Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel, Purbaya Siapkan Jurus Rahasia

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kas negara belum terbebani oleh kenaikan harga minyak dunia. Meskipun, harga minyak dunia sempat tembus ke USD 100 per barel.

Kenaikan harga minyak dunia disebabkan oleh memanasnya perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Purbaya memastikan APBN akan menjadi bantalan ke ekonomi Tanah Air.

"Nanti kalau harga minyak dunia naik pun, kita akan coba absorb lewat APBN, dan kita akan mengendalikan semaksimal mungkin," kata Purbaya, di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Dia mengaku saat ini masih akan memantau lebih lanjut pergerakan harga minyak dunia tadi. Setidaknya, melihat pergerakannya dalam satu bulan kedepan sebelum mengambil keputudan dengan penggunaan APBN.

"Nanti kita evaluasi secara menyeluruh. Tapi yang jelas, kita akan pastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Dan Sekarang kan ekonomi masih ekspansi, kan? Saya belum melihat gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi, tapi kan baru sebentar," ujarnya.

"Jadi, teman-teman yang lain jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga akan USD 100 terus. Bahkan ada yang bilang menuju USD 150, dan kita anggarannya akan gak kuat. Kita akan ases terus dari waktu ke waktu. Hitungan kita kan berubah terus sesuai dengan keadaan," sambung Purbaya.

Hitung Harga Rata-rata

Purbaya menjelaskan lagi, dia akan melihat harga rata-rata minyak dunia kedepannya. Lonjakan harga yang terjadi saat ini tak menjadi satu-satu alasan untuk menggunakan APBN sebagai tambalan.

"(Harga minyak dunia) USD 92 aja kalau di rata-rata kan sekarang berapa? Belum USD 100 kan sekarang rata-ratanya," ucapnya.

"Jadi, masih di bawah itu, jadi masih tengah-tengah, yang jelas, kita monitor dari waktu ke waktu dan saya gak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan," tegas Bendahara Negara ini.

Siapkan Skenario

Sebelumnya, Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang semakin memanas mulai memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Menkeu Purbaya) tak memungkiri lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Menurut Purbaya, Kementerian Keuangan telah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Salah satu skenario yang dihitung adalah apabila harga minyak mentah dunia bertahan di rata-rata USD 92 per barel sepanjang tahun.

Dalam kondisi tersebut, defisit anggaran berpotensi melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) apabila tidak ada langkah penyesuaian kebijakan.

"Kita sudah exercise kalau harga minyak setahun rata-rata USD 92 maka defisitnya 3,6 persen PDB, itu kalau kita enggak ngapa-ngapain," kata Purbaya dalam Media Briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Kondisi Fiskal Terkendali

Meski demikian, ia menilai kondisi fiskal masih relatif terkendali jika kenaikan harga minyak tidak terlalu ekstrem. Purbaya menyebut, apabila harga minyak berada di sekitar USD 72 per barel masih di atas asumsi dasar APBN yang dipatok USD 60 per barel pemerintah masih memiliki ruang untuk mengelola dampaknya.

"Let's say yang worst scenario jeleknya minyaknya sampai USD 72 (per barel) masih aman, masih bisa dikendalikan,” ungkap Purbaya.

Ia menegaskan, skenario tersebut masih dalam batas yang dapat diatasi melalui berbagai instrumen kebijakan fiskal yang dimiliki pemerintah.

Read Entire Article
Bisnis | Football |