Trump Tak Mau Kompromi, Negosiasi Damai AS-Iran Buntu

17 hours ago 14

Jakarta, CNN Indonesia --

Negosiasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik masih menemui jalan buntu. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan hanya mau menandatangani perjanjian jika seluruh syarat mutlak yang diajukannya dipenuhi oleh Iran.

Gedung Putih mengisyaratkan bahwa Trump hampir mengambil keputusan mengenai kemungkinan kesepakatan tersebut, meskipun Teheran bersikeras bahwa masih belum ada "kesepakatan akhir" mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah sumber di pemerintahan AS mengatakan bahwa kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Trump setelah negosiasi alot selama berminggu-minggu terkait konflik yang melanda Timur Tengah dan mengguncang perekonomian global.

"Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk Amerika dan sesuai dengan prinsip tanpa kompromi yang ditetapkannya," kata seorang pejabat Gedung Putih usai mengikuti pertemuan selama dua jam di Gedung Putih pada hari Jumat (29/5).

Pejabat tersebut menambahkan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sebagaimana syarat yang diajukan Trump.

Trump sempat mengumumkan pertemuan di Gedung Putih itu melalui media sosial dan mengulangi tuntutannya agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir serta membuka kembali Selat Hormuz. Dalam postingannya tersebut, Trump juga menyebut bahwa Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengakhiri blokade jalur tersebut tanpa biaya tol.

Sebagai gantinya, AS akan mencabut blokade pelabuhan Iran. Trump juga menyebut kedua negara akan berkoordinasi untuk menghancurkan uranium yang diperkaya milik Iran, dan menegaskan bahwa tak ada pertukaran uang hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Pernyataan Trump tersebut langsung dibantah pihak Iran. Media pemerintah Iran menyebut paparan Trump sebagai "campuran antara kebenaran dan kebohongan".

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menegaskan bahwa saat ini tidak ada negosiasi yang berlangsung terkait program nuklir Iran. Ia juga menyatakan bahwa Iran telah meninggalkan bahasa pemaksaan sejak 47 tahun lalu.

"Belum ada kesepakatan final yang dicapai," kata Baqaei.

Meskipun demikian, ia membenarkan bahwa komunikasi antar kedua negara masih terus berlanjut.

Kantor berita Iran, Fars, juga melaporkan bahwa sumber-sumber di Teheran juga menyatakan klausul mengenai pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol tidak masuk dalam perjanjian. Klaim Trump mengenai penghancuran material nuklir Iran juga disebut sama sekali tidak mendasar.

Sebaliknya, sumber tersebut menyatakan Iran menuntut pencairan segera aset mereka yang dibekukan senilai US$12 miliar atau sekitar Rp213 triliun, sebelum melangkah ke tahap negosiasi berikutnya.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk mencapai "kerangka kerja yang bermartabat" guna mengakhiri perang. Hal tersebut disampaikan Pezeshkian dalam panggilan telepon dengan Emir Qatar, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA.

Hingga saat ini, kesepakatan formal masih tertahan menunggu persetujuan Trump setelah negosiasi berbulan-bulan. Konflik ini telah meluas di Timur Tengah dan berdampak signifikan pada perekonomian global.

(dmi)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Bisnis | Football |