Trump Pernah Blokade Venezuela-Culik Maduro, Apakah Berhasil ke Iran?

16 hours ago 10

Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah gagal perundingan gencatan senjata dengan Iran di Islamabad, Pakistan, Jumat (10/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump blokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4) waktu AS.

Dilansir Reuters, dalam sebuah unggahan di Truth Social Trump juga mengatakan AS akan mengambil tindakan terhadap setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea masuk kepada Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas. Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan DIHANCURKAN!" tulis Trump.

Bukan yang pertama

Tindakan Trump memblokade laut bukanlah yang pertama. Pada Desember 2025 lalu dia pun dengan semena-mena memblokade laut Venezuela sebelum menculik Presiden Nikolas Maduro.

Trump mengumumkan "blokade total dan menyeluruh" terhadap seluruh kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk atau keluar dari Venezuela, seraya menyebut pemerintahan Presiden Nicolas Maduro sebagai "organisasi teroris asing."

"Venezuela sepenuhnya dikepung oleh armada terbesar yang pernah dikerahkan dalam sejarah Amerika Selatan," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social. Ia mengatakan blokade tersebut akan tetap diberlakukan hingga Caracas mengembalikan "seluruh minyak, wilayah, dan aset lainnya."

Trump menuduh rezim Nicolas Maduro menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai "terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan."

Ia juga mengatakan bahwa warga negara Venezuela yang sebelumnya dikirim ke AS kini tengah dipulangkan "dalam jumlah besar dan dengan cepat."

Operasi ini melibatkan 15.000 tentara dan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald Ford. Dengan mencegat kapal tanker yang membawa jutaan barel minyak mentah, blokade tersebut menargetkan sumber utama pendapatan devisa bagi rezim tersebut, menunjukkan bagaimana penolakan maritim digunakan untuk melumpuhkan negara.

Namun Iran justru tidak gentar. "Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika," tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, di Teheran usai kembali dari Islamabad, Pakistan, dimuat AFP, Senin (13/4/2026).

Setelah kegagalan perundingan gencatan senjata di Islamabad, Pakistan, AS dan Iran kembali terlibat ketegangan.

Sejumlah pengamat pun meragukan langkah AS memblokade Selat Hormuz bisa menghentikan perlawanan Iran terhadap AS.

Profesor John Mearsheimer, seorang ilmuwan politik di Universitas Chicago, mengatakan bahwa arah perang saat ini merupakan kekalahan bagi AS dan Israel, khususnya setelah Iran menguasai Selat Hormuz.

Ia menjelaskan Israel memiliki tiga tujuan strategis utama di Timur Tengah, yakni pertama, memperluas perbatasan termasuk di Tepi Barat, Jalur Gaza, Lebanon selatan, Sungai Litani, bahkan Semenanjung Sinai; kemudian, melakukan pembersihan etnis di wilayah yang dikuasainya khususnya di Gaza dan Tepi Barat; dan ketiga, memastikan negara-negara tetangganya tetap selemah mungkin.

Tiga tujuan ini, kata Mearsheimer, dilakukan Israel dengan dua cara, yakni dengan mempertahankan negara-negara tetangga seperti Yordania dan Lebanon agar tetap tunduk kepada AS, serta dengan menghancurkan dan melemahkan negara-negara yang lebih besar seperti Suriah, Iran, dan Turki.

Menurut Mearsheimer, agresi Israel di Gaza adalah contoh langkah Israel dalam mencapai dua tujuan pertama.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Bisnis | Football |