Xi Jinping Perluas Pembersihan di Tubuh Militer China

8 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Pembersihan besar-besaran yang dilakukan Presiden China Xi Jinping di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) disebut telah memasuki fase baru yang lebih serius.

Situasi itu dinilai mengguncang struktur militer China dan memicu atmosfer ketakutan di internal angkatan bersenjata.

Hukuman mati yang ditangguhkan terhadap dua mantan menteri pertahanan China, Li Shangfu dan Wei Fenghe, menjadi titik balik penting dalam sejarah Partai Komunis China (PKC). Keduanya dinyatakan bersalah atas kasus suap dan korupsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkan bahwa Li dan Wei dikenal sebagai sekutu dekat Xi Jinping. Namun, jatuhnya dua tokoh itu dinilai menunjukkan bahwa Xi bersedia menyingkirkan bahkan orang-orang terdekatnya demi memperkuat kontrol politik.

Kampanye yang secara resmi disebut sebagai gerakan anti-korupsi itu kini semakin dipandang sebagai upaya menciptakan ketakutan di lingkungan militer.

Hukuman berat terhadap dua mantan pejabat tinggi itu mengejutkan banyak perwira PLA. Selama beberapa dekade, jenderal dengan posisi setinggi itu jarang menerima hukuman ekstrem.

Kondisi itu disebut memicu paranoia di kalangan perwira menengah dan junior, yang mulai khawatir dapat menjadi target berikutnya, terlepas dari loyalitas atau kinerja mereka.

Para analis menilai atmosfer saling curiga mulai mengganggu kohesi internal militer China. Prajurit disebut menjadi lebih ragu mengambil keputusan, sementara komandan enggan bertindak secara independen karena takut terkena dampak politik.

Menciptakan rasa takut

Pembersihan Xi disebut tidak berhenti pada Li dan Wei. Pada Januari 2026, penyelidikan diumumkan terhadap Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat, serta Liu Zhenli, kepala Departemen Staf Gabungan PLA.

Meski keduanya masih tercatat memegang jabatan resmi, mereka dilaporkan menghilang dari ruang publik.

Zhang sendiri dikenal sebagai salah satu sedikit jenderal China yang memiliki pengalaman tempur langsung, setelah ikut dalam perang China-Vietnam di tahun 1979.

Menurut laporan tersebut, hilangnya sejumlah tokoh senior menciptakan kekosongan kepemimpinan di saat China sedang berupaya mempercepat modernisasi militernya menuju 2027.

Kondisi itu dinilai dapat menghambat kesiapan operasional PLA.

Laporan juga menyoroti dampak strategis dari pembersihan tersebut. Struktur komando militer China disebut mulai melemah akibat pergantian pejabat dan meningkatnya ketidakstabilan di tingkat atas.

Kasus Wei Fenghe, yang sebelumnya memimpin Pasukan Roket China, memicu pertanyaan mengenai keandalan sistem komando nuklir Beijing.

Melemah dari dalam

Sementara itu, jatuhnya Li Shangfu disebut memperlihatkan kerentanan sistem pengadaan dan pengembangan peralatan militer China.

"Xi lebih berfokus menciptakan rasa takut daripada sekadar memberantas korupsi," tulis laporan tersebut, yang juga menyebutkan bahwa loyalitas di tubuh militer kini dibangun melalui intimidasi, bukan kompetensi.

Kondisi itu dinilai berisiko melemahkan moral tempur dan rasa saling percaya di lingkungan PLA.

Beberapa sumber internal bahkan menggambarkan PLA sebagai "raksasa yang mengalami kelumpuhan otak," karena ukuran dan kekuatannya tidak lagi sejalan dengan efektivitas kepemimpinan.

Xi Jinping juga disebut telah menyingkirkan lima dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat sejak 2022, menyisakan dirinya dan Zhang Shengmin. Meski langkah itu memperkuat kontrol pribadi Xi, situasi tersebut dinilai membuat struktur militer semakin dipenuhi rasa takut dan ketidakpercayaan.

Dampak pembersihan itu tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga memengaruhi citra global China.

"Militer yang sibuk dengan pembersihan internal sulit memproyeksikan kekuatan secara kredibel ke luar negeri," tulis laporan Nepal Saja.

Upaya modernisasi PLA untuk menyamai kekuatan militer Amerika Serikat pada 2027 disebut kini menghadapi risiko akibat instabilitas internal.

"PLA mungkin tetap menjadi militer terbesar di dunia, tetapi di bawah atmosfer ketakutan dan ketidakpercayaan, kekuatan itu bisa melemah dari dalam," tutup laporan tersebut.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Bisnis | Football |