memiliki angka kemiskinan terbesar, yakni 75%. Selain itu, negara ini menjadi salah satu yang paling rentan terkena bencana alam, dengan kekeringan, banjir, dan siklon yang menyebabkan kematian, pengungsian, dan kerusakan panen serta infrastruktur.

8. Liberia

Ekspektasi terhadap Liberia meningkat saat mantan pemain sepak bola, George Weah, menjadi presiden pada 2018. Kepemimpinannya diiringi oleh inflasi tinggi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi negatif. Pada 2023, dia dikalahkan oleh mantan Wakil Presiden Joseph Boakai. Boakai menunjukkan keberhasilan lebih besar.

Didorong oleh pertumbuhan di sektor pertambangan, pertanian, dan ekspor, perekonomian melampaui perkiraan, tumbuh sebesar 5,1% tahun lalu dan diproyeksikan akan mempertahankan tingkat pertumbuhan tersebut pada tahun 2026.

7. Somalia

Beberapa tahun belakangan, negara dengan populasi 17 juta di Tanduk Afrika ini membuat kemajuan meski dihadapi tantangan. Meski terdapat pandemi, banjir besar, kekeringan parah, dan serangan belalang bersejarah, Somalia telah menjalankan reformasi struktural penting dan telah mencapai kemajuan dalam kerja sama perdagangan regional.

Namun, para pemberontak jihadis dari Al-Shabaab, yang ingin melengserkan pemerintah pusat dan menetapkan hukum Islam yang ketat, telah membalikkan kemajuan tersebut, dengan menjarah kota dan meningkatkan tingkat kekerasan di ibukota, Mogadishu. Tahun ini, sebanyak 4,8 juta orang diperkirakan akan membutuhkan bantuan kemanusiaan.

6. Malawi

Malawi, salah satu negara terkecil di Afrika, memiliki ekonomi yang bergantung pada tanaman yang mengandalkan air hujan, sehingga rentan akan gangguan yang berkaitan dengan cuaca.

Ketahanan pangan di area pedesaan sangat tinggi. Meski pemerintahannya stabil sejak merdeka dari Inggris di 1964, terdapat banyak gejolak. Pada tahun 2025, Peter Mutharika kembali terpilih, setelah pernah menjabat di 2014-2020.

Dia mewarisi perekonomian yang hampir ambruk: inflasi mendekati 30%, cadangan devisa yang menipis, dan utang publik yang mencapai hampir 91% dari PDB.

Meskipun Mutharika telah meluncurkan sejumlah reformasi, pertumbuhan ekonomi masih terlalu lemah untuk meningkatkan taraf hidup atau menciptakan lapangan kerja yang dibutuhkan.

5. Mozambik

Mantan koloni Portugal yang kaya sumber daya dan berlokasi strategis ini sering mencatatkan pertumbuhan PDB di atas 7%. Namun, Mozambik tetap berada di antara 10 negara termiskin di dunia. Sejak 2017, serangan dari pemberontak Islam merajalela di bagian utara yang kaya akan gas.

Selain itu, pemilu yang dipersengketakan pada tahun 2024 memicu kekerasan yang mengganggu kegiatan bisnis selama berbulan-bulan dan menyebabkan perekonomian mengalami kontraksi. Tahun lalu, perekonomian mengalami kontraksi sebesar 0,52%.

Meskipun pemulihan yang rapuh mulai terlihat pada awal tahun ini, pemerintah mengakui bahwa kondisi perekonomian masih sangat rentan.

4. Yaman

Negara berlokasi strategis dengan populasi sekitar 43 juta jiwa ini telah berkutat dengan konflik sejak 2014, saat terjebak di tekanan kekuasaan antara pemerintah dukungan Arab Saudi dan pergerakan Houthi yang didorong Iran.

Peperangan ini telah memakan lebih dari 150.000 nyawa, menghancurkan ekonomi, dan melenyapkan infrastruktur kritis. Blokade Houthi terhadap Selat Bab el-Mandeb di jalur masuk Laut Merah, yang dimulai pada 2022, telah menekan ekspor minyak dan pendapatan fiskal.

Ini membuat Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia, dengan beberapa jiwa di ambang kelaparan.

3. Sudan Selatan

Sudan Selatan sudah dihantui oleh kekerasan sejak didirikan pada 2011. Kekayaan cadangan minyak yang dimiliki negara berpenduduk 15 juta orang ini adalah contoh dari “kutukan sumber daya”, di mana kekayaan ini malah memicu perpecahan, korupsi, dan peperangan.

Selain itu, ekspor minyak, yang berkontribusi 90% dari pendapatan negara, telah mengalami gangguan pada jaringan pipa dan konflik internal.

World Bank menyatakan bahwa kemiskinan ini bersifat sistemik dan ekstrem, dengan hampir 90% dari populasinya hidup di bawah garis kemiskinan.

2. Republik Afrika Tengah

Negara yang kaya akan emas, minyak uranium, dan berlian ini diisi oleh segelintir orang kaya dan sangat banyak orang miskin. Pertumbuhannya tidak pernah bertahan sejak merdeka dari Prancis pada 1960.

Sebagian besar wilayah negara tersebut masih berada di bawah kendali militer dan semakin dipengaruhi oleh personel Korps Afrika Rusia, yang membantu mempertahankan kekuasaan Presiden Faustin-Archange Touadéra sebagai imbalan atas akses ke tambang dan hutan.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 2,6% pada tahun 2026, namun angka tersebut masih terlalu rendah untuk mengangkat kondisi masyarakat yang hampir seluruhnya hidup dalam kemiskinan.

1. Burundi

Negara kecil tanpa laut ini kekurangan sumber daya alam dan masih dibayangi oleh perang saudara yang terjadi pada 1993-2005. Dengan sekitar 80% dari 14 juta penduduknya bergantung pada pertanian subsisten, ketahanan pangan lebih rendah dua kali lipat dari negara sub-sahara Afrika lainnya.

Selain itu, akses air bersih, sanitasi, dan listrik sangat rendah. Presiden Évariste Ndayishimiye yang terpilih pada 2020, inflasi meroket ke 45% awal tahun lalu. IMF memprediksikan ekonomi lebih stabil dan pertumbuhan hampir 4%.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |