Spanyol vs Tanjung Verde: Aura Lamine Yamal Tak Bisa Selamatkan Spanyol

11 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Laros dan Deroy Duarte menjadi bagian penting dari keberhasilan Tanjung Verde menahan imbang Spanyol pada laga Grup H Piala Dunia 2026. Kedua bersaudara itu mengaku tidak pernah merasa gentar menghadapi Lamine Yamal yang masuk sebagai pemain pengganti.

Tanjung Verde menciptakan kejutan besar dengan menahan Spanyol tanpa gol dalam pertandingan yang berlangsung di Atlanta, Senin (15/6/2026). Hasil tersebut menjadi pencapaian bersejarah bagi tim debutan yang tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia.

Yamal masuk pada 20 menit terakhir pertandingan dengan harapan bisa memecah kebuntuan La Roja. Namun, pertahanan disiplin Tanjung Verde membuat bintang muda Barcelona itu gagal memberikan dampak berarti.

Selain membahas duel melawan Yamal, Laros dan Deroy juga mengenang momen emosional yang mereka alami bersama keluarga setelah peluit panjang berbunyi. Hasil tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan sepak bola mereka.

Lamine Yamal Tak Berkutik

Tanjung Verde sudah menyiapkan rencana untuk menghadapi Yamal jika dimainkan oleh Spanyol. Para pemain bertahan mereka langsung memberikan tekanan setiap kali sang winger menerima bola.

Strategi itu berjalan efektif karena Spanyol kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang pertandingan. Kehadiran Yamal pun tidak mampu mengubah jalannya laga untuk tim asuhan Luis de la Fuente.

"Anda mendengar semua suporter bersorak dan merasakan dari auranya bahwa pemain hebat akan masuk ke lapangan," ujar Deroy kepada ESPN.

"Tetapi saat pertama kali dia menyentuh bola, bek kiri dan winger kiri kami langsung menekannya. Saat itu kami tahu, hari ini dia tidak akan melakukan apa pun," lanjut Deroy.

Momen Emosional Dua Bersaudara di Piala Dunia

Pertandingan melawan Spanyol menjadi pengalaman istimewa bagi Laros dan Deroy Duarte. Laros tampil sejak menit awal sebelum digantikan oleh sang adik pada pertengahan babak kedua.

Pergantian tersebut membuat keduanya merasakan emosi yang berbeda di atas panggung terbesar sepak bola dunia. Meski tidak bisa bermain bersama lebih lama, mereka tetap menikmati momen bersejarah itu.

"Itu sedikit gila. Idealnya Anda ingin berada di lapangan bersama, tetapi kami selalu saling mendukung. Sejak saya keluar, saya menjadi penonton dan saat itulah ketegangan benar-benar terasa," kata Laros.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

"Di lapangan Anda tidak terlalu menyadarinya. Ketika peluit akhir berbunyi, semuanya berubah menjadi pesta," sambung Laros.

Read Entire Article
Bisnis | Football |