Harga Minyak Dunia Hari Ini Tembus USD 110, Tertinggi sejak 2022

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia hari ini melonjak tajam hingga menembus USD 110 per barel, level tertinggi sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kenaikan ini terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang menyebabkan terganggunya jalur pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak tersebut juga menjadi reli tercepat sejak dekade 1980-an.

Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (9/3/2026), kontrak berjangka minyak Brent sebagai patokan global dan minyak West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat melonjak lebih dari 25% dalam perdagangan semalam hingga melewati USD110 per barel pada Minggu malam waktu AS.

Sejak konflik dimulai, harga Brent telah naik lebih dari 50%, sementara WTI melonjak lebih dari 60%.

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat justru tertekan. Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun sekitar 1,5%, sementara kontrak indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 2%.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta memicu aksi balasan keras dari pemerintah Iran.

Akibatnya, harga minyak mencatat kenaikan mingguan terbesar setidaknya sejak 1985.

Selat Hormuz Lumpuh, Jutaan Barel Minyak Tertahan

Salah satu dampak paling serius dari konflik ini adalah terhentinya lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Selat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional tersebut biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia yang diangkut melalui laut.

Namun data dari perusahaan analisis energi Vortexa menunjukkan sekitar 16 juta barel minyak per hari kini tertahan di belakang selat tersebut dan tidak bisa masuk ke pasar global.

Strategis dari Macquarie, Vikas Dwivedi, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz bisa berdampak besar terhadap pasar energi global.

Ia mengatakan,“Beberapa minggu penutupan Selat Hormuz akan memicu efek domino yang bisa mendorong harga minyak hingga USD150 per barel atau lebih.”

Konflik yang awalnya berfokus pada upaya menghancurkan fasilitas nuklir Iran kini telah meluas menjadi perang yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah.

Bandara, gedung apartemen, pangkalan militer, serta berbagai infrastruktur di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal dan drone dari Iran.

Sementara itu, langit di atas Iran sempat dipenuhi asap setelah depot bahan bakar di dekat Teheran dan Karaj terkena serangan udara pada akhir pekan.

Kilang Minyak Diserang, Produksi Mulai Dipangkas

Konflik juga mulai menyasar infrastruktur energi penting di kawasan Timur Tengah, yang semakin memperparah gangguan rantai pasok energi global.

Beberapa fasilitas energi yang terdampak antara lain:

  • Kilang Bapco Energies di Bahrain dilaporkan diserang.
  • Kilang Ras Tanura di Arab Saudi terpaksa menghentikan operasional.
  • Kompleks Ras Laffan LNG di Qatar menyatakan kondisi force majeure.

Selain itu, kapal tanker minyak di Teluk Persia juga menjadi sasaran serangan rudal dan drone. Garda Revolusi Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, meskipun mereka secara resmi menyatakan jalur tersebut masih “terbuka”.

Akibat terbatasnya jalur distribusi, sejumlah negara produsen mulai mengurangi produksi minyak.

Menurut laporan Bloomberg, Irak telah memangkas sekitar 60% produksi minyaknya, sementara Kuwait juga mulai menutup sebagian produksi.

Dampak Sudah Mulai Dirasa

Analis dari JPMorgan memperkirakan jika Selat Hormuz tetap tidak bisa dilalui:

Pemangkasan produksi bisa mencapai 3,3 juta barel per hari pada hari ke-8

  • Naik menjadi 3,8 juta barel per hari pada hari ke-15
  • Hingga 4,7 juta barel per hari pada hari ke-18

Ketegangan juga merembet ke infrastruktur sipil. Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan sebuah pabrik desalinasi besar rusak akibat serangan drone Iran. Fasilitas tersebut sangat penting karena menyediakan air minum bagi masyarakat di kawasan Timur Tengah.

Lonjakan harga minyak kini juga mulai dirasakan masyarakat Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin nasional pada Minggu tercatat USD3,45 per galon, naik sekitar 15% dibandingkan USD2,98 per galon sepekan sebelumnya.

Ekonom Goldman Sachs memperingatkan jika harga minyak bertahan di sekitar USD100 per barel, inflasi global bisa meningkat sekitar 0,7 poin persentase, sementara pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi melambat sekitar 0,4 poin persentase.

Read Entire Article
Bisnis | Football |