Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia dan logam mulia berpotensi bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Sentimen ini menguat setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan pembicaraan selama 21 jam dengan Iran tidak membuahkan hasil. Iran disebut menolak syarat utama AS untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Kegagalan negosiasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas, termasuk risiko terganggunya jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan harga emas dunia berpotensi menguat jika terjadi perang darat.
"Kesepakatan gagal, rupiah melemah tajam, harga minyak terbang, karena selat Hormuz ditutup kembali. Kalau terjadi perang darat emas siap terbang,” ujarnya dalam pernyataan, dikutip Senin (13/4/2026).
Ibrahim menjelaskan pada Sabtu 11 April 2026, emas ditutup di level USD 4.749 per troy ounce, sementara logam mulia berada di Rp 2.860.000 per gram. Ia menjelaskan, apabila terjadi koreksi, harga emas dunia berpotensi turun ke level USD 4.638 per troy ounce, dengan logam mulia di kisaran Rp 2.840.000 per gram.
Dalam skenario penurunan lebih lanjut selama sepekan, emas bahkan bisa melemah hingga USD 4.358 per troy ounce dan logam mulia ke Rp 2.780.000 per gram.
Sebaliknya, jika sentimen pasar mengarah positif, harga emas berpeluang naik dengan resisten di USD 4.897 per troy ounce. Kenaikan tersebut dapat mendorong logam mulia ke Rp 2.880.000 per gram.
"Kemudian, dalam sepekan, sampai Sabtu pagi, kemungkinan besar harga emas dunia itu akan melompat di atas USD 5.000. Ya, di atas USD 5.000, yaitu di USD 5.138. Logam mulianya di Rp 3.100.000 per gram. Jadi, ada kemungkinan besar ke Rp 3.100.000 per gram,” jelasnya.
Ibrahim menambahkan, dinamika geopolitik akan menjadi faktor utama pergerakan harga emas. Kegagalan kesepakatan antara AS dan Iran berpotensi menekan nilai tukar rupiah, mendorong harga minyak naik, serta meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas, terutama jika konflik bereskalasi menjadi perang terbuka.
Pelaku Pasar Kembali Lirik Logam Mulia, Harga Emas Bisa Tembus Level Tinggi
Sebelumnya, survei mingguan emas terbaru dari Kitco News menunjukkan bahwa pelaku pasar, baik dari Wall Street maupun Main Street, mulai kembali melirik emas. Hal ini terjadi setelah adanya gencatan senjata selama dua pekan terkait konflik Iran, serta tren kenaikan harga emas selama tiga minggu berturut-turut.
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, memperkirakan harga emas akan terus naik meski bergerak tidak stabil.
“Emas perlahan terus menguat. Pergerakannya memang tidak merata, tetapi saya percaya kita sudah melihat titik terendah pasca pemboman Iran,” ujarnya dikutip dari Kitco, Senin (13/4/2026).
Ia juga menyoroti faktor lain yang memengaruhi harga emas, yakni penjualan emas oleh Turki dalam jumlah besar.
Menurut Day, saat ini emas berada dalam kondisi yang menguntungkan.
“Jika gencatan senjata bertahan dan tercapai kesepakatan, maka faktor moneter akan kembali dominan. Namun jika konflik kembali memanas, peran emas sebagai aset safe haven akan kembali menguat,” jelasnya.
Analis Berbeda Pendapat, Harga Emas Dinilai Sulit Diprediksi
Namun, tidak semua analis sepakat bahwa harga emas akan terus naik. Analis pasar senior di Barchart.com, Darin Newsom, justru melihat potensi pelemahan dalam jangka pendek.
“Dalam jangka pendek, kontrak berjangka Juni tampaknya mendekati puncak, sehingga momentum bisa berbalik turun,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa analisis teknikal saat ini kurang dapat diandalkan. Sementara itu, faktor fundamental menunjukkan bank sentral global masih terus membeli emas akibat ketidakstabilan global.
Pandangan lebih optimistis disampaikan oleh Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan.
“Saya masih percaya penurunan harga emas sebelumnya terlalu berlebihan. Kita berpotensi menuju level USD5.000 bahkan lebih,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, retaknya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat atau Israel dapat memicu tekanan harga emas dalam jangka pendek.
Emas Bergerak Sideways, Risiko Stagflasi Menguat
Kepala strategi pasar SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menilai harga emas saat ini cenderung bergerak dalam rentang tertentu (sideways) setelah reli besar sebelumnya.
Menurut dia, emas kini bergerak di kisaran USD4.400 hingga USD5.200.
“Setelah lonjakan besar, wajar jika terjadi koreksi dan konsolidasi. Saat ini kita berada di tengah rentang tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa arah harga emas sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik yang berubah cepat.
“Kondisi saat ini membuat pergerakan harga sulit diprediksi. Bahkan pernyataan saja bisa langsung menggerakkan pasar,” katanya.
Dari sisi inflasi, Cieszynski menilai kenaikan harga emas sebelumnya sudah mencerminkan ekspektasi inflasi yang tinggi. Namun, ia juga mengingatkan potensi risiko stagflasi yang semakin meningkat akibat gangguan di pasar energi.
Dalam survei tersebut, sebanyak 50% analis Wall Street memperkirakan harga emas akan naik dalam waktu dekat. Sementara itu, 63% investor ritel juga optimistis terhadap kenaikan harga emas pekan depan.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih memilih bersikap netral karena tingginya ketidakpastian global yang memengaruhi arah pergerakan emas.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236699/original/071170200_1748516063-20250529-Harga_Pangan-ANG_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1400474/original/063702300_1478686860-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-04.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553848/original/043434500_1776050782-Materi_2__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4805341/original/055600100_1713432002-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5255248/original/028444300_1750153123-kapal__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5297809/original/096020600_1753695872-0fe31eaa-6209-4c44-b263-d7fe8390b24a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5043925/original/065309500_1733822724-20241210-Bus_Transjakarta-HER_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5056333/original/096672500_1734514669-20241218-Pengecekan_Kereta-HER_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553522/original/091082200_1775981054-gabah2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457547/original/055326500_1767005788-1__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3458470/original/028995200_1621321945-20210518-Harga-Emas-Antam-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4059231/original/044001300_1655788404-AP22167561965695.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1547196/original/097753400_1490431128-AP17084067728968.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506196/original/024013300_1771411729-Buka_Puasa_LRT.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361596/original/000746300_1758788384-eliano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219631/original/022997400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3324618/original/083189900_1608026626-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5031435/original/074222000_1733074128-AP24336517258860.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494532/original/088044000_1770295769-0L5A4471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4156441/original/068897800_1663062670-Emas5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482252/original/052974900_1769168891-publikasi_1769163600_69734b50b3a7d.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467577/original/035269700_1767923184-AP26008792900594.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473020/original/097246400_1768383522-1000205954.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479679/original/084946100_1768985177-WhatsApp_Image_2026-01-21_at_15.06.31.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468956/original/040478600_1768038807-Al-Nassr_Cristiano_Ronaldo-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456037/original/093352400_1766787645-G9HzWs2WgAAhOsG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456032/original/033890000_1766784357-Manchester-United-Newcastle-lisandro-martinez-sandro-tonali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456401/original/043486900_1766869079-andrea-cambiaso-juventus.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3149800/original/042221500_1591853664-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-2.jpg)

