Hujan Tiga Kartu Merah di Laga Pembuka Meksiko vs Afrika Selatan, Rekor Baru Bakal Tercipta?

9 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Pesta sepak bola dunia lewat gelaran Piala Dunia 2026 kini telah resmi bergulir. Kendati baru saja dimulai, turnamen yang diselenggarakan di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini diprediksi berpotensi menjadi edisi Piala Dunia paling sengit dan agresif sepanjang sejarah.

Sebagaimana diketahui, terdapat sejumlah regulasi baru yang diterapkan pada Piala Dunia 2026. Salah satu perubahan paling mencolok adalah penambahan kuota peserta yang semula hanya diikuti oleh 32 tim, kini melonjak drastis menjadi total 48 tim.

Upacara pembukaan dan laga perdana turnamen ini sukses digelar pada Jumat dini hari tadi. Timnas Meksiko selaku salah satu tuan rumah didapuk untuk menandai dimulainya kompetisi dengan menjamu Timnas Afrika Selatan di Azteca Stadium.

Namun, pertandingan perdana tersebut langsung menyajikan atmosfer yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, sang pengadil lapangan tercatat harus merogoh kantongnya dan mengeluarkan total tiga kartu merah selama kurun waktu 90 menit jalannya laga.

Tiga Kartu Merah di Babak Kedua

Seluruh pengusiran pemain dalam pertandingan pembuka ini terjadi ketika laga memasuki paruh kedua. Wasit bertindak tegas dengan memberikan sanksi berat kepada total tiga pemain dari kedua kubu.

Pemain berkebangsaan Afrika Selatan, Yaya Sithole, menjadi pemain pertama yang harus mandi lebih cepat pada menit ke-49 usai melanggar Marcel Ruiz. Tindakan ilegal tersebut dinilai wasit sebagai pelanggaran kategori Denying Obvious Goal Scoring Opportunity (DOGSO).

Memasuki menit ke-84, petaka kembali menghampiri kubu Afrika Selatan setelah Themba Zwane diganjar kartu merah akibat tertangkap kamera VAR melakukan sikut ke area wajah pemain Meksiko. Sementara itu, kubu tuan rumah juga harus kehilangan satu pilar setelah Cesar Montes diusir wasit saat laga memasuki masa injury time.

Melalui torehan tiga kartu merah ini, duel antara Meksiko kontra Afrika Selatan hampir saja menyamai rekor pengusiran pemain paling banyak dalam satu laga sejarah Piala Dunia.

Hingga kini, rekor tersebut masih dipegang oleh laga penuh drama antara Timnas Portugal menghadapi Belanda di Piala Dunia 2006, sebuah laga ikonik yang kemudian dikenal dengan sebutan 'Battle of Nuremberg' lantaran diwarnai empat kartu merah.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Melihat bagaimana ketatnya partai pembuka yang langsung diwarnai dengan tiga kartu merah, asumsi bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen yang paling agresif tampaknya cukup mendasar. Apabila dibandingkan dengan dua edisi sebelumnya, Piala Dunia 2018 dan 2022 justru mencatatkan rekor sebagai turnamen dengan jumlah hukuman kartu merah paling minim, di mana hanya ada empat kartu merah yang keluar di sepanjang kompetisi. Angka minim tersebut tampaknya akan dengan sangat mudah dilewati pada edisi kali ini. Di sisi lain, rekor akumulasi kartu merah terbanyak dalam satu edisi penuh masih dipegang oleh gelaran Piala Dunia 2006. Dengan adanya insiden besar dalam 'Battle of Nuremberg', turnamen yang diadakan di Jerman itu secara keseluruhan memproduksi total 27 kartu merah, yang hingga kini menjadi angka tertinggi dalam sejarah. Melihat tensi tinggi yang sudah tersaji sejak hari pertama, menarik untuk dinantikan apakah Piala Dunia 2026 mampu melampaui rekor total 27 kartu merah tersebut.  

Read Entire Article
Bisnis | Football |