Luhut: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Mulai Membaik, tapi Biaya Asuransi Masih Tinggi

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan melaporkan perkembangan terbaru situasi di Selat Hormuz di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam rapat kabinet, Luhut menyebut arus kapal tanker yang melintas di jalur strategis perdagangan minyak dunia tersebut mulai menunjukkan perbaikan. Meski demikian, ketidakpastian keamanan di kawasan masih berdampak pada biaya logistik pelayaran.

"Namun Iran juga cukup cerdik mereka melakukan mobile peluncuran kemudian kalau kita lihat juga larutan kapal keluar masuk selat hormuz juga mulai membaik, tetapi tetap juga masalah asuransi untuk kapal kita lihat masih tinggi dan ini masih tentu ada kekhawatiran yang di apa di berbagai pihak,” ujar Luhut dalam Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan, situasi keamanan di kawasan Teluk masih berfluktuasi karena operasi militer yang menargetkan sejumlah fasilitas militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas produksi, serta lokasi peluncuran senjata. Menurut Luhut, serangan tersebut juga menyasar kekuatan laut Iran yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan jalur pelayaran internasional.

"Angkatan laut Iran itu menjadi sasaran serangan Amerika untuk mengamankan penutupan selat hormuz dan itu telah dilakukan oleh mereka, mereka sudah menghancurkan kapal-kapal angkatan laut dari Iran,” tuturnya

Ia menambahkan, perkembangan konflik masih terus dipantau pemerintah karena kawasan tersebut menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak global yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Pernyataan Perdana Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei: Selat Hormuz Akan Tetap Ditutup

Sebelumnya, Mojtaba Khamenei mengeluarkan pernyataan publik pertamanya sejak mengambil alih jabatan sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, serta beberapa anggota keluarga lainnya tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal perang yang kini melibatkan sebagian besar kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang dibacakan oleh seorang pembaca berita di Press TV pada Kamis (12/3/2026), Khamenei menyerukan persatuan nasional dan menyatakan bahwa jalur perdagangan global yang vital, Selat Hormuz, akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap musuh-musuh Iran.

Ia juga mengatakan bahwa semua pangkalan militer AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang. Khamenei menegaskan bahwa meskipun Iran percaya pada persahabatan dengan negara-negara tetangganya, serangan terhadap pangkalan AS di kawasan akan terus berlanjut.

"Kelompok bersenjata di Yaman juga akan menjalankan tugas tersebut," kata pemimpin tertinggi Iran itu seperti dikutip dari laporan Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa kelompok bersenjata lain di Irak juga ingin membantu.

Khamenei turut menyampaikan terima kasih kepada militer Iran yang menurutnya telah mencegah negara itu didominasi atau dipecah ketika berada di bawah serangan.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan luar biasa pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan serangan," ujarnya, seraya menegaskan bahwa Iran akan terus berperang.

Masyarakat Iran Terpecah

Ayatullah Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun, tewas di Teheran pada 28 Februari. Majelis Ahli Iran kemudian mencapai konsensus pada Minggu (8/3) untuk menunjuk putranya sebagai penerus.

Tohid Asadi dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Teheran, mengatakan pemimpin tertinggi yang baru itu mengindikasikan akan menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan dan kemungkinan meningkatkan intensitas konflik yang sedang berlangsung.

Menurut Asadi, masyarakat Iran masih terpecah mengenai penunjukan Mojtaba Khamenei meskipun ia menyerukan persatuan. Perpecahan itu terutama dipicu kesulitan ekonomi yang sama yang memicu protes keras pada Desember dan Januari.

Analis Timur Tengah Zeidon Alkinani menilai penekanan pada perlawanan bersenjata memungkinkan pemimpin tertinggi tersebut menghindari "pembahasan mengenai reformasi ekonomi, pembangunan negara, dan banyak isu mendasar lainnya yang penting bagi warga Iran biasa".

Kepada Al Jazeera, Alkinani juga mengatakan bahwa pernyataan Khamenei bertentangan dengan pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang pada Rabu (11/3) menyatakan Iran akan mempertimbangkan untuk mengakhiri perang jika syarat-syarat tertentu terpenuhi.

Ia juga menekankan bahwa pidato tersebut, yang tidak disampaikan atau dibacakan langsung oleh Khamenei sendiri, tidak banyak meredakan rumor bahwa pemimpin tertinggi yang baru diangkat itu terluka—atau bahkan tewas—dalam perang yang sedang berlangsung.

"Hal ini menimbulkan banyak ketidakpastian mengenai legitimasi dan kemampuan pemimpin tertinggi untuk tetap kuat dalam menghadapi tantangan besar," kata Alkinani.

Apresiasi di Dalam Negeri

Pernyataan Mojtaba Khamenei jelas tidak akan disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump. Dalam beberapa hari terakhir, Trump menekankan bahwa Iran akan mengikuti jalan Venezuela dalam memilih pemimpin yang bersedia memenuhi tuntutan Washington.

Rob Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King’s College London, mengatakan pernyataan publik pertama pemimpin tertinggi tersebut menunjukkan penguatan terhadap posisi Iran yang selama ini dipegang.

"Alih-alih seperti yang mungkin diharapkan oleh pemerintahan Trump—yakni adanya perubahan retorika dari pemimpin tertinggi yang baru—yang kita dengar justru lebih dari hal yang sama," tutur Pinfold.

Namun di dalam Iran, banyak pihak yang mengapresiasi "pesan yang berani dan tegas" yang disampaikan Mojtaba Khamenei di tengah ancaman AS. Hal itu disampaikan Zohreh Kharazmi, akademisi dari University of Tehran, kepada Al Jazeera.

"Keamanan yang berkelanjutan adalah hak paling dasar dari sebuah bangsa," tegas Kharazmi. "(Mojtaba) Khamenei menyampaikan posisi yang sangat sah yang didukung oleh jutaan warga Iran di sini."

Read Entire Article
Bisnis | Football |