Setahun Operasi Sindoor dan Perang Narasi India-Pakistan

3 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Setahun setelah dimulainya Operasi Sindoor pada 7 Mei 2025, laporan baru dari lembaga militer Swiss menyebut konflik udara India-Pakistan itu pada akhirnya lebih menguntungkan India, meski Pakistan sempat mencatat keberhasilan awal yang mendominasi pemberitaan internasional.

Laporan tersebut dirilis Centre d'Histoire et de Prospective Militaires di Swiss pada 15 Januari 2026 dan ditulis sejarawan militer Adrien Fontanellaz dengan peninjauan panel yang dipimpin pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Udara Swiss Claude Meier.

Analis studi perang dari Madison Policy Forum, John Spencer, mengatakan narasi awal mengenai jatuhnya sejumlah pesawat India telah membentuk persepsi publik bahwa Pakistan unggul dalam konflik tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Narasi awal tidak mampu bertahan setelah diuji lebih jauh," ujar Spencer.

Konflik bermula ketika India menyerang sembilan lokasi yang disebut terkait kelompok teroris di Pakistan dan Kashmir yang dikelola Pakistan sebagai balasan atas serangan di Pahalgam pada 22 April 2025.

Pakistan merespons cepat. Dalam fase awal pertempuran, laporan Swiss mengonfirmasi jatuhnya setidaknya satu Rafale India, satu Mirage 2000, dan satu MiG-29UPG atau Su-30MKI.

Kerugian itu langsung mendominasi pemberitaan internasional dan memperkuat kesan bahwa Pakistan berhasil meraih keunggulan taktis.

Namun laporan tersebut menyebut situasi berubah dalam beberapa hari berikutnya. Pada 10 Mei, Angkatan Udara India disebut telah mencapai superioritas udara di sejumlah sektor penting wilayah Pakistan.

Serangan beruntun India

Keunggulan itu dicapai melalui kampanye sistematis untuk melumpuhkan pertahanan udara Pakistan.

Pada 8 Mei, India menyerang delapan lokasi pertahanan udara Pakistan, termasuk radar peringatan dini di Chunian dan Pasrur serta setidaknya satu baterai rudal HQ-9.

Sehari kemudian, India kembali menyerang empat target tambahan menggunakan drone kamikaze Harop dan Harpy buatan Israel.

Menurut laporan tersebut, serangan beruntun itu berhasil melemahkan kemampuan Pakistan dalam mendeteksi, mengoordinasikan, dan merespons ancaman udara.

Sistem pertahanan udara S-400 India juga disebut memainkan peran penting dengan memaksa Pakistan mengubah pola operasinya setelah mampu mengancam target udara dari jarak hampir 300 kilometer.

Laporan Swiss menyebut beberapa pesawat Pakistan, termasuk F-16 dan JF-17, kemungkinan jatuh akibat sistem tersebut.

Fase penentu terjadi pada dini hari 10 Mei ketika India meluncurkan gelombang serangan presisi jarak jauh menggunakan rudal BrahMos, SCALP-EG, dan Rampage dari wilayah udaranya sendiri.

Target serangan tersebar dari wilayah sekitar Islamabad hingga pangkalan udara di Pakistan tengah dan selatan.

Pangkalan Udara Nur Khan dekat Islamabad dilaporkan terkena serangan yang menghantam pusat komando dan kendali penting Pakistan.

Pangkalan Udara Murid, yang menjadi pusat armada drone Pakistan, juga mengalami kerusakan pada hanggar dan fasilitas kendali drone.

Kerusakan signifikan di Pakistan

India juga menyerang pangkalan udara Rahim Yar Khan, Sukkur, Sargodha, Jacobabad, dan Bholari yang mendukung operasi jet tempur serta pesawat peringatan dini Pakistan.

Menurut penilaian India yang dikutip Spencer, sejumlah aset Pakistan seperti F-16, platform Erieye, dan pesawat angkut C-130 rusak atau hancur di darat.

"Pada tengah hari 10 Mei, otoritas Pakistan mulai mencari gencatan senjata," tutur Spencer.

Ia menilai keputusan tersebut lebih dipengaruhi kondisi medan tempur dibanding tekanan diplomatik.

Meski bukti visual mengenai kerugian Pakistan masih terbatas, citra satelit disebut menunjukkan kerusakan signifikan di sejumlah pangkalan utama seperti Nur Khan, Bholari, Jacobabad, dan Sargodha.

Kerusakan di Bholari juga diperkuat pernyataan Kepala Menteri Provinsi Sindh Murad Ali Shah yang mengonfirmasi adanya korban di kalangan personel Angkatan Udara Pakistan.

Laporan tersebut tetap mengakui keberhasilan taktis awal Pakistan pada 7 Mei. Namun upaya berikutnya melalui serangan drone massal, rudal CM-400AKG, serta roket Fatah dan Hatf disebut gagal menembus sistem pertahanan udara terintegrasi India.

Perang modern

Menurut Spencer, konflik tersebut menunjukkan bahwa perang udara modern kini lebih ditentukan oleh integrasi sistem dibanding sekadar duel antar-jet tempur.

"Perang udara modern bukan lagi pertarungan antar-angkatan udara semata, melainkan pertarungan antar sistem yang menghubungkan sensor, senjata, jaringan, dan pengambilan keputusan," ucapnya.

Ia menilai keunggulan India dalam skala, kedalaman sistem, dan integrasi memungkinkan negara itu menyerap kerugian awal lalu mengambil alih tempo operasi.

Sebaliknya, Pakistan disebut terlalu bergantung pada kemampuan yang lebih terbatas dan banyak berbasis teknologi China.

Spencer menyimpulkan bahwa fokus awal terhadap jatuhnya pesawat India telah mendistorsi pemahaman publik mengenai hasil akhir Operasi Sindoor.

"Yang menentukan hasil perang adalah apakah tindakan militer berhasil mencapai tujuan politiknya," sebut Spencer.

Menurutnya, Operasi Sindoor pada akhirnya ditandai oleh meningkatnya dominasi India di udara serta serangan presisi yang menjangkau kedalaman operasional Pakistan.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Bisnis | Football |