Menteri Energi AS Ramal Harga Minyak Kembali Sentuh Puncak, Kapan?

8 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan pada Senin, 13 April 2026 kalau harga minyak dapat mencapai puncak dalam beberapa minggu mendatang. Potensi lonjakan harga minyak ini karena gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz terus mendorong biaya energi lebih tinggi.

"Kita akan melihat harga energi tinggi, dan mungkin bahkan meningkat, sampai kita mendapatkan lalu lintas kapal yang signifikan melalui Selat Hormuz,” ujar Wright pada konferensi Semafor World Economy di Washington, DC, dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (14/4/2026).

"Itu mungkin akan mencapai puncak harga minyak pada saat itu. Itu mungkin terjadi dalam beberapa minggu ke depan,” ia menambahkan.

Ia mengatakan, setelah konflik antara AS dan Iran berakhir dan energi mulai kembali mengalir, tekanan harga energi akan mulai turun. “Tetapi itu akan membutuhkan waktu,” ujar dia.

Ia menuturkan, Presiden AS Donald Trump mengetahui sejak awal jika menganggu aliran energi dalam jangka pendek akan mendorong harga energi naik. Wright menambahkan, harapan akan penurunan harga yang cepat tidak realistis.

"Pada musim panas adalah jangka waktu yang agresif,” kata Wright.

Ia memperingatkan, pelonggaran apa pun akan membutuhkan waktu bahkan setelah aliran energi kembali normal.

Pasar minyak telah melonjak sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari, dengan Iran memblokir akses ke Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal asing.

Sebagai tanggapan, AS bergerak untuk memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah pembicaraan akhir pekan di Islamabad, Pakistan yang bertujuan untuk mengakhiri perang gagal, meskipun ada gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan.

Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) mengatakan blokade akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan-pelabuhan Iran di seluruh Teluk Arab dan Teluk Oman.

Harga Minyak Nyaris Sentuh USD 100 Lagi Gara-gara Donald Trump

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal pekan setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah ini diambil menyusul kegagalan perundingan damai antara kedua negara pada akhir pekan.

Mengutip CNBC, Selasa (14/4/2026), Minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei naik lebih dari 2% dan ditutup di level USD 99,08 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 4% menjadi USD 99,36 per barel.

Blokade resmi diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu AS Timur. Komando Pusat AS atau U.S. Central Command menyatakan bahwa langkah ini tidak akan menghambat kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran.

“Blokade akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” demikian pernyataan resmi mereka.

Ketegangan Memanas, Selat Hormuz Jadi Kunci

Presiden Donald Trump memerintahkan blokade setelah negosiasi antara AS dan Iran di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Bahkan, Trump mengancam akan menghancurkan kapal militer Iran yang mendekati area blokade.

Ia juga memerintahkan Angkatan Laut untuk menghentikan kapal yang diduga membayar biaya kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan salah satu jalur vital distribusi minyak dunia dari Timur Tengah ke pasar global.

Sebagai respons, militer Iran mengancam pelabuhan di seluruh kawasan Teluk Persia. Ancaman tersebut langsung berdampak pada lalu lintas kapal tanker yang anjlok drastis.

Sebelum konflik meningkat, sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Namun kini, gangguan tersebut disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu, situasi tetap belum pasti. Trump bahkan mempertimbangkan serangan terbatas untuk memecah kebuntuan negosiasi.

AS Dinilai Gagal

Pemerintah Iran menegaskan bahwa keamanan pelayaran selama masa gencatan senjata tetap bergantung pada persetujuan mereka. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa kendali Selat Hormuz masih berada di tangan Iran.

"Kunci Selat Hormuz’ tetap berada di tangan Republik Islam,” ujarnya.

Data menunjukkan hanya tiga kapal tanker raksasa yang melintas pada Sabtu, jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang bisa mencapai lebih dari 100 kapal per hari.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut kegagalan negosiasi terjadi karena Iran tidak memberikan komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menilai AS gagal membangun kepercayaan dalam perundingan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |