Harga Emas Turun 1,1% Sepekan, Tapi Prospek Jangka Panjang Tetap Bagus

11 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan Jumat dan berpotensi mencatat kerugian mingguan dengan besaran serupa.

Penurunan ini dipicu oleh tingginya harga minyak yang memperkuat kekhawatiran inflasi global, sehingga mengurangi peluang bank sentral untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (2/5/2026), harga emas di pasar spot tercatat turun 1,1% menjadi USD 4.568,82 per ons, dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1,2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga turun 1,1% ke level USD 4.579,70.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, emas memiliki korelasi negatif terhadap harga minyak.

“Emas tetap berkorelasi negatif terhadap minyak dalam jangka pendek, karena hal itu memengaruhi ekspektasi suku bunga,” ujarnya.

Inflasi Meningkat, Bank Sentral Tahan Suku Bunga

Kenaikan harga minyak dunia, khususnya acuan Brent crude, yang kini mencapai dua kali lipat dibanding awal tahun, meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global dan lonjakan inflasi.

Ketegangan geopolitik juga memperburuk situasi. Iran menyatakan akan merespons dengan serangan “panjang dan menyakitkan” jika Amerika Serikat melanjutkan agresinya, sekaligus menegaskan klaim atas Selat Hormuz.

Di Amerika Serikat, inflasi meningkat pada Maret seiring kenaikan harga bensin akibat konflik. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun depan.

Sejumlah bank sentral global lainnya, termasuk European Central Bank dan Bank of England, juga memilih menahan suku bunga, mengikuti langkah Bank of Japan.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas cenderung kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah.

Prospek Jangka Panjang Masih Positif

Meski tertekan dalam jangka pendek, prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang masih dinilai positif.

UBS memperkirakan sejumlah faktor akan mendukung permintaan emas, seperti ketidakpastian politik menjelang pemilu paruh waktu di AS, potensi pelemahan dolar AS, serta penurunan suku bunga riil jika kebijakan moneter mulai dilonggarkan.

“Ketidakpastian seputar pemilu AS, ekspektasi pelemahan dolar, dan penurunan suku bunga riil kemungkinan akan mendukung permintaan investasi,” ujar Staunovo.

Ia memperkirakan harga emas berpotensi naik hingga USD 5.900 per ons pada akhir 2026.

Sementara itu, harga logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Perak turun 0,6% menjadi USD 73,27 per ons, platinum melemah 1,3% ke USD 1.960,30, dan palladium turun 0,6% menjadi USD 1.515,37.

Read Entire Article
Bisnis | Football |