Harga Emas Turun 3%, Analis Prediksi Bisa Sentuh US$ 3.500

21 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia turun sekitar 3% pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Langkah tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, sekaligus memperbesar peluang suku bunga AS tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Mengutip CNBC, Selasa (14/7/2026), harga emas di pasar spot turun 3,1% menjadi US$ 3.991,56 per troy ounce. Penurunan ini menjadi pelemahan selama dua hari perdagangan berturut-turut. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 2,6% ke level US$ 4.005,70 per troy ounce.

"Harga minyak melonjak karena konflik di Timur Tengah, dan ada potensi pengetatan kebijakan dari Federal Reserve. Ini merupakan kabar buruk bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas," ujar analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada.

Menurutnya, tekanan terhadap harga emas masih berpotensi berlanjut apabila harga minyak terus bergerak naik.

Bisa Menuju US$ 3.500

Razaqzada memperkirakan harga emas dapat turun lebih dalam jika tekanan jual di pasar semakin kuat.

"Jika harga minyak terus naik, harga emas berpotensi menembus level yang lebih rendah dan pada awalnya bisa menuju US$ 3.800, bahkan dalam jangka waktu tertentu dapat turun hingga US$ 3.500 apabila tekanan jual semakin meningkat," katanya.

Sentimen negatif tersebut dipicu pernyataan Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran. Trump juga mengatakan AS akan memperoleh kompensasi sebesar 20% dari seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz setelah Teheran mengklaim telah menutup jalur pelayaran strategis tersebut.

Kabar itu langsung mendorong harga minyak dunia melonjak sekitar 5%.

Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi karena meningkatkan biaya energi dan transportasi. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkan suku bunga guna menekan tekanan inflasi.

Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 71% bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.

Fokus investor kini tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan menyampaikan kesaksian pertamanya mengenai kebijakan moneter di hadapan Kongres AS pada Selasa waktu setempat.

Pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataannya untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga pada periode berikutnya.

Selain itu, pemerintah AS juga dijadwalkan merilis sejumlah data ekonomi penting sepanjang pekan ini, di antaranya Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI), Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI), laporan penjualan ritel Juni, serta data mingguan klaim tunjangan pengangguran. Seluruh data tersebut diperkirakan akan menjadi acuan utama investor dalam menilai prospek kebijakan moneter The Fed dan arah pergerakan harga emas dunia selanjutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |