Harga Emas Dunia Merosot Tersengat Dolar AS hingga Harga Minyak

13 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot pada Kamis, 23 April 2026. Koreksi harga emas dunia terjadi oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi. Hal ini seiring investor mencoba menilai arah konflik dari pembicaraan AS-Iran yang terhenti.

Mengutip CNBC, Jumat (24/4/2026), harga emas spot turun 0,6% menjadi USD 4.706,49 per ounce. Harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni merosot 0,6% menjadi USD 4.727.

Adapun dolar AS menguat, membuat emas batangan yang dihargai dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari seminggu. Hal ini meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak menghasilkan imbal hasil.

“Emas terus mengikuti pergerakan pasar minyak, dengan kenaikan biaya energi yang membuat risiko penguatan dolar AS dalam jangka pendek dan inflasi tinggi tetap menjadi fokus,” ujar Head of Commodity Strategy Saxo Bank, Ole Hansen.

Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz saat memperketat cengkeramannya di jalur air strategis tersebut setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia menghentikan serangan tanpa batas waktu, tanpa tanda-tanda dimulainya kembali pembicaraan perdamaian.

Para pejabat Iran tidak mengatakan mereka telah menyetujui perpanjangan gencatan senjata, menuduh Washington melanggarnya dengan mempertahankan blokade perdagangan Iran melalui laut.

Harga Minyak

Harga minyak mentah Brent naik di atas $100 per barel karena pembicaraan perdamaian yang terhenti dan karena kedua negara mempertahankan pembatasan mereka terhadap arus perdagangan melalui selat tersebut.

Harga minyak mentah yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi, meningkatkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi. Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi, suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas batangan karena tidak menawarkan imbal hasil.

Sementara itu, jajak pendapat Reuters terhadap ekonom menunjukkan Federal Reserve AS kemungkinan akan menunggu setidaknya enam bulan sebelum memangkas suku bunga tahun ini karena guncangan energi akibat perang kembali memicu inflasi yang sudah tinggi.

“Konsolidasi saat ini tampaknya lebih merupakan jeda yang didorong oleh ketidakpastian suku bunga daripada pergeseran struktural, dan kami tetap berpendapat bahwa emas kemungkinan akan mencapai rekor tertinggi baru akhir tahun ini atau awal tahun 2027,” Hansen menambahkan.

Harga Emas Bangkit, Pasar Komoditas Masih Sangat Rapuh

Sebelumnya, harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan. Kenaikan harga emas ini didorong aksi bargain hunting atau pembelian di harga murah oleh pelaku pasar, di tengah penantian kelanjutan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip CNBC, Kamis (23/4/2026), harga emas spot tercatat naik 0,5% ke level USD 4.735,65 per ounce, setelah sempat melonjak hingga 1% pada awal sesi. Sehari sebelumnya, logam mulia ini mencatat penurunan harian terbesar sejak 26 Maret.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup menguat 0,7% di level USD 4.753,00 per ounce.

Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, mengatakan bahwa penguatan ini mencerminkan aksi beli setelah penurunan tajam sebelumnya.

“Persepsi adanya aksi bargain hunting setelah kerugian pada Selasa juga terlihat di pasar logam mulia seperti emas dan perak,” ujarnya.

Ketegangan Geopolitik

Dari sisi geopolitik, ketegangan masih tinggi. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa blokade terhadap Iran akan tetap berlanjut.

Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dimulainya kembali pembicaraan damai antara kedua negara.

Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga semakin kompleks. Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dilaporkan berada di bawah tekanan, setelah sedikitnya tiga orang tewas akibat serangan drone Israel di wilayah Lebanon.

Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, menilai harga emas saat ini mendapat sedikit dukungan dari penurunan suku bunga di berbagai tenor, serta harapan meredanya ketegangan di Selat Hormuz.

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi pasar masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian.

Sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, harga emas telah turun sekitar 11%. Kenaikan harga minyak yang dipicu konflik tersebut turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Read Entire Article
Bisnis | Football |