LPS: Literasi Penjaminan Simpanan Masih Perlu Diperkuat

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap penjaminan simpanan mulai meningkat.

Sebanyak 62,51 persen penduduk usia 15-79 tahun mengetahui bahwa simpanannya di bank dijamin, sementara 46,31 persen mengenal Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) atau setidaknya pernah melihat logo lembaga tersebut.

Temuan ini menjadi dasar bagi LPS untuk memperkuat edukasi keuangan, terutama bagi masyarakat berpendidikan SMA ke bawah, berpenghasilan rendah, dan memiliki simpanan di bawah Rp 100 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan hasil survei menunjukkan pemahaman masyarakat mengenai penjaminan simpanan sudah mulai terbentuk.

“62,51 persen penduduk berusia 15-79 tahun sudah mengetahui bahwa simpanannya dijamin. Kemudian, dari kelompok tersebut sebesar 46,31 persen mengetahui LPS,” kata Amalia dikutip Selasa (11/8/2026).

Meski demikian, SNLIK 2026 juga menemukan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai program penjaminan polis asuransi masih sangat rendah. Dari penduduk yang memiliki polis asuransi selain BPJS, hanya 12,47 persen yang mengetahui bahwa polis asuransinya akan dijamin.

Survei tahun ini menjadi kali pertama LPS dilibatkan dalam pelaksanaan SNLIK. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk memetakan tingkat pemahaman masyarakat terhadap fungsi penjaminan simpanan dan merumuskan strategi literasi yang lebih tepat sasaran.

LPS Fokus Edukasi ke Masyarakat Berpendidikan SMA ke Bawah

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai hasil SNLIK 2026 menunjukkan bahwa tingkat literasi belum merata di seluruh kelompok masyarakat.

Berdasarkan analisis survei, ruang penguatan terbesar berada pada masyarakat berpendidikan SMA/sederajat, berpenghasilan di bawah Rp 3,5 juta per bulan, dan memiliki simpanan di bawah Rp 100 juta.

“LPS akan lebih fokus pada kelompok atau masyarakat berpendidikan SMA ke bawah. Kalau kita mau sosialisasi, yang kita tuju adalah mereka yang berpendidikan SMA ke bawah. Kita bikin literasi, kita bikin festival. Mereka lah pengguna atau pemilik rekening yang perlu diedukasi,” ujar Anggito.

Untuk kelompok tersebut, LPS akan menggunakan bahasa sehari-hari, video pendek, dan infografis agar materi lebih mudah dipahami. Edukasi juga tidak hanya dilakukan di kantor bank, tetapi diperluas ke pasar, koperasi, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Selain itu, informasi mengenai penjaminan simpanan akan lebih banyak disampaikan melalui berbagai titik interaksi nasabah dengan perbankan, seperti saat pembukaan rekening, aplikasi mobile banking, hingga layar ATM.

Empat Kesimpulan Penting dari Hasil SNLIK 2026

Anggito menjelaskan terdapat empat kesimpulan utama yang diperoleh LPS dari hasil SNLIK 2026.

Pertama, kesadaran masyarakat mengenai penjaminan simpanan mulai terbentuk, sedangkan pemahaman tentang rencana penyelenggaraan program penjaminan polis asuransi masih berada pada tahap awal.

Kedua, masih terdapat ruang untuk memperkuat pengenalan LPS di tengah masyarakat.

Ketiga, literasi keuangan terbukti berperan penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat. Pengetahuan tentang penjaminan simpanan dan keberadaan LPS cenderung meningkat seiring naiknya tingkat literasi keuangan seseorang.

Keempat, program literasi perlu diarahkan secara lebih spesifik kepada segmen prioritas. Hasil SNLIK 2026 memungkinkan LPS menyusun strategi edukasi berdasarkan kelompok usia, tingkat pendidikan, dan wilayah yang membutuhkan penguatan pemahaman.

“Literasi dapat diperkuat melalui pemilihan kanal, lokasi dan pesan yang sesuai dengan karakteristik tiap segmen,” jelas Anggito.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |